.

Psikologi Humanistik : Cara mengembangkan perilaku mengajar yang humanis


Oleh: Yuli Fajar Susetyo (Fakultas Psikologi UGM)

Perilaku yang humanis adalah tindakan yang dapat teramati, dilakukan guru di dalam kelas ketika berhadapan dengan siswanya. Perilaku adalah hasil interaksi antara komponen pikiran, emosi, dan lingkungan.

Burns (1988) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara emosi, pikiran dan perilaku. Emosi yang terbentuk oleh suatu peristiwa disebabkan oleh penilaian/pikiran terhadap peristiwa. Sebelum seseorang bertindak tehadap suatu peristiwa apapun maka individu harus memprosesnya dengan pikiran serta memberikan arti. Individu harus memahami apa yang sedang terjadi, sebelum dapat merasakan dan menentukan tindakan. Dengan demikian, kunci pertama dari emosi dan perilaku adalah bagaimana pikiran individu terhadap situasi.

Berdasarkan model di atas penulis menemukan empat hal yang dapat dilakukan guru untuk mampu mengembangkan perilaku yang humanis ketika menghadapi siswa di ruang kelas.
1.      Mengenali penyebab perilaku
Perilaku seseorang adalah hasil interaksi antara komponen fisik, pikiran, emosi dan keadaan lingkungan. Namun, untuk memperkuat kontrol manusia terhadap perilakunya seseorang perlu mencari tahu penyebab internal baik fisik, pikiran dan emosi yang dialaminya. Seringkali seorang guru gagal bertindak yang terbaik baik karena fisik sedang lelah atau kurang sehat sehingga menggunakan cara yang keras atau hukuman untuk mengendalikan siswa. Tindakan yang kurang tepat juga dapat dihasilkan karena pandangan yang negatif tentang siswa, misalnya x adalah anak nakal maka tindakan netral pun dapat menjadi negatif karena pandangan kita tersebut. Penyebab lain adalah keadaan emosi yang tidak kondusif, misalnya sedang marah atau cemas karena ada tugas yang menumpuk atau kejadian di tempat lain yang belum tuntas. Secara kognitif, Burns  (1988) mengemukakan banyak hal dapat terjadi yang disebutnya distorsi kognitif, yaitu kecenderungan pikiran kita untuk mengalami kesalahan dan penyimpangan dalam menilai sesuatu. Penulis menggarisbawahi empat jenis distorsi yang cukup relevan dalam dunia pendidikan, yaitu: 
a.       Memberi cap : melukiskan siswa sebagai orang yang nakal atau dungu, kemudian mendaftar di dalam pikiran semua hal yang tidak disukai tentang orang tersebut (filter pikiran) dan mengabaikan semua kelebihan atau sisi positif atau sifat-sifat yang baik (mendiskualifikasikan yang positif). Contohnya: “Dia anak pemalas” (faktanya saat itu ia tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah).
b.      Membaca pikiran : mereka-reka motif yang melatarbelakangi perilaku siswa, dan demi kepuasan sendiri menjelaskan mengapa siswa bertindak demikian. Justru yang terjadi adalah menyalahkannya saja. Contohnya: “Dia pasti tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah sehingga tidak masuk kelas”.
c.       Pembesaran : membesar-besarkan pentingnya peristiwa negatif, sehingga intensitas reaksi emosional dapat meledak. Contohnya, “Gara-gara ia bertanya penjelasan ku menjadi kacau...” (yang terjadi adalah guru terpaksa berhenti sebentar untuk mengingat-ingat apa yang akan dikatakannya)
d.      Pernyataan “harus” dan “tidak seharusnya” : berpikir bahwa seharusnya siswa “tidak seperti itu”, atau berpikir siswa seharusnya “seperti itu” Menuntut siswa atau situasi berjalan seperti keinginan sendiri dan ketika tidak terjadi maka sebenarnya individu telah mencipatakan frustrasi bagi diri sendiri. Contohnya: “ia kan anak dosen... seharusnya kan.....”

Guru yang sering mengalami penilaian yang kurang tepat tersebut akan semakin sulit untuk menerima anak apa adanya, apalagi harus mengormati dan menghargai mereka. Perlakuan yang tidak semestinya mudah muncul antara lain berupa kata-kata yang kurang tepat, membedakan dari teman-temanya karena dianggap kurang pandai atau nakal dan akhirnya menyebabkan guru kehilangan harapan positif terhadap siswa atau memvonis bahwa siswa tersebut nakal atau kurang pandai.

Sebuah penelitian (dalam De Potter dkk., 2000) menunjukkan bahwa sikap dan perlakuan guru terhadap siswa cenderung dipengaruhi oleh pandangan guru terhadap siswa. Sebagai contoh ketika siswa memandang siswa bodoh maka siswa kurang diberi pengalaman yang menantang, kurang dihargai jawabannya, dan cenderung kurang diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang sulit.

Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau  Caine & Caine (dalam DePorter, Reardon, & Singer-Nourie, 2000) menyatakan bahwa keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar  dan berprestasi merupakan suatu hal yang harus diperhatikan.

2.      Mengatasi distorsi dalam penilaian
Ketika seorang guru menyadari dirinya telah mengalami distorsi atau kesalahan dalam menilai siswa maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah meyakinkan diri bahwa ia mampu mengendalikan hal tersebut. Kemampuan menilai secara tepat dapat dikembangkan dengan latihan. Beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a.       Mencari bukti. Teknik ini bertujuan memberikan pandangan lain tentang kejadian atau siswa dengan cara mencari bukti bahwa penilaian kita yang negatif adalah tidak benar. Misalnya,  ketika kita memberikan label pada siswa sebagai pemalas maka dengan cepat kita perlu mengembangkan bukti-bukti yang dapat menunjukkan bahwa ia bukan pemalas.
b.      Pernyataan yang direvisi. Teknik ini bertujuan untuk meminimalisir kecenderungan kita mengharuskan sesuatu terjadi pada siswa kita. Caranya adalah dengan memberikan argumen lain yang dapat menurunkan derajat keharusannya. Misalnya: “saya sudah mengajarnya dengan baik, seharusnya ia paham.
Ketika banyak siswa yang belum paham maka kita perlu merevisi menjadi “saya memang sudah mengajar dengan baik namun mungkin ia perlu waktu untuk memahaminya”
c.       Pernyatan tidak menilai. Teknik ini dilakukan dengan cara meembuat pernyataan yang bersifat deskriptif, apa adanya, dan menghindari kata sifat seperti malas dan nakal. Contoh:  ketika ada siswa yang kita cap atau kita pikiran sebagai anak yang tidak tahu aturan. Pikiran atau pernyataan tidak tahu aturan adalah cap yang negatif tentang siswa. Hal ini akan menimbulkan asosiasi dengan sifat negatif lainnya, dan menimbulkan emosi negatif kita kepada siswa. Pernyataan yang lebih netral perlu dikembangkan,  misalnya yang kita sebut “tidak tahu aturan” ternyata lewat di depan guru sambil lari. Lebih baik kita menyebutkan perilakunya yaitu “kok di depan guru lari”. Sebutan ini lebih netral daripada menyebutnya tidak tahu aturan.
d.      Mencari sisi positif. Manusia bersifat kompleks. Tidak ada manusia yang 100% buruk atau 100% baik. Oleh karena itu ketika terjadi penilaian yang negatif misalnya anak ini telat mikir maka kita dapat mencari sisi positif yang lain misalnya usaha kerasnya untuk memahami, kerapiannya, atau sisi positif yang lain.

3.      Mengembangkan cara pandang yang positif terhadap siswa
Setiap siswa mempunyai potensi yang kadang tidak dapat terungkap,  tidak diterima dan tidak dihargai dalam proses pendidikan. Cara pandang yang positif dapat dikembangkan jika guru 1) tetap mempertahankan harapan positif terhadap siswa, yaitu seperti apapun keadaan siswa hari ini tidak berarti selamanya akan seperti itu dan tugas kita adalah berusaha untuk membantunya, 2) melihat potensi siswa dari berbagai sisi misalnya dapat menggunakan pandangan kecerdasan majemuk (Gardner dalam Amstrong, 2005), 3 meyakini prinsip perkembangan bahwa setiap siswa dapat berbeda dan bersifat unik sehingga mungkin belum optimal saat ini, dan 3) berusaha mencari sisi positif siswa.

4.      Membangun hubungan yang apresiatif
Hubungan guru dan siswa adalah penting dalam proses pembelajaran humanistik. Hubungan guru dan siswa bukanlah hubungan yang kering dari aspek emosi. Namun, kadang hubungan tersebut sebatas “Anda belajar dan Saya mengajar”, atau jika ada hubungan personal maka terbatas pada beberapa siswa tertentu. Mungkinkah hubungan personal yang mendalam tersebut dapat terjalin dalam kelas?

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan komunikasi apresiatif. Komunikasi apresiatif dapat dilakukan dalam setiap interaksi antar guru siswa, dan antar siswa. Komunikasi apresiatif merujuk pada istilah appreciative inquiry yang dikembangkan oleh Psikologi Positif. Percakapan apresiatif dilakukan untuk  memahami sesuatu yang terbaik dari individu, memberikan dukungan terhadap kelebihan, kesuksesan, dan potensi masa lalu dan masa kini. Selama ini, komunikasi yang terjadi kadang cenderung tidak apresiatif. Contoh: kita lebih peka terhadap kesalahan orang daripada kebaikan orang, kita lebih cepat menunjuk kesalahan orang daripada kebaikan orang dst. Oleh karena itu, komunikasi yang terjalin perlu dikembangkan adalah komunikasi yang mengandung pesan dan gaya yang apresiatif.

Perbandingan komunikasi yang apresiatif dan tidak apresiatif dipaparkan pada tabel di bawah ini.

Komunikasi Verbal Tidak Apresiatif
Komunikasi Verbal Apresiatif
·         Kenapa engkau sekarang menjadi malas belajar?
      Ingatlah, peristiwa yang paling membanggakan mu saat SMP?
·         Apa jadinya kalau engkau malas seperti ini terus?
      Apa yang engkau inginkan setelah lulus SMA nanti?
·         Coba cari jalan, bagaimana  supaya kamu tidak malas belajar?
·         Strategi apa saja yang sudah engkau pikirkan untuk sukses belajar?

Komunikasi yang memfasilitasi siswa berpikir tentang keadaan dirinya yang sekarang, berusaha mencari sisi positif dirinya, menyadarkan tentang tujuan siswa, dan menyadarkan siswa tentang tindakan apa saja yang akan dilakukannya untuk mencapai cita-cita akan membangun hubungan yang saling menguatkan antar siswa dan guru.

5.      Mengembangkan model pembelajaran yang tepat
Begitu banyak metode pembelajaran yang dapat dipertimbangkan untuk mencapai kelas yang lebih humanis. Mulkan (2002) telah menyadur buku “Humanizing The Class Room; Models of Teching in Affective Education yang ditulis oleh John P. Miller. Dalam buku saduran tersebut, Mulkan menjelaskan tentang 17 model pembelajaran pengembangan kepribadian dalam pendidikan berbasis kelas. Tujuah belas model tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu 1) model pembelajaran pengembangan diri, 2) model pembelajaran konsep diri, 3) model pembelajaran kepekaan sosial, dan 4) model perluasan kesadaran.

Semua model yang dibahas dalam buku tersebut berusaha mengembangkan manusia seutuhnya yaitu dari dimensi kognitif, afektif dan kepribadian, dan psikomotorik (tertentu). Guru dapat memilih model yang tepat untuk dapat diterapkan di kelasnya masing-masing.


Daftar pustaka
  • Alimi, A.S. dan Zaidie, M.F. 1999. Reformasi Dan Masa Depan Pendidikan Di Indonesia. Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Prof. Dr. Djohar, MS. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta
  • Armstrong T. 2003. Sekolah Para Juara. Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan (diterjemahkan oleh Yudi Murtanto). Bandung: Penerbit Kaifa.
  • Burns, D.D., 1988. Terapi Kognitif. Pendekatan Baru Bagi Penanganan depresi. Penerbit Erlangga. Jakarta
  • DePorter, B., Reardon M., & Singer-Nourie, S. 2000. Quantum Teaching. Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas (terjemahan : Ary Nilandari). Bandung : Penerbit Kaifa
  • Eggen, P. & Kauchak, D. 1997. Educational Psychology, Windows on Classroom. Third Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
  • Kartono, K. dan Gulo, D. 2000. Kamus Psikologi. Bandung : CV. Pioner Jaya
  • Palmer, J.A.  (editor). 2003. 50 Pemikir Pendidikan. Dari Piaget Sampai Masa Sekarang.  (terjemahan : Farid Assifa). Yogyakarta : Penerbit Jendela
  • Miller, J.P.  2002. Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian. Rangkuman Model Pengembagan Kepribadian dalam Pendidikan Berbasis Kelas (disadur oleh Abdul Munir Mulkhan dari Humanizing the class Room oleh John. P. Miller). Yogyakarta : Kreasi Wacana
  • Roberts, T.B. 1975. Four Psychologies Applied to Education. New York : Schenkman Publishing Company Halsted Press Division John Wiley and Sons
  • Susetyo, Y.F. 2004. Efektivitas Pelatihan Berpikir Positif untuk Mengembangkan Perilaku Mengajar yang Humanis pada Guru sekolah dasar di Yogyakarta. Laporan penelitian. Tidak diterbitkan. Jaringan penelitian pemerintah daerah Kota Yogyakarta.
  • Suwarno, Suparno P., dan Rahmanto B. (editor). 1998. Pendidikan Sains Yang Humanistis.Yogyakarta : Penerbit Kanisius