.

Fungsi Agama Dalam Masyarakat Modern


 
            Agama, yang dalam bahasa Inggris disebut religion dan dalam bahasa Arab disebu din, secara sederhana mengandung makna: aturan, ketentuan, atau petunjuk yang wajib ditaati oleh pemeluknya demi mencapai kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan.
            Khusus mengenai makna yang terkandung dalam sebutan din untuk menunjuk kepada arti ”agama”, jika dimaknai melaui pendekatan kajian semantik, dapat dipahami sebagai : berutang, dekat, maupun rendah. Hal itu ditemukan apabila ditelusuri kata-kata yang terbentuk melalui susunan huruf-huruf yang membentuk lafaz din tersebut yaitu masing-masing : d, y, dan n. Dari ketiga huruf tersebut terbentuk kata-kata : daen (hutang); danaa’ (dekat); dan dani` (rendah atau hina).[1] Ketiga makna tersebut ada dalam pemahaman dan penghayatan terhadap makna din al-Iskam (agama Islam).  ”Berhutang”, mengandung penertian bahwa seseorang yang menganut agama menyadari bahwa keberadaannya dalam kehidupan tidak lain dari bukti kepemurahan Sang Pencipta Yang menjadikan, menghidupkan dan memeliharanya serta menunjukinya dalam kehidupan sehingga ia dapat mengetahui cara untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Karena adanya kesadaran tersebut, pemeluk agama merasa wajib bersyukur dengan jalan, antara melaksanakan ibadah ke pada Pencipta Nya.
            Lalu pengertian ”dekat”, ialah adanya kesadaran dari penganut agama tentang posisi kedekatan yang ia tempati di sisi kebesaran Tuhan (Pencipta) nya sehingga ia selalu optimis bahwa Tuhan Yang ia sembah itu tidak akan membiarkannya terlantar; selama ia memelihara ketaatan kepada Nya. Sedang pengertian ”rendah” atau ”huna”, menunjuk kepada derajat ”tingkat bawah” jika dibandingkan dengan kemuliaan dan kesempurnaan yang dimiliki oleh Sang Pencipta Yang memberikan tuntunan melalui ajaran agama kepada hamba-hamba Nya.
            Singkatnya, dengan memahami serta mentaati tuntunan agama, menusia akan memenuhi fungsinya sebagai khalifah (wakil, pemegang mandat) Tuhan di bumi dengan misi utama sebagai pengabdi, pengatur, pengendali, sekaligus sebagai pendorong bagi terwujudnya kemakuran hidup bagi seluruh penghuni jagat raya. Dan itulah maksud kedatangan Rasulullah Muhammad saw menyampaikan agama Islam sebagai Rahmatan lil­-’alamin.
            Di masa modern, yang ditandai dengan ketersediaan berbagai fasilitas hidup yang meungkinkan manusia, terutama yang mampu memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi, untuk mencapai kebutuhan utamanya dengan mudah, agama tetap diperlukan. Bahkan sebaliknya, mengabaikan tuntunan agama dalam kehidupan modern, akan berakibat munculnya mala petaka bagi umat manusia secara meluas sebab manusia-manusia-manusia modern, yang tanpa bimbingan agama, akan bebas mengikuti kecenderungan nafsu serta keinginan mereka;   sekalipun harus mengorbankan hak dan kepentingan pihak lain. Dan di sinilah letak penyebab timbulnya bencana bagi peradaban umat manusia sebagaimana mulai nampak sekarang terutama diakibatkan oleh penguasa produk teknologi canggih yang tidak taat terhadap nilai-nilai luhur dari ajaran agama yang diyakini sebagai tuntunan yang benar.
            Sepanjang masa keberadaan umat manusia, baik sebelum dan di zaman klasik, zaman pertengahan, maupun di era modrn seperti sekarang, agama tetap dibutuhkan demi menjaga keselamatan penghuni jagat raya terutama manusia sebagai pelaku budaya.  Paling tidak ada 7 (tujuh) nilai dasar yang diperjuangkan oleh agama – yang kesemuanya adalah merupakan misi utama ESQ Training yang digalakkan oleh ESQ Leadership Centre di bawah bimbingan Ary Ginanjar -- untuk diwujudkan dalam kehidupan modern sekarang dan ke depan agar tercipta harmonisasi dalam kehidupan. Ketujuh nilai dasar tersebut, masing-masing adalah : (1) Jujur ; (2) Tanggung jawab; (3) Visioner; (4) Disiplinn; (5) Kerjasama; (6) Adil; dan (7) Peduli.[2]
            Agama harus diberi fungsi sebagai ”lembaga konsultasi” oleh pelaku budaya dengan jalan menempatkan agama sebagai suber petunjuk yang memiliki nilai-nilai universal dan agung karena ajarannya diyakini sebagai bersumber zat yang Maha Transenden.


[1]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur`a, Jakarta, Lentera Hati, 1995, h. 87.
[2]Ary Ginanjar Agustian, The ESQ Way 165, Jakarta, ESQ Leadership Centre,  2007, h. 19.