.

Sekelumit Wawasan Tentang Aliran-Golongan-Sekte Dalam Ilmu Kalam



ilmu kalam, aqidah ilmu kalam, aliran dalam ilmu kalam, golongan dalam ilmu kalam, sekte, sekte dalam ilmu kalam, makalah ilmu kalam, artikel ilmu kalam, ilmu kalam adalah,pengertian ilmu kalam
Syiah
Dalam aliran syiah muncul beberapa faham yang sebagiannya dan sebagian lainyya moderat. Faham-faham tersebut antara lain Syaba’iyah yang berfaham bahwa Ali menempati derajat ketuhanan. yang kedua Ghurabiyah yang berfaham bahwa kedudukan Ali di atas nabi Muhammad. Yang ke tiga Kaisaniyah yang berfaham mengangkat kedudukan cucu dan pewaris ilmu Ali yaitu Muhammad bin al-hanafiyah sejajar dengan para nabi. Tetapi dalam perkambangan sejarahnya, terdapat dua sekte syiah yang terkenal yaitu Imamiyah dan Zadidiyah.
Secara harfiah syiah berarti pengikut atau kelompok. Tetapi dalam perkembangannya, istilah ini lekat dengan pengikut setia Ali yang memilih beroposisi terhadap kekuasaan Muawiyah pasca peristiwa arbitrasi. Mareka ini berkeyakinan bahwa yang berhak menggantikan nabi sebagai pemimpin adalah keluarganya (Ahl al-bait). Sepeninggal Ali, hak imamah (kepemimpinan umat islam) tersebut beralih kepada anak-anak keturunanya dari fatimah al-Zahrah.
Sekte imamiyah berkeyakinan bahwa imamaih sesudah nabi sudah menjadi hak dan harus di berikan kepada Ali. Imamiyah mempunyai dua aliran utama, yaitu Ismailiyah (Sa’biyah) dan Itsna Atsariyah. Nama ismailiyah diambil dari imam yang ketujuh dalam silsilah mereka yakini Ismail bin ja’far al-shadiq. Sekte ini dikenal juga sebagai Sab’iyah karena meyakini adanya tujuh imam yng tidak matsur dengan urutan sebagai berikut:
- Ali bian Abi Thalib                                           - Ali bin husain
- Hasan bin Ali                                                   - Ja’far bin muhammad
- Husain bin Ali                                                  - Ismail bin Ja’far al shadiq
- Muhammad bin ali
Sedangkan sekte itsna Asariyah Adalah aliran Imamiyah yang meyakini bahwa bilangan imam berjumlah 12 orang. Imam imam tersebut antara lain:
- Ali bin abi thalib                                               - Musa bin Ja’far
- Hasan bin Ai                                                    - Ali Bin Musa
- Husain bin Ali                                                  - Muhammad Bin Ali
- Ali bin Husain                                                  - Ali bin Muhammad
- Muhammad bin Ali bin Husain                         - Muhammad Bin Ali
- Ja’far bin Muhammad                                      - Muhammad Bin Hasan
Imam terakhir diyakini dalam keadaan tidak hadir dan akan muncul kelak di waktu yang di kehendaki oleh Allah. Pada masa ketidak hadirannya, kekuasaan akan  dipegang oleh wakil ima yang memenuhi kriteria mujtaihid.
Dalam aliran imamiyah dikenal 5 doktrin fundamental, yaitu: Imamah, ishmah, mahdiyah, raj’ah, dan taqiyah. Imamah sudah menjadi salah satu rukun islam bagi mereka. Seorang imam di percaya memiliki kualitas ishmah karena mewarisi posisi kenabian ma’sum (terpelihara dari kesalahan). Sedanngkan doktrin mahdiyah dan raj’ah di hubungkan dengan status imam matsur yang di percaya akan muncul kembali sebagai mahdi yang membangun kerajaan Allah menjelang hari kiamat kelak. Sedangkan faham taqiyah ynga berarti perlindungan dimaksudkan sebagai taktik strategis untuk merahasiakan eksistensi kesyahannya dengan berpura-pura patuh di bawah dominasi kekuasaan khalifah yang memerangi mereka hingga kekuatan yang di persiapkan cukup memadai untuk melakukan perlawanan terbuka.
Sementara sekte Zaidiyah dinisbahkan kepada pengikut Zaid bin ali bin husain. Sejarahnya sepeninggal Zainal abidin, sebagian besar pengikut syiah membait Muhammad bin baqir dan sebagiannya lagi membaiat Zaid. Berbeda dengan sekte imamiyah, Zaidiyah berpendapat bahwa nash tentang imamah Ali itu cenderung merujuk pada pengertian sifat dan bukannya kepada pribadi Ali. Atas dasar ini Ziadiyah melihat bolehnya umat mengangkat imam dari orang kurang utama sekalipun di tengah-tengah mereka ada orang yang lebih utama. Ali di nilai mereka memiliki keutamaan lebih dibanding ketiga khalifah sebelumnya. Sifat moderat faham ini kemudian berubah menjadi ekstrim di tangan penganut Zaidiyah pada generasi selanjutnya.

Khawarij
Secara harfiah khawarij berarti penamaan kelompok yang dikenal radikal dan ekstrim baik dalam pemahaman maupun tindakan keagamaannya yang dengan sejarah kemunculannya yang di picu ketidak sepakatan atas cara penyelesaian konflik melalui tahkim antara kubu Ali dan muawiyah.
Bagi mereka hukum haruslah di kembalikan kepada pesan al-Qur’an dan bukannya kepada akal manusia yang ikut berpartisipasi dalam diplomasi. Mereka meneriakkan dalam slogan “tidak ada hukum kecuali hikum Allah”. Sikap politik ini berkembang menjadi pengkafiran terhadap para sahabat yang menerima tafhim dan pengabsahan tindakan kekerasan bahkan pembunuhan terhadap ,ereka yang tidak sependapat.
Khawarij mengembangkan doktirn bahwa hak menjadi khalifah tidak terbatas hanya milik bangsa Arab atau keturunan suku Quraysh, tetapi tetapi di kembalikan kepada kaum muslimin. Pandangan ini tentu berbeda dengan kelompok ahl al-sunah maupun pandangan kelompok Syiah. Mayoritas dalam aliran khawarij berpaham wajibnya mengangkat imam, kecuali najdat. Aliran ini berpendapat bahwa mengangkat imam tidak wajib , tetapi yang wajib adalah penegakan kebenaran dan keadilan yang menjamin setiap orang  memperoleh apa yang menjadi haknya. Khawarij juga berkeyakinan bahwa perbuatan ibadah merupakan bagian dari iman, sehingga siapapun yang mengabaikannya atau berbuat dosa besar dengan sendirinya telah menjadi kafir. Dan juga meyakini bahwa pemikiran atau pendapat yang salah adalah sebuah dosa yang menyebabkan kekafiran. Pandangan pandangan ekstrim mereka itu sebagian besarnya didasarkan pada dalil – dalil.
Aliran khawarij ada yang menamainya dengan sebutan haruriyah, yakni dinisbatkan kepada harura, tempat pertama mereka melakukan konsolidasi dengan mengangkat Abdullah bin Wahhab al-Rasydi sebagai imam. Tetapi para pengikutnya lebih suka menyebut diri mereka  sebagai Shurah yang berasal dari kata yashri yang berarti menjual. Maksudnya adalah kelompok yang berani menjual atau mengorbankan dirinya kepada Allah.
Menurut banyak ahli sejarah, aliran ini pecah menjadi 20 sekte tetapi yang terkenal ada lima yaitu Azariqah, Shufriyah, Baihasiyah, Nadjat, dan Ibadiyah.

Murji’ah
Secara harfiah berarti yang menangguhkan atau mengembalikan, kemunculan aliran ini branjak dari sikap pasif atau tidak memihak antara dua kelompok umat islam yang tengah bertikai setelah pembunuhan Utsman.
Diantara mereka yang mengambil sikap ini adalah Sa’ad bin abi Waqas, Abu bakrah, Abdullah bin umar, dan imran bin husain. Pandangan ini menguat sebagai reaksi atas sikap ekstrim Khawarij yang begitu mudah melakukan pengkafiran dan menghalalkan darah sesame muslim. Dalam pandangan murji’ah pelaku dosa besar tidaklah kekal di neraka, tetapi hanya akan dihukum untuk sementara setimpal dengan atau bahkan mungkin diampuni dari dosa dosanya.
Dalam perkembangan berikutnya, muncil penganut faham murji’ah yang melangkah lebih jauh dan berkeyakinan bahwa dosa tidak tidak membahayakan iman. Pada konteks ini, iman sudah mulai difahami terlepas dari perbuatan. Pemikiran itu selanjutnya diketahui sebagai dalih pembenaran oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab.

Jabariyah dan Qadariyah
Terkait Qada’ dan Qadar, mula mula muncul  permasalahan tentang kebebasan dan keterpaksaan manusia. Pemikiran seputar masalah ini memunculkan pemikiran ekstrim yang berbeda yaitu Jabariyah dan Qadariyah.
Jabariyah pertama kali di populerkan oleh Ja’id bin dirham di basrah yang intinya perbuatan seorang hamba dengan menyandarkan semua kepada Allah.
Ide jabariyah ini kemudian terpelihara dalam pemikiran muridnya Jahm bin Shafwan, yang kepadanya di nisbatkan aliran jahmiyah.
Sedangkan faham Qadariyah tokoh utamanya Ma’bad bin Khalid al juhani dan Ghailan al Dimasyqi menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah kehendaknya sendiri, perbuatan manusia berada di luar kekuasaan Allah.

Mu’tazilah
Secara harfiah berarti yang memisahkan diri, pelopor aliran ini adalah Wasil Bin Atha’ yang memplokamirkan pemisahan dirinya dari gurunya karena tidak sependapat dalam persoalan pelaku dosa besar, Wasil berpandangan bahwa pelaku dosa besar adalah fasik yang kelak di akhirat akan di ketakkan oleh Allah di suatu posisi antara surga dan neraka (al manzilah bayn al manziliyatyn). Faham ini lantas menjadi salah satu doktrin sentral mu’tazilah yang di kenal dengan istilah al mabadi al khamsah (asas lima). Kelima asas ini adalah hasilserangkaian perdebatan. prinsip tauhid misalnya adalah bentuk penolakan mereka thd faham mujassimah dan musyabbihah. Sementara prinsip keadilan untuk menolak faham jasmiyah, prinsip janji dan ancaman untuk menolak faham murji’ah, serta prinsip manzilah untuk menolak faham murji’ah san khawarij sekaligus.
Aliran ini dalam banyak pemikirannya menjadikan akal sebagai sumber pengetahuan utama tentang kewajiban serta kebaikan dan keburukan, sedangkan wahyu sebagai pendukung kebenaran akal. Pemikiran kalangan mu’tazilah antara lain menyebutkan bahwa Allah mustahil dapat di lihat dengan mata telanjang di akhirat, tidak ada siksa kubur, Al-Qur’an adalah makhluk, keniscayaan atas Allah untuk berbuat baik dan terbaik, dan manusia bersifat otonom dalam tindakannya dengan Qudrah yang di Allah kepadanya.
Dalam benyak hal mu’tazilah justru menunjukkan keistimewaannya tersendiri dalam sejarah pemikiran keagamaan di kalangan umat islam. Mu’tazilah dikenal gigih menolak taqlid dan mencegah pengikutnya untuk menuruti pendapat orang lain tanpa lebih dahulu. Mereka sangat menghormati pendapat dan materi pendapat tanpa terpengaruh siapa yang mengemukakan pendapat tersebut. Karekter ini pula yang menjadikan mu’tazilah dengan pusat persebaranyya di Basrah dan Bagdad mempunyai cukup banyak aliran yang berkembang dengan corak pemikirannya masing masing.

Asy’ariyah
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran aliran yang muncul sebelumnya. Penamaannya di nisbahkan kepada abu hasan ali al asy’ari yang semula adalah seorang pengikut mu’tazilah.
Asy’ari percaya bahwa fungsi akal adalah sebatas mengetahui hal hal yang empiri(konkrit), sedangkan wahyu memberi informasi tentang hal hal yang lebih luas termasuk soal metafisika. Ia menerima keabsahan khabar ahad sebagai hujjah dalam bidang akidah. Tidak seperti mu’tazilah, aspek ketuhanan asy’ariyah meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat. Kalam Allah yang menurut mu’tazilah adalah makhluk, menurut Asy’ariyah perlu di bedakan pengertiannya manjadi kalam majasi dan kalam nafsi, kalam majasi adalah Al-Qur’an dalam bentukk tertulis yang di pegang manusia dan bersifat baru. Sedangkan kalam nafsi bersifat abadi bersamaan dengan wujud Allah. As’ariyah juga percaya bahwa Tuhan itu maujud dan karenanya dapat di lihat di akhirat dengan mata telanjang oleh penghuni surga. Mereka cenderung menolak takwil dan menerima penafsiran harfiah sekalipun tidak menerima tasybih (penyarupaan bentuk) dan taksyif (penyerupaan cara).
Pokok pemikiran al Asy’ari yang di juluki sebagai imam Ahl al sunnah wa al jama’ah ini semakin lama kian memperoleh pengikut, bahkan sepeninggalnya pemikirannya masih dapat menjangkau wilayah persebnaran yang sangat luas, Mahdzab teologi ini kemudian di lanjutkan dan di kembangkan oleh tokoh tokoh lain sesudahnya seperti Abu baker Al bqillani dan imam al Ghazali.

Maturidiyah
Aliran ini di nisbahkan kepada imam al Huda abu mansur Muhammad bin Muhammad al maturidi dari Samarkand. Dari segi pemikirannya, al Maturidi banyak memiliki kesamaan dengan al Asy’ari, sekalipun ada perbedaan cukup signifikan antara keduanya. Misalnya terkait persoalan ma’rifah (mengetahui Allah), Asy’ariyah menganggapnya wajib berdasarkan syara’, sedangkan maturidiyah melihat kewajiban ini melalui penalaran akal, demikian pula perihal kebaikan, asy’ariyah tyidak mengakui penalaran atas hal itu dapat di capai melalui penalaran akal atas substansinya. Dari sini dapat di ketahiu bahwa maturidiyah memberikan otoritas lebih besar kepada akal manusia di bandingkan dengan asy’ariyah.
Maturidi dalam persoalan iman melihatnya sebagai suatu kepercayaan dalam hati, jadi sejauh orang meyakini keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, sekalipun tidak melaksanakan ibadah, dia masih masuk kategori beriman. Tetapi ini tidak perssis sama dengan murjiah karena dia meyakini secara tegas bahwa pelaku dosa besar adalah fasik dan masih berhak masuk surga (atau tidak kekal ddi neraka) setelah dosa dosanya di ampuni Tuhan.
Dalam aliran maturidiyah seenarnya di kenal dua corak aliran, yakni aliran samarkand dan bukhara. Aliran samarkand di kenal lebih dekat dengan mu’tazilah dalam beberapa pemikirannya, sementara aliran bukhara dalam hal ini lebih dekat dengan metodologi berfikirnya asy’ariyah.

Salafiyah
Gerakan pemikiran ini tumbuh terutama dalam tradisi mazhab imam Ahmad bin hanbal yang di hidupkan kembali oleh Ibnu Tamiyah dan Muhammad bin Abdul wahab. Kaum salafiyah ini mendakwahkan kepada umat agar dalam hal aqidah mereka kembali kepada prinsip prinsip yang di pegang oleh kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabiin. Akal harus berjalan di belakang dalil naqli untuk mendukung dan menguatkannya. Dengan pola metodologis, salafiyah mengkritik aliran-aliran ilmu kalam seperti mu’tazilah, asy’ariyah, dan maturidiyah yang dalam pemahaman akidahnya memakai metode falsafi yang di impor dari logika yunani.
Salafiyah meyakini bahwa keesaan Allah merupakan asas pertama islam yang meliputi tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’wa sifat. Sebagai mana tersurat dalam nash dengan makna lahirnya tanpa ta’til (peniadaan), ta’wil, tasybih, tamsil dan takyif.
Tetapi faham yang di klain sebagai mahzab kaum salaf ini sebenarya memperoleh kritik bahkan sejak masa awal kemunculannya. Al-khatib ibn al-jauzi kebertan jika faham ini di nisbatkan sebagai mahzab teologi kaum salaf. Ia menyatakan bahwa tafwidh sebagaimana di maksudkan tersebut sejatinya adalah konstruk pemikiran yang masih mempunyai anasir tasybih, yakni memperlakukan Allah seolah benda inderawi atau makhluk. Al-ghazali juga mengkritik hal senada bhwa apabila kita memberi makna jism kepada Allah dengan penerjemahan lafdziyah sehingga mengimperasikan pemahaman bahwa Allah memiliki sejumlah anggota badan, pemberian Allah dengan sifat sifat inderawi ini mustahil bagi-Nya. Jadi lafal tersebut bukannya ditafsirkan secara tekstual untuk pengertian sifat-sifat dzat Allah, melainkan dengan makna substansi yang merujuk pada pengertian sifat-sifat perbuatan-Nya. Misalnya kata “tangan” bias di pinjam untuk pengertian yang bukan jism, seperti “negri ini berda di tangan penguasa”. Kalimat ini jelas bisa di pahami pengertiannya sekalipun peguasa tersebut secara aktual tidak memilliki tangan.
Tentang al Qur’an mereka menyatakan bahwa kalam Allah adalah qadim bersama dzat. Sementara dalam hal perbuatan manusia, mereka memandang bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dengan berbagai sebab yang di ciptakannya. Jadi manusia adalah pelaku sebenarnya atas perbuatannya sendiri dengan potensi yang di berikan Allah kepadanya. Disini dibedakan antara ridha, suka dan kehendak Allah. Dia tidak menyukai dan tidak meridhai maksiat, tetapi Dia tetap menhendakinya terjadi untuk suatu hikmah yang terpuji. Dan dalam ini adalah penjelasan terhadap kesempurnaan penciptaan, perintah dan larangan-Nya.