.

Istilah-Istilah Utama dalam Teori Rogers | Psikologi Humanistik



Istilah-Istilah Utama dalam Teori Rogers

Terminologi berbeda digunakan untuk menguraikan berbagai  penekanan dari teori Rogers. Label yang biasanya digunakan, client- centered therapy[1] (juga person- centered therapy), menguraikan beberapa aspek sistem. Ini menandai, pertama, bahwa teori adalah satu terapi; yaitu, dirancang berguna bagi konselor yang berhubungan dengan permasalahan emosional dan tingkah laku. Kedua, label ini menyoroti perbedaan utama pendekatan ini dengan pendekatan lain dalam konseling, yakni, ini menunjukkan bahwa prosedur-prosedur konseling berputar di sekitar setiap individu. Hal itu mengusulkan client- centered berlawanan dengan terapi direktif. Peran konselor dalam terapi client- centered  tidak ditekankan; Ahli terapi, memberi nasihat atau pemecahan permasalahan klien, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga klien sendiri yang menggambarkan permasalahan mereka, bereaksi kepada mereka, dan bertindak terhadap solusi mereka. (Proses ini sebenarnya lebih kompleks dibandingkan yang nampak dari pernyataan- pernyataan  terdahulu; lihat Rogers, 1951, 1957.)
Istilah umum yang kedua dalam teori Rogers adalah fenomenologi[2], satu istilah yang menandakan perhatian terhadap dunia yang dirasa oleh individu, bukannya apa dunia itu sebenarnya. Para guru dan konselor tidak mengetahui betul pribadi setiap individu, dunia secara fenomenologi, catatan Rogers. Tetapi menjadi efektif, yakni mereka harus mencoba memahami. Maka, empati adalah karakterteristik penting dari pendidik humanistik manapun (Bozarth, 1997).
Label Rogers yang ketiga adalah humanisme[3]. Humanisme dalam literatur, filosofi, dan psikologi menurut sejarah terkait dengan nilai manusia, individualitas, dan hak setiap individu untuk menentukan tindakannya. Maka, pengembangan potensi manusia cenderung dinilai tinggi, sedangkan pencapaian tujuan materi tidak ditekankan. Dengan begitu, Rogers menguraikan aktualisasi diri sebagai akhir dari semua yang manusia kerjakan. Dorongannya terhadap terapi client- centered juga dapat dipertukarkan dengan penekanan para humanis dalam determinasi pribadi. Sesungguhnya, pertanyaan tentang determinasi pribadi berlawanan dengan kontrol eksternal, bersamaan dengan pertimbangan permasalahan secara praktis dan etis tentang penerapan pengetahuan behavior, sebagai subjek debat terkenal antara Rogers dan Skinner (1956).

=============================
Sumber: Mustolih Brs, (2007), Pendekatan-pendekatan Humanistik Dalam Pengajaran, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah-UNY. (pgmiunyb.files.wordpress.com/2007/10/result-psi.doc)


[1] Terapi c1ient- centered: tipe tentang hubungan pasien - konselor. Konselor (terapis atau psikiatris) tidak secara direktif menceritakan klien bagaimana mereka perlu bertindak melainkan mencoba untuk mengijinkan pasien untuk mengekspresikan diri mereka dan menemukan cara mereka sendiri dengan perilaku mereka sendiri. Pendekatan terapi ini secara umum berbandingan dengan terapi direktif. Diistilahkan juga terapi person- centered.  
Konseling: Tindakan memberi nasihat.
Terapi direktif: tipe tentang hubungan klien – konselor dimana konselor bertanggung jawab utama untuk mengarahkan perilaku klien.
[2] Fenomenologi: pendekatan yang terkait utama dengan bagaimana individu memandang dunia mereka sendiri. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap individu merasa dan bereaksi terhadap dunia dalam suatu cara yang unik dan ini merupakan fenomenologi pandangan dunia adalah penting untuk memahami perilaku individu.
[3] Humanisme: Satu orientasi psikologis dan filosofis terutama terkait dengan humanitas - yaitu, nilai- nilai sebagai individu dan proses- proses yang dipertimbangkan untuk membuat kita lebih manusiawi.
Aktualisasi diri: Proses atau tindakan menjadi dirinya, pengembangan kemampuan diri, keberhasilan seseorang sebagai kesadaran dari identitas seseorang; pemenuhan diri. Istilah ini adalah inti dari psikologi Humanistik.