.

CONTOH MAKALAH : Teori-teori Keadilan Ekonomi Kontemporer dan Prinsip-prinsip Alternatif Ekonomi (Prinsip-prinsip Keadilan dalam Konsumsi)

sebelumnya | CONTOH MAKALAH : Teori-teori Keadilan Ekonomi Kontemporer dan Prinsip-prinsip Alternatif Ekonomi (Prinsip-prinsip Keadilan dalam Produksi)


c.  Prinsip-prinsip Keadilan dalam Konsumsi
Produksi dan konsumsi adalah dua aspek ekonomi yang berpasangan. Dalam ilmu ekonomi, konsumsi adalah permintaan (demand), sedangkan produksi adalah penawaran (supply).  Konsumsi adalah tahapan terakhir dan terpenting dalam produksi kekayaan. Konsumsi merupakan tujuan dari semua aktivitas produksi. Kekayaan diproduksi hanya untuk dikonsumsi.  Kekayaan yang diproduksi sekarang akan dikonsumsi besok.
Konsep tentang konsumsi dalam al-Qur’an tersurat dalam ungkapan infaq. Kata ini dalam berbagai bentuknya tersebut sebanyak 71 kali dalam al-Qur’an. Infaq adalah suatu   tindakan membelanjakan harta untuk kepentingan diri sendiri, untuk keperluan orang lain dan untuk kebutuhan sosial suatu komunitas dalam rangka  meraih keridhoan Allah.
Secara fundamental prinsip keadilan ekonomi dalam al-Qur’an mengambil posisi berbeda dalam hal konsumsi dengan pendekatan ekonomi Libertarian. Perbedaannya terletak pada cara atau pendekatan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.  Keadilan ekonomi dalam al-Qur'an tidak menghendaki dan mengakui  pola konsumsi yang murni materialistik. Semakin  tinggi manusia menaiki tangga peradaban, konsumsi lebih dibayang-bayangi oleh keinginan-keinginan psikologis. Selera artistik, gaya hidup snobbish (bergelimang kemewahan), dorongan untuk pamer  -- semua faktor psikologis ini memainkan peran yang sangat dominan  dalam menentukan bentuk-bentuk lahiriah konkret dari keinginan-keinginan psikologis tersebut.[1] Peradaban modern telah menghancurkan kesederhanaan; peradaban materialistik mewarnai kesenangan yang terus membuat keinginan-keinginan manusia menjadi sangat bervariasi dan banyak dan kesejahteraan ekonomi hampir hanya diukur  dari berbagai karakter keinginannya itu yang diupayakan untuk dicapai melalui sarana-sarana  tertentu.
Cara pandang tentang kehidupan dan kemajuan  ini berseberangan dengan konsepsi al-Qur’an.  Etika keadilan al-Qur’an berusaha mereduksi kebutuhan material manusia yang eksesif dengan maksud untuk menekankan energi spiritual manusia dalam pencarian duniawi. Pertumbuhan batiniah lebih dari sekadar ekspansi lahiriah merupakan ideal tertinggi manusia dalam hidup ini. Kemajuan tidak semata diukur dari standar hidup yang tinggi yang berimplikasi pada perluasan keinginan secara tanpa batas, sehingga meningkatkan ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dicapai. Kepuasan bukan semata tingkat konsumsi tertinggi sebagaimana diyakini oleh Teori Pertumbuhan Ekonomi yang secara prinsip mengadopsi keadilan Libertarian.
Sejak awal al-Qur'an memberikan kebebasan memilih (freedom of choice) pada semua orang  untuk mengonsumsi segala sesuatu yang menyenangkan dan disukai, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sosial tradisional dan perbedaan temperamental mereka.  Al-Qur'an hanya memberikan rambu proporsionalitas berupa perilaku tengah-tengah dalam konsumsi[2] – antara asketisme yang sembunyi dari kesenangan dunia di satu sisi, dan materialisme yang membenamkan manusia dalam kesenangan inderawi dan hedonisme kehidupan; tidak melampaui batas maksimal (berlebihan, boros, dan mewah) atau batas minimal (kikir dan bakhil); keterbatasan sumber daya ekonomi (untuk memenuhi keinginan) merupakan pertimbangan utama bagi efisiensi dan prioritas (awlawiyah) dalam pemenuhan kebutuhan berdasarkan preferensi daruriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat.[3].
Membelanjakan kekayaan untuk kebutuhan dan keinginan pribadi bukanlah hal buruk sejauh kebutuhan dan keinginan itu  tidak akan membahayakan kelangsungan (sustainability) hidup dirinya dan masyarakat umumnya. Memenuhi dan memanfaatkan kebutuhan pribadi harus berada dalam kerangka dan batasan-batasan tertentu agar konsumsi  atas sumber daya tidak melanggar "rambu-rambu ekologis dan kemanusiaan" dan menjamin keberlangsungan masa depan. Konsumsi  tidak semata berorientasi keduniaan dan berjangka pendek, namun juga untuk memastikan kehidupan jangka panjang dengan bekerja untuk kesejahteraan ekologis dan kemanusiaan melalui suatu pengurangan dalam pemborosan dan konsumsi yang tidak penting meskipun ia memiliki kekayaan yang cukup untuk mendapatkannya.
Perilaku konsumsi harus berpijak pada prinsip keselamatan, yakni sustainability dan investasi masa depan secara kontinyu. [4] Untuk itu, al-Qur’an menegaskan dalam beberapa ayatnya tentang berjuang untuk kesinambungan generasi dan masa depan, [5] kemakmuran bumi (`isti`mar fi al-ard)  dan, sekaligus larangan melakukan kerusakan atas lingkungan (fasad fi al-ard, `ayth fi al-ard).[6] Inilah yang dimaksud sebagai prinsip solidaritas kemanusiaan dan lingkungan (h}ifz al-bid’ah).

Perilaku konsumsi dalam konteks al-Qur'an mempunyai hubungan erat dengan komitmen rasional dan moral. Al-Qur'an menggarisbawahi cara memanfaatkan dan mengeluarkan kekayaan dibangun atas fondasi nilai keadilan. Ada perbedaan mendasar antara Prinsip Libertarianisme yang menjadi falsafah Kapitalisme, dan anak kandungnya Sosialisme yang mendasarkan diri pada Prinsip Egalitarianisme Radikal, dengan prinsip al-Qur'an. Perilaku konsumen menurut Kapitalisme bersumber dari "rasionalisme ekonomi" dan Prinsip Utilitarianisme (Prinsip Berbasis Kesejahteraan). Rasionalisme ekonomi menafsirkan perilaku manusia berdasarkan pada kalkulasi kaku yang diarahkan semata untuk keberhasilan ekonomi. Keberhasilan ekonomi dimaknai secara definitif sebagai menciptakan uang dari manusia. Perolehan kekayaan apakah dalam bentuk uang maupun komoditas, merupakan tujuan utama kehidupan. Sementara Prinsip Utilitarianisme berfungsi sebagai sumber nilai-nilai dan sikap moralnya. "Kejujuran hanya bermanfaat bila dapat memastikan kredit atau keuntungan, sehingga bersifat tetap dan  industrial."[7]  Dualitas yang memunculkan perilaku konsumen ini menitikberatkan pada maksimalisasi utilitas  sebagai tujuan utama konsumsi. Utilitas harus dimaksimalkan sebagai bagian dari manifestasi homo-economicus yang tujuannya adalah mencapai tingkat tertinggi perolehan ekonomi dan stimulusnya adalah sense of money.

Tabel 4
Perbandingan Teori Konsumsi dan Implikasinya
Teori
Prinsip
Implikasi
Libertarianisme
·      Motif: murni materialistik, memuaskan keinginan tanpa batas
·      Tujuan: pertumbuhan ekonomi
·      Kebebasan: manusia bebas mempergunakan kekayaannya tanpa seorang pun berhak intervensi kecuali atas seijin pemiliknya
·      Tingkat konsumsi tertinggi memola dan mendorong gaya hidup snobish, hedonistik;
·      mindless consumerism (pemilikan atas hubungan/relasi sosial);
·      eksploitasi tanpa batas atas sumber daya  alam dan lingkungan
Prinsip Berbasis Sumber Daya
·      setiap orang  tidak boleh merasakan penderitaan akibat lingkungannya;
·      setiap orang yang memilih bekerja keras untuk memperoleh pendapatan lebih besar tidak dikehendaki untuk menyubsidi atau membantu mereka yang kurang pendapatannya
Menunjukkan sikap asosial terhadap kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar
Etika al-Qur’an
·         Motif: energi spiritual dalam pencarian duniawi, memenuhi kebutuhan dan keinginan rasional
·         Tujuan: Pertumbuhan batiniah lebih dari sekadar ekspansi lahiriah merupakan ideal tertinggi manusia dalam hidup ini
·         Hierarki dan Prioritas:  cara bagaimana sumber daya dapat dikonsumsi secara proporsional dan menurut tingka keutamaannya
·         Hifz al-bi’ah: Solidaritas sosial dan lingkungan
·         Proporsionalitas: sikap tengah-tengah antara asketisme yang sembunyi dari kesenangan dunia dan materialisme yang membenamkan manusia dalam kesenangan inderawi dan hedonisme kehidupan; menumbuhkan empati terhadap yang kurang beruntung;
·         antisipatif dan responsif atas terjadinya ancaman kelangkaan sumber daya alam dan kemerosotan lingkungan

Al-Qur'an menawarkan satu bentuk rasionalitas lain yang bertumpu pada tiga hal pokok. Pertama, berbasis pada tauhid dan keyakinan akan hari keadilan – interrelasi erat kehidupan dunia dan akhirat—mempunyai dua akibat: (1) hasil dari pilihan tindakan manusia berakibat langsung di dunia (ajr al-dunya) dan  di akhirat (ajr al-akhirah),[8] karena itu utilitas yang berasal dari pilihan tindakan tersebut merupakan totalitas nilai dari dua akibat di atas;   (2) sejumlah alternatif penggunaan pendapatan ditingkatkan dengan memasukkan semua keuntungan yang hanya didapat pada hari akhir (ajr al-akhirah).[9] Alternatif penggunaan itu antara lain untuk memberikan bantuan secara cuma-cuma orang miskin dan membutuhkan, memelihara binatang, menabung untuk kesejahteraan generasi mendatang dan memperbaiki kehidupan komunitas yang balasannya tidak bersifat langsung bagi individu.
Kedua, keberhasilan dalam al-Qur'an dimaknai sebagai "perkenan Allah" dan bukan akumulasi kekayaan. Penggunaan sumber daya alam dan sumber daya manusia bukan hanya keistimewaan, namun juga kewajiban dan tugas khalifah yang dipersembahkan pada Allah.[10] Oleh karena itu, kemajuan dan kesempurnaan material  berada dalam nilai-nilai moral. Ketiga, harta apakah dipandang sebagai kekayaan atau pendapatan, adalah karunia Allah.[11]


[1] M.A. Mannan, Islamic Economics: Theory and Practice (Delhi, Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1980), hlm. 79.
[2] al-Furqan 25:67.
[3] Lihat al-Ghazali dalam al-Mustasfa fi `Ilm al-Usul (T.tp.: Dar al-Fikr, t.th.) dan Imam al-Shatibi dalam al-Muwafaqat fi Usul al-Ahkam (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.).
[4] al-H}ashr 59:18.
[5] al-Nisa’ 4:9.
[6] al-Ma’idah 5:32; lihat juga al-Baqarah 2:251, dan 220.
[7] Monzer Kahf,"A Contribution to the Thery of Consumer Behavior in an Islamic Society", dalam Khurshid Ahmad, ed. Studies in Islamic Economics…hlm. 21-22.
[8] QS. al-Baqarah 2:261.
[9] QS. Maryam 19:31-33.
[10] QS. al-Mulk 67:15.
[11] QS. al-Baqarah 2:265.