.

Belajar Dari Umar Bin Khatab Dan Umar Bin Abdul Aziz Dalam Pemberantasan Korupsi



korupsi, pemberantasan korupsi, kpk, hukum untuk korupsi, korupsi makin merajalela, pengertian korupsi, artikel tentang korupsi, makalah tentang korupsi,
Salah satu tokoh teladan yang bisa dijadikan contoh bagi upaya pemberantasan korupsi adalah Umar bin Khattab. Beliau adalah khalifah kedua dalam sejata Islam yang pertama kali membentuk lembaga pengawas harta pejabat. Menurut sejarah, ia telah memerintahkan pencatatan harta pejabat secra terbuka dan mengangkat Muhammad bin Maslamah sebagai pejabat pengawas. Imam Jalaluddin as-Suyuhi dalam bukunya Tarikh al-Khulafa’ menyebutkan bahwan Umar memerintahkan Maslamah membagi dua kekayaan pejabat yang tak wajar. Di antara yang kemudian tercatat oleh Maslamah adalah nama-nama pejabat seperti Gubernur Bahrain Abu Hurairah, Gubernur Mesir Amru bin Ash, Gubernur Iraq Nu’man bin Adi, Gubrnur Mekkah Nafi’ bin Ammar al-Khuza’I, Gubernur Syam Khalid bin Walid. Hal ini dilakukan Umar karena dia menduga bahwa penguasa berpeluang mendapatkan “rejeki” di luar kewajaran. Jika tak terbukti melakukan korupsi, di akhir masa jabatannya harta pejabat tersebut dibagi menjadi dua, separuh dikembalikan kepada Negara dan separuhnya yang lain dikembalikan kepadanya. Namun jika harta itu didapatkan dari korupsi maka harta tersebut dikembalikan seluruhnya kepada Negara.

Sebagaimana dikemukakan Husein Haikal, Umar bin Khattab juga melakukan pemberantasan korupsi secaara tekun dan berkelanjutan. Pada setiap musim haji, beliau mengumpulkan para pejabatnya di Mekkah. Dia menanyai mereka mengenai tugas-tugas yang mereka jalankan dan menanyakan tentang mereka kepada rakyatnya yang dating menunaikan ibadah haji untuk melihat keseriusan para pejabatnya dalam melaksanakan tugasnya dan mengetahui kebersihan mereka dalam menggunakan penghasilan untuk diri dan keluarga mereka. Yang pertama sekali didahulukan adalah kebersihan para pejabat tersebut. Oleh karenanya, sebelum memangku jabatannya semua harta calon pejabat dihitung. Kalau setelah itu mereka memilik kelebihan harta di luar gaji yang diperolehnya, maka hartanya patut diragukan dan segera diadakan pemeriksaan atas harta tersebut. Adakalanya harta itu dirampas dengan mengatakan  “ kami mengirimkan Anda sebagai pejabat bukan sebagai pedagang”  Umar bin Khattab dalam hal ini menjadikan ibadah haji untuk kepentingan memperbaiki Negara.

Keseriusan Umar bin Khattab melakukan control terhadap para pejabat di bawahnya merupakan konsekuensi dari visi kepemimpinannya yang menggambarkan adanya pemerintahan yang bersih dan Umar sendiri meminta dikontrol oleh rakyat pada saat dia diangkat sebagai kepala Negara. Semangat beliau dalam upayanya mencipakan pemerintahan yang bersih juga diikuti dengan tindakan tegas ang konsisten, yaitu merampas harta yang diperoleh dari hasil korupsi. Hal seperti ini misalnya dilakukan oleh Umar kepada Abu Sufyan yang membawa barang dan harta sepulang mengunjungi anaknya, Mu’awiyah.

Konsistensi Umar bin Khattab yang memiliki sifat antikorupsi juga tampak dalam kehidupan dirinya. Betapapun memgang jabatan sebagai khalifah, beliau sangat berhati-hati dengan harta Negara. Umar merupakan orang yang menggiring sendiri unta-unta Baitul Mal karena khawatir hilangnya harta rakyat tersebut. Ia jg khalifah yang menemani istrinya di akhir malam sambil memanggul sekantong tepung, segeriba air dan sebotol minyak samin untuk menolong seorang perempuan yang hendak melahirkan. Saat istrinya merawat perempuan tersebut, Umar memasak sendiri makanan bagi perempuan itu. Beliau juga seorang khalifahyang suatu kali dating terlambat sebagai khatib Jum’at karena jubah dengan 21 tambalannya masih basah karena dicuci. “Maaf saya terlambat karena kemeja ini, saya mesti menunggu kering karena saya tak memiliki kemeja yang lain,” ucapnya kepada hadirin.

Umar juga merupakan khalifah yang pernah menerima bingkisan berupa makanan lezat dari gubernurnya di Azerbaijan danbertanya kepada utusan yang mengirim makann tersebut, “Apakah ini makanan umum bagi rakyat di sana?”. Utusan itu menjawab, “Bukan, ini makanan kelas atas.” Maka umar pun berkata, “Mana untamu? Bawalah pemberian ini dan kembalikanlah kepada pengirimnya serta sampaikan pesanku kepadanya ‘Takutlah kepada Allah dan kenyangkanlah rakyat lebih dulu dengan makanan yang biasa kamu makan’.” Umar juga menolak hadiah berupa sajadah  yang diberikan salah seorang gubernurnya, yakni Abu Musa seraya melemparkannya ke muka Abu Musa, “Apa yang mendorongmu untuk memberi kami hadiah ini? Ambil kembali karena kami tidak memerlukannya!.”

Selain Umar bin Khattab,teladan mengenai pemberantasan korupsi juga bisa disimak dari kisah-kisah keteladanan Umar bin Abdul Aziz.18 Pada suatu malam ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bekerja serius untuk negaranya di salah satu bilik rumahnya, tiba-tiba putranya masuk untuk memperbincangkan suatu urusan yang berhubungan dengan keluarganya. Setelah putranya itu duduk di hadapannya, Umar bin Abdul Aziz memadamkan lampu yang terletak di meja kerja yang digunakan untuk menerangi bilik kerjanya itu. Putranya heran melihat sikap bapaknya tersebut dan bertanya, “Ayah! Kenapa lampu itu ayah padamkan? Bukankah kita lebih baik berbincang-bincang dengan lampu yang terang?”. Maka Khalifah Umar pun menjawab, “Benar kau ananda! Tetapi ananda harus ingat bahwa lampu yang sedang ayah pakai ini milik Negara . sementara persoalan yang hendak ananda sampaikan adalah masalah keluarga.”

Seketika kemudian khalifah pun memanggil pelayannya yang disuruhnya membawa lampu yang dimilikinya. Setelah lampu itu dibawanya, khalifah berkata kepada putranya, “Sekarang lamu yang baru kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita, minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silahkan kemukakan apa yang akan ananda sampaikan kepada ayah.”

Kisah tentang sikap tegas khalifah Umar bin Abdul Aziz ini merupakan contoh yang pantas dijadikan sebagai teladan bagi upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Kalau setiap pejapat memiliki sikap seperti Umar bin Abdul Aziz ini, tentu saja korupsi akan bisa diminimalkan.