.

Menengok Puritanisme-Sufisme-Tarekat Dalam Masyarakat Modern


Puritanisme
            Term puritanisme (paham atau gerakan yang bertujuan untuk memurnikan ajaran agama dari perlakuan yang menyimpang baik dalam bidang keimanan, maupun dalam pelaksanaan ibadah). Pada awalnya gerakan ini dimunculkan oleh penganut agama Kristen Protestan di Inggris yang menolak sistem yang berlaku di kalangan pengikut gereja Roma Katholik di bidang-bidang upacara trsdisional, formalitas stelsel kekuasaan, dan juga organisasi kepemimpinan.[1]
            Khusus dalam sejarah perjalanan dan perkembangan Islam, paham puritanisme mulai dikenal melalui gerakan pemurnian aqidah (keyakinan) yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703 – 1787) dari Nejed, Saudi Arabia. Beliau adalah pelanjut cita-cita dan ajaran pemurnian aqidah tawhid yang telah dirintis kedua pendahulunya yaitu Ibnu Taimiyah (w. 728 H./1328 M.) dan muridnya : Ibnu Qayyim al-Jawziy (751 H / 1350  H.).[2]
            Menurut Abdul Wahhab, kemurnian paham tawhid  umat Islam telah dirusak oleh ajaran-ajaran yang berasal dari luar; atau bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri. Contohnya, antara lain, pemujaan terhadap pimpinan tarekat, praktek mengkeramatkan kuburan orang-orang atau tokoh yang dianggap sebagai wali, mendatangi kuburan ”wali-wali” tersebut lalu meminta kepada penghuninya agar diberi jodoh, diberi anak, disembuhkan dari penyakit yang sedang diderita,  bahkan ada yang meminta agar diberikan kekayaan.[3]
            Gerakan purifikasi untuk memurnikan ajaran agama, termasuk dan teristimewa ajaran agama Islam memang merupakan sesuatu yang amat mendesak dan amat diperlukan di zaman modern sekarang, terutama dalam rangka upaya untuk mengembalikan ”milik” umat yang telah terlepas yaitu posisi sebagai umat terbaik. Sebab menurut bukti-bukti sejarah keterpurukan atau ketertinggalan yang dialami oleh umat Islam pasca periode klasik Islam, justeru banyak diakibatkan oleh kekeliruan umat Islam dalam memahami dan menerapkan ajaran agama mereka. Akibatnya, timbullah peraktek atau perlakuan dalam menjalani hidup keagamaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Sebagai contoh keyakinan dan perlakuan yang merusak citra Islam. Antara lain, pemahaman yang bernuansa takhayul, perlakuan bid’ah, dan praktek-praktek yang bersifat chuarafat yang tidak lain adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang murni. Tidaklah mengherankan jika ketiga macam penyimpangan tersebut (yaitu takhayyul, bid’ah, dan churafat), diplesetkan menjadi penyakit tbc yang mengakibatkan umat Islam menderita penyakit parah sehingga mengalami kelemahan karena tubuh masyarakatnya telah lama  digergoti oleh ”penyakit kronis” dan sangat berbahaya tersebut.
            Umat Islam perlu disadarkan melalui langkah-langkah Purifikasi agar dunia Islam dapat lebih cepat bangkit kembali sebagaimana yang telah dialami oleh generasi umat terdahulu di masa keemasan yang berlangsung sepanjang periodi klasik Islam.

Sufisme   
Term sufisme, atau misticisme dalam Islam belumlah dikenal sejak awal kemunculan agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw. Mengenai asal tasawuf, terdapat beberapa pendapat. Harun Nasution[4] mengemukakn 5 (lima) sumber yang dianggap oleh sementara kalangan pengkaji tentang asal usul tasawuf atau misticisme dalam Islam. Salah satunya ialah bahwa paham tersebut berasal dari filsafat Emanasi Plotinus yang memandang bahwa alam wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan. Dengan masuknya roh ke alam materi , roh menjadi kotor, dan untuk kembali ke tempat asalnya harus melalui pensucian, yaitu dengan jalan meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin bahkan kalau bisa, bersatu dengan Tuhan. Ajaran tentang Ittihad (menyatu) ini rupanya terpengaruh oleh filsafat Emanasi yang dikembangkan oleh Plotinus.
            Menurut penulis, asumsi (dugaan) tentang asal usul tasawuf sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, tidaklah benar. Sebab dalam al-Qur`an sendiri terdapat ayat-ayat yang menjadi sumber ajaran tasawuf yang berciri keislaman. Misalnya ada ayat yang menyatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan (Allah swt), dan menunjukkan tentang pola hidup kerohanian dalam Islam; antara lain :
Surah al-Baqarah (2) :  186 :16 :   
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.[5]

Surah Qaaf (50) :
016. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.[6]

           Di samping kedua ayat di atas, ada pula hadis yang dijadikan sebagai sumber ajaran tasawuf dalam Islam. Antara lain ajakan untuk menjalani kehidupan zuhud sebagai salah satu ajaran tasawuf ; dan pada intinya  menunjukkan adanya kesadaran tentang kedekatan hamba kepada  allah swt. sebagai berikut :
-  اِزْ هَدْ فِى  الدُّنْيَا يُحبُّكَ  اللهُ  وَازْهَدْ فَيْمَا  عِنْدَ  النَّاسِ  يُحِبُّكَ  الله . (رواه إبن ماجه).
-  كَانَ رَسُوْلُ  اللهِ  صلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَ سَلَّم يَرْكَبُ الْحِمَارَ  رَ يَحْصِفُ  النَّعْلَ  رَ يَرْقَعُ  الْقَمِيْصَ . (رواه إبن عَساكِر).[7]
            Selain kedua ayat dan kedua hadis nabi yang dikemukakan di atas, yang mendorong timbulnya kehidupan sufi dalam Islam, Rasulullah saw pun telah mempraktekkan kehidupan kerohanian dalam model sufi (pengamalan tasawuf) yaitu bersamedi dalam gua Hira`. Hal itu merupakan cahaya pertama bagi kelahiran tasawuf  dan itu pulalah yang merupakan benih pertama bagi kehidupan ruhaniah. Peri kehidupan Rasulullah Muhammad saw merupakan pola dasar dan gambaran lengkap bagi para sufi dalam hal pengamalan tasawuf.[8]
            Melihat dasar yang menjadi pangkal lahirnya tasawuf atau Sufisme dalam Islam sebagaimana  yang dikemukakan terdahulu, dapat disimpulkan bahwa praktek kehidupan dan pelaksanaan ibadah menurut ajaran tasawuf sebenarnya sangat positif sebab menunjukkan adanya kesadaran tentang keadaan yang amat dekat denganAllah swt di sampingkan menghindarkan pelaknya dari posisi “hamda dunia” atau “hamba materi” serta melahirkan jiwa  yang bersih, tenang, dan selalu merasa ridha (senang) terhadap keadaan yang dialami.
            Namun demikian terdapat pula penilaian yang negatif terhadap praktek kehidupan sufi dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk penyimpangan dari inti ajaran Islam. Salah satu dari penilaian negatif terhadap Sufisme adalah sebaga berikut :
            Tasawuf dinilai atau dikategorikan sebagai pemikiran infiltrasi yang beracun terhadap Islam.Tasawuf banyak berlandaskan kepada bid’ah. Bid’ah-bid’ah itu mereka jadikan sebagai bentuk berislam lalu mereka masukkan ke dalam Islam.

            Selanjutnya dikatakan :

            Sufisme juga menganggab bahwa guru-guru mereka cukup berkata kepada sesuatu “jadilah” maka sesuatu tadi akan jadi.[9]

            Menurut penulis, perlu dibedakan antara faham sufisme yang bersumber dari Islam (al-Qur`an dan Sunnah Rasul saw) dan sufisme yang mengadopsi ajaran-ajaran mistik dari luar Islam melalui berbagai tarekat sufi yang memang banyak berkembang di dunia Islam sejak periode pertengan Islam dan sekaligus menjadi penyebab bagi kemunduran umat Islam. Dengan demikian kita dapat terhindar dari jebakan sikap a priori dan secara gegabah dalam menggeneralisir sufisme sebagai penyimpangan dalam Islam.   

Tarekat
Tarekat atau thariiiqah adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi dalam upaya untuk mencaai tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Dalam dalam perkembangannya menjadi suatu organisasi sufi,[10] yang melegalisir aktifitas kesufian.
Praktek sufi disistimatisir sedemikian rupa sehingga masing-masing thariqah mempunyai metode pendekatan kepada Allah swt yang berbeda satu sama lain. Di sisi lain, J. Spencer Trimigham menyatakan bahwa thariqah adalah suatu metode praktis untuk menuntun (membimbing) seorang sufi secara berencana dengan jalan pikiran , prasarana dan tindakan, terkendali terus kepada suatu rangkaian dari maqam untuk dapat merasakan hakikat yang sebenarnya.[11]
Dalam Thariqah atau Tarekat terdapat tiga unsur, yakni murid gur, dan ajaran. Guru adalah orang yang mempunyai otoritas dan legalitas kesufian, yang berhak mengawasi muridnya dalam setiap langkah dan geraknya sesuai dengan ajaran Islam. Dan oleh karenanya ia pasti memilki keistimewaan tertentu seperti bersih jiwanya. Dalam kaitan ini, Abu Bakar Atjeh mengutip isi buku Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah A’lam al-Guyub bahwa seorang guru adalah seseorang yang telah mencapai maqam (posisi) Rijal al-Kamal manusia sempurna) yakni telah mencapai tingkat kesempurnaan dalam hal suluk, syari’ah dan hakikat nya, sesuai dengan ajaran Islamdan telah mendapat ijazah untuk mengajarkan suluk kepada orang lainpada tarekat,.[12]  Sedang murid adalah orang yang menghendaki (menginginkan) petunjuk dalam amal ibadah.
Di samping segi-segi negatif yang ada  juga segi-segi positifnya. Antara lain, dapat membimbing seseorang untuk berada sedekat mungkin dengan Allah swt, di samping memiliki al-Akhlaq al-Karimah serta tetap konsisten dengan syahadatnya. Meskipun dalam kadar yang relatif. Di kalangan angota-anggotanya terpupuk rasa solidaritas yang tinggi dan tolong menolong. Sikap kesederhanaan mewarnai kehidupan mereka sebagai perwujudan dari konsep zuhud (menjaui kemewaan hidup duniawi); meskipun kadang nampak berlebih-lebihan dalam penerapan bentuk hidup sederhana.
Dengan demikian kita perlu bersikap obyektif dalam menilai kehidupan sufii yang diterapkan oleh para pengamal ajaran tarekat agar kita tidak keliru dalam memberikan penilaian dan pada akhirnya merugikan umat Islam bahkan bisa merendahkan artabat agama Islam.


[1]Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy. 15th ed., New Jersey, Adams & Co., 1963, h. 259.
[2]Louis Ma`luf, Al-Munjid fi al-A’lam , cet. 15, Beirut, al-Maktabah al-Kathulikiyyah, 1980, h. 9dan h. 13.
[3]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah dan Gerakan),  cet. Ke 13, (Jakarta, Bulan Bintang), 2001, h. 15.
[4]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973, h. 57.
[5]Departemen Agama R.I., Al-Qur`an dan Terjemahnya, al-Madinah al-Munawwarah, Majma’ Raha Fahd untuk Penerbitan  Mushaf al-Qur,an, t. th., h. 
[6]Ibid.
[7]Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi IAIN SU, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan, 1981, h. 48.
[8]Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Solo, Ramadhani, t. th., h. 41.
[9]laila binti Abdullah, Ancaman Sufisme terhadap Islam, Yogyakarta, Tajidu Press, 2002, h. 16 ; 41.
[10]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, II, Jakaarta, Bulan Bintang,h. 89.
[11]J. Spencer. Trimigham. The Sufi Orders in Islam, New York, Oxford University Press, 1971, h. 4.
[12]Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, Solo, Ramadhani, 1985, 79 – 84.