.

Tahukah Anda..? Pendidikan Karakter Minim Implementasi



Pendidikan karakter seperti yang diinginkan oleh menteri pendidikan nasional (Mendiknas)pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)2 Mei lalu saat ini memang sudah diajarkan dalam kegiatan sehari-hari namun masih kurang dalam implementasinya.

Demikian dijelaskan Prof Dr Muchlas Samani, Tim Perumus Pendidikan Karakter Kementrian Pendidikan Nasional saat menyampaikan materi seminar pendidikan di aula balaikota, Kamis (26/5) kemarin.

Menurut Prof Muchlas, pengajaran pendidikan karakter sudah ada dalam setiap pembelajaran, namun kebanyakan materi yang disampaikan tidak mengikutsertakan pendidikan karakter yang akan membentuk pola perilaku anak.

Kalau saya boleh mengambil contoh, dari 200 sekolah yang pernah saya datangi dan berhasil menerapkan pendidikan karakter yaitu akhlak, karena semua guru mengajarkan materi akhlak dalam setiap mata pelajaran, baik bahasa Indonesia, PPKN, ataupun IPA, guru memberikan contoh penerapan akhlak yang baik, inilah contoh pendidikan karakter,” papar pria yang malang melintang di dunia pendidikan selama puluhan tahun ini.

Diakuinya, kesulitan penerapan pola pendidikan karakter karena belum adanya contoh yang nyata dari para pengajarnya. “Jika kita ingin anak kita mempunyai karakter lemah lembut, sopan santun, tentunya harus dimulai dari guru, sebab dari merekalah contoh yang baik ini akan diterapkan,” ujarnya.

Selaku tim perumus pendidikan karakter, Prof Muchlas mengakui penerapan pendidikan karakter susah dan tidak mudah, namun bukan sesuatu yang tidak mungkin kepada sekolah untuk berhasil.

Dirinya mencontohkan, di salah satu sekolah Islam, menerapkan pendidikan karakter memerlukan konsistensi, apalagi pendidikan usia selama 12 tahun, mulai SD hingga SLTA, mengajak salat tepat waktu tentunya harus memberikan contoh, sehingga si anak dalam menerapkan hal ini juga benar-benar dilakukan dengan ikhlas.

Sebab pendidikan akhlak, sebagai salah satu pendidikan karakter harus diajarkan sejak dini, sebab jika baru dilakuukan pada tingkat SMA, tentunya sudah salah, pastilah repot,” papar pria yang bertugas merumuskan pendidikan karakter sejak tahun 2009 ini. (metro balikpapan)