.

Desain Pengembangan Kurikulum PT (Perguruan Tinggi)

sebelumnya | Keterkaitan Antara Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
 

Desain Pengembangan Kurikulum PT
oleh: Wachyu Sundayana
       Desain kuirikulum  merujuk kepada penyusunan atau organisasi  elemen-elemen kurikulum yang menyangkut: (1) Tujuan umum dan khusus; (2) isi program; (3) kegiatan peserta didikan; dan (4) evaluasi (Zais dalam Print, 1993:94) Pemilihan desain kurikulum sangat bergantung pada berbagai hal, seperti landasan kurikulum yang menyangkut aspek-aspek, antara lain  psikologi, filsafat, sosial-kultural, ekonomi, dan politik; dan keharusan melihat faktor-faktor kontekstual tujuan pendidikan dilihat dari sisi-sisi tersebut. Khususnya, untuk kurikulum pendidikan bahasa landasan tersebut menyangkut, antara lain, teori kebahasaan (linguistics), teori belajaran bahasa (language learning theories), psikolinguistik, dan sosiolinguistik.
       Secara umum terdapat  empat desain kurikulum yang mencakup:

·        desain yang berpusat pada bidang kajian (subject-centered designs)
·        desain yang berpusat pada peserta didik (learner-centered designs)
·        desain yang berpusat pada masalah (problem-centered designs)
·        desain inti (core designs)

1. Desain yang Berpusat Pada Bidang Kajian (subject-centered designs)
      
       Desain ini didasarkan pada pengelompokkan dan organisasi bidang kajian secara terpilah-pilah atau terkelompok dalam bidang kajian atau mata kuliah. Desain ini menekankan pada pemerolehan bidang keilmuan dan isi kirikulum terstruktur secara bertahap seperti dalam matematika, biologi, atau bahasa. Desain ini mencakup: (1) desain disiplin akademis (academic disciplines design) dan (2) desain pengelompokan bidang keilmuan (broad field design).

       Desain  disiplin akademis menekankan pada keterpilahan disiplin ilmu dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan nilai. Organisasi kurikulum dalam desain ini mengikuti cara kerja akademisi dan disiplin keilmuan. Oleh karenannya, isi kuriklulum akan memusatkan pada bagaimana ilmuwan berkerja , seperti ahli biologi, sejarawan, dan ahli bahasa. Cara berpikir, cara kerja, dan penelitian yang ada dalam disiplin ilmu sangat kental mewarnai desain kurikulum ini. Kurikulum yang dikembangkan  harus dapat membekali peserta didik dengan struktur keilmuan, yakni hubungan antara gagasan, konsep dan prinsip termasuk integrasi keterampilan dan nilai yang melakat pada disiplin keilmuan.

     Desain kurikulum berdasarkan pengelompokkan bidang keilmuan dikembangkan untuk menutupi kelemahan pada desain pertama, desain disiplin akademis. Dalam desain broad field, disiplin ilmu seperti bilogi, kimia, fisika dikelompokkan ke dalam  pembidangannya yang lebih luas sebagai Ilmu Pengetahuan Alam (Science); Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi ke dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies); Membaca, Menulis, Berbicara, Mengeja ke dalam Bahasa (Language Arts). Desain terpadu ini dipandang lebih sesuai bagi jenjang pendidikan dasar, sementara desain yang terpilah-pilah seperti pada desain disiplin akademis lebih sesuai bagi jenjang pendidikan menengah dan tinggi.
     

2. Desain yang Berpusat Pada Peserta didik (Lerner-centered Designs)

        Desain ini menekankan pada perkembangan individu peserta didik serta pendekatan dalam organisasi kurikulum yang bergerak dari minat dan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, terdapat dua perbedaan mendasar antara desain ini dengan desain sebelumnya, desain yang berpusat pada bidang studi. Pertama, dalam desain yang berpusat pada peserta didik organisasi kurikulum beranjak dari minat dan kebutuhan peserta didik, bukan dari bidang studi. Kedua, karena berfokus pada minat dan kebutuhan peserta didik, desain ini lazimnya tidak statis dan ditentukan sejak awal (preplanned). Ia bergerak dinamis sejalan dengan interaksi guru/dosen-peserta didik dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran (learning tasks) yang juga bergerak sejalan dengan minat dan kebutuhan peserta didik.

      Desain yang berpusat pada peserta didik mencakup dua jenis: (1) desain berdasarkan penglaman/kegiatan (activity/experience design);  dan (2) desain humanistik (humanistic design).

a. Desain Berdasarkan Kegiatan/Pengalaman.

       Desain ini didasarkan pada pandangan bahwa “ Orang belajar melalui apa yang mereka alami… Belajar dalam pengertian sebenarnya adalah suatu transaksi aktif” (lihat Taba, 1962:401).  Karena itu, ciri yang pertama dari desain ini adalah adanya transaksi atau negosiasi antara guru/dosen dan peserta didik dalam memetakan minat dan kebutuhan peserta didik. Peran guru/dosen dalam kaitan ini adalah mengembangkan kemampuan yang sejalan dengan minat dan kebutuhan peserta didik dan mengembangkan kurikulum disekitar ini.
     Ciri lain dari desain ini adalah kurikulum kurang mencakup mata-mata kuliah yang formal. Ciri terakhir adalah pengetahuan dan keterampilan diajarkan bila peserta didik membutuhkannya.
    
b.  Desain Humanistik

     Desain ini hampir sama dengan desain berdasarkan pengalaman yakni menekankan pada kebutuhan individu peserta didik dalam lingkungan yang lebih kondusif dan mendukung. Desain  humanistik  bertujuan membekali peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang secara intrinsik bermanfaat bagi pengembangan diri peserta didik, antara lain, memperkuat konsep-diri melalui penciptaan pengalaman belajar yang mendukung.


3. Desain yang berpusat pada Masalah (Problem-Centered Designs) 

        Desain kurikulum yang berpusat pada masalah mengarahkan peserta didik pada kemampuan dalam memecahkan masalah kehidupan baik yang dihadapi oleh dirinya dan masyarakatnya. Oleh karena itu, berbagai isu atau masalah yang dihadapi individu peserta didik dan masyarakat seperti masalah lingkungan, perdamaian, berbagai situasi yang dihadapi peserta didik termasuk ke dalam tema-tema dalam kurikulum dengan desain ini. Terdapat dua jenis desain yang tercakup ke dalam desain yang berpusat pada masalah, yakni: (1) Desain Tematik/Topik, dan (2) Desain berdasarkan Masalah.

a.  Desain Tematik

     Pikiran yang melandasi desain ini adalah kurikulum harus memberikan pengalaman belajar yang mencerminkan kehidupan nyata  yang bermakna dan berguna bagi peserta didik. Dan untuk itu berbagai tema yang dihadapi dalam kebidupan individu peserta didik dan masyarakat baik dalam konteks lokal, regional dan global harus tercakup dalam kurikulum. Oleh karena itu, tema-tema dapat diambil dari lingkungan terdekat dengan peserta didik dan  berbagai bidang studi yang memiliki keterkaitan dengan kenyataan yang dihadapi peserta didik. Bila tema diambil dari bidang studi lazimnya bersifat terpadu (integrated). Misalnya, tema lingkungan dapat berkaitan dengan biologi, sejarah, geografi, dan Bahasa Inggris. Desain tematik ini karena sifatnya yang terpadu sangat sesuai diterapkan dalam pengembangan kurikulum di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

  b. Desain Berdasarkan Masalah

Desain ini beranjak dari pandangan bahwa peserta didik harus dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan nyata agar dapat memahami dunianya. Sebagaimana desain tematik, desain ini menonjolkan kebermakanaan sebagai basis bagi desain kurikulum agar apa yang tercakup dalam kurikulum dipandang relevan. Perbedaan yang ada dengan desain tematik terletak pada pengidentifikasian, penanganan, dan pemacahan berbagai masalah. Melalui proses ini, peserta didik akan beroleh pengalaman belajar bermakna dan dapat lebih berperan dalam masyarakat. Oleh karena itu, desain ini menekankan pada pemecahan masalah yang relevan bagi kehidupan nyata yang dihadapi peserta didik dan masyarakatnya. 
  
         Desain ini lebih sesuai untuk diterapkan pada berbagai kurikulum berbasis keterampilan bagi kehidupan (life-skills curricula) yang banyak dikembangkan dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ini dapat pula diterapkan pada
jenjang PT.

  4. Desain Kurikulum Inti (Core learning designs)
 
     Perkembangan desain ini sejalan dengan adanya kebutuhan bagi terbentuknya kurikum nasional sebagai salah satu upaya dalam menciptakan standarisasi dalam bidang pendidikan. Dalam konteks pengembangan kurikulum PT di Indonesia, desain Kurikulum Inti (KI) kerap identik dengan Kurikulum Nasional (Kurnas). Dalam kaitan dengan pengembangan kurikulum, perencanaannya bersifat disentralistik, Kurna merujuk pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

    KI dalam konteks kurikulum PT mencakup sejumlah bidang kajian/mata kuliah (mencakup pengetahuan/keahlian, keterampilan, dan nilai) yang dipandang pokok dan penting sehingga harus diberikan kepada semua peserta didik/mahapeserta didik agar mereka dapat berperan secara efektif dalam masyarakat. Untuk memetakan apa yang pokok dan penting itu, beberapa pertanyaan berikut harus dipertimbangkan dalam menentukan apa yang inti dalam desain kurikulum ini.

- Apa sajakah (mata kuliah apa) yang dimasukan kedalam KI ?
- Seberapa luas cakupan KI ( misalnya dalam bentuk persentase) dari keseluruhan  
   isi kurikulum?
- Apa sajakah yang harus dikecualikan dari KI?
- Apakah KI diharuskan bagi seluruh peserta didik?

     Dalam perkembangan kurikulum PT, khususnya kurikulum berbasis kompetensi, KI harus mengacu kepada pemetaan kompetensi utama yang diperlukan oleh lulusan suatu program studi. Karena itu dari sisi desain, kurikulum PT yang berbasis kompetensi (dengan acuan Kepmendiknas 045/U/2002 tentan Kurikulum PT) harus menganut desain gabungan sejalan dengan tujuan masing-masing kelompok kajian/mata kuliah sebagaimana diatur dalam Pedoman Penyusunan Kurikulum PT (Kepmendiknas No. 232/U/2000).