.

Jenis-Istilah Korupsi Versi Islam



korupsi, jenis-jenis korupsi, korupsi menurut islam, istilah korupsi, koruptor, korupsi dalam islam, pandangan islam mengenai korupsi, artikel tentang korupsi, makalah tentang korupsi
Ada beberapa jenis-istilah yang digunakan oleh Islam untuk menyebut korupsi. Istilah-istilah tersebut adalah :

1.      Ghulul yang secara leksikal berarti pengkhianatan. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan perbuatan seseorang yang melakukan pengkhianatan dengan menggelapkan harta. Dalam QS Ali Imran ayat 161, kata “ghulul” digunakan dalam pengertian penggelapan harta rampasan perang sebelum harta tersebut didistribusikan. Deeb al-Khudrawi dalam kamus al-Alfazh al-islamiyah mengartikannya sebagai “stealing from the war booty before its distribution”. Ayat ini turun berkenaan dengan tuduhan orang-orang munafik terhadap Nabi bahwa belaiu telah mengambil harta rampasan berupa selimut merah yang biasa digunakan pada musim dingin. Ayat ini diturunkan untuk menolak tuduhan tersebut. Dalam konteks korupsi, ghulul merupakan jenis korupsi otogenik, yakni korupsi yang dilakukan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain.
Rasullullah sendiri kemudian memperluas makna ghulul pada beberapa bentuk :
a)  Komisi, yakni tindakan mengambil sesuatu penghasilan di luar gaji yang telah ditetapkan untuk jabatannya. Tentang komisi ini Nabi menyatakan “Siapa saja yang telah aku angkat dalam satu jabatan kemudian aku berikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya adalah korupsi (ghulul)” HR Abu Dawud
b) Hadiah, yakni pemberian yang diperoleh seseorang karena jabatan yang melekat pada dirinya. Mengenai hal ini Rasulullah SAW menyatakan “hadiah yang diterima para pejabat adalah korupsi (ghulul)”. HR Ahmad

2.      Risywah secara leksikal berarti upah, hadiah, pemberian atau komisi. Sedangkan secara terminologis berarti memberikan harta atau yang semacamnya untuk membatalkan hak milik pihak lain atau mendapatkan atas hak milik orang lain, atau dalam bahasa al-Shan’ani, “mempersembahkan sesuatu untuk memperoleh sesuatu”. Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki mengartikan suap dengan pemberian seseorang kepada seorang hakim atau orang lain dengan tujuan untuk memperoleh kepastian hukum atau hal-hal yang lain.
Al-Syaukani menyebut suap sebagai kebobrokan moral yang sangat luar biasa (ghayah al-suquth), karena bukan saja suap akan merugikan orang lain namun yang paling mengerikan adalah bahwa suap akan menghancurkan tata nilai dan sistem hukum. Rasulullah sendiri secara moral membenci tindakan suap ini dengan sabdanya “Allah melaknat orang-orang yang melakukan dan menerima suap” (HR Ibn Majah)
Al Qur’an menyebut istilah suap dengan “ad-Dalw” yang diartikan sebagai memperoleh harta dari orang lain dengan jalan suap. Dalam QS Al-Baqarah : 188 kalimat “la tudlu biha ila al-hukkam”. Dalam ayat tersebut diartikan oleh Al-Zamakhsyari sebagai larangan membawa urusan harta kepada hakim dengan maksud untuk memperoleh harta dari orang lain dengan cara suap menyuap. “Janganlah kamu memakan harta orang lain dengan Jalan suap-menyuap”.

3.     Al-Suht yang secara leksikal berarti membinasakan dan digunakan untuk melukiskan binatang yang sangat rakus dalam memperoleh makanan. Seseorang yang melahap harta dan tidak perduli dari mana harta tersebut didapat, ia disamakan dengan binatang yang melahap segala macam makanan yang akhirnya membinasakannya. Dalam QS Al Maidah:42, kata “al-suht” diartikan dengan suap. Para mufassir pun seperti al-Zamakhsyari, al Maraghi, al-Qurtubi dan Ibnu Katisr cenderung mengartikan kata “al-suht” ini sebagai suap. Menurut Ibnu Mas’ud, “al-suht” adalah seseorang datang menemui saudaranya dengan satu kepentingan, lalu ia memberi hadiah kemudian orang itu menerimanya. Hamka memberikan penjelasan, bahwa harta sogokan dinamai suap karena jika sudah dsuapi mulut orang akan terkatup dan tidak mampu mengeluarkan kalimat apapun, sehingga mulut mereka dianggap membisu karena tidak berani menegur yang salah dan menegakkan hukum keadilan.

4.      Al-hirabah yang berarti merampas harta orang lain. Kata “yuharibuna” dalam QS al-Maidah: 33 dimaknai sebagai aksi hirabah atau perampasan ini. Aksi hirabah dapat dilakukan oleh seseorang atau segerombolan orang untuk melakukan kekacauan, pembunuhan, perampasan harta yang secara terang-terangan mengganggu keamanan dan ketertiban sosial.Sebagian ahli fiqh menyebut pelaku hirabah sebagai “qathi’u al thariq” atau penyamun dan “al-syariqa al-kubra” atau pencurian besar. Korupsi yang dilakukan dengan cara paksa seperti pungutan liar, meminta komisi, jasa perantara, menerima hadiah, uang pelicin dan lain-lain dikategorikan ke dalam istilah ini.

5.      As-Saraqah yang berarti mengambil harta orang lain secara rahasia dan melawan hukum. Mengambil harta secara tersembunyi sendiri tentu bisa berkembang modus operandinya, bisa dengan penggelapan, penggelembungan harga, pungutan secara tidak resmi, pencurian karya cipta, plagiat dan lain sebagainya. QS Al-Maidah:38 berkaitan dengan hukuman bagi para pencuri ini, yakni potong tangan.

6.     Ghasab berarti merampas harta orang lain dengan cara zhalim atau mengambil hak orang lain yang berharga dan berniat mengembalikannya. Meskipun berniat mengembalikan harta yang dikorupsinya, seorang yang melakukan korupsi tetap saja disebut sebagai koruptor

7.     Khasi dan Bakhs yang berarti melakukan kecurangan sehingga merugikan orang lain sebagaimana terdapat dalam QS al-Muthafifin :1-3 dimana Tuhan mengancam orang yang berbuat curang dalam melakukan penimbangan, atau QS al-Syu’ara:183 yang melarang manusia berbuat kecurangan yang bisa merugikan orang lain.