.

Diskursus Paradigma Psikologi Dalam Perspektif Islam

oleh: Suprayitno
===================
Menurut Freidrichs Robert paradigma adalah “suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalannya.[1]  Dengan demikian paradigma psikologi secara umum adalah prilaku manusia dan faktor-faktor yang memicu prilaku tersebut. Di dalam Islam, manusia diciptakan dengan fungsi yang tidak hanya terbatas untuk menata kehidupan manusia, ia juga memiliki fungsi sebagai hamba Allah dan juga khalifah Allah. Sebagaimana terdapat dalam Firman Allah berikut ini:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51/Adz-Dzariyat: 56)

Sebagai hamba manusia harus menjalin hubungan dengan Allah dan menujukan semua aktifitas jasmani dan rohaninya hanya pada Allah.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. 2/al-Baqarah: 30)

Sebagai khalifah di bumi manusia harus menata kehidupannya dengan sesama manusia dan semua makhluk Allah yang lain termasuk alam raya.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
Artinya:
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. 3/Ali Imran: 112)

Kedua fungsi di atas harus dilakukan sesuai dengan hukum-hukum Allah yang telah Ia tetapkan dalam alam dunia ini. Oleh sebab itu mengkaji hukum-hukum Allah tersebut merupakan kemutlakan jika manusia ingin berhasil menata kehidupannya dan kehidupan alam semesta.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30/Ar-Rûm: 41)

Dengan demikian yang menjadi pokok persoalan psikologi dalam padangan Islam adalah keselarasan hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam raya.
            Paradigma psikologi dalam perspektif Islam tidak dapat dipisahkan dari cara manusia mengkaji psikologi itu sendiri. Dari perspektif Islam, manusia dianugerahi tiga alat dalam mencari ilmu pengetahuan: panca indera, akal (‘aql, lub), dan hati (qalb, fu’ad).
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
Artinya:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. 32/As-Sajadah: 9)

Tiga alat ini memiliki metode sendiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Panca indera mengharuskan penggunaan alat-alat indera untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dengan metode observasi, penelitian dan eksperimen empiris dan bergantung pada pengalaman aktual yang tujuannya adalah menemukan pengetahuan di balik fenomena alam (al-ayât al-kauniyah). Diantara ayat yang memotivasi manusia untuk menggunakan penginderaan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan adalah:

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ﴿١٧﴾ وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ ﴿١٨﴾ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ﴿١٩﴾ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ ﴿٢٠﴾
Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan # Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? # Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? # Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. 88/Al-Ghâsyiyah: 17-20)

Karena alat-alat indera hanya mampu menangkap hal-hal yang empirik maka hasil pengetahuan yang diperoleh juga terbatas pada hal-hal yang empirik. Itulah sebabnya kajian psikologi pada tingkat ini hanya dapat dilakukan dengan mengkaji prilaku-prilaku manusia sebagai perwujudan dari gejala-gejala jiwanya.
Akal digunakan dalam proses penalaran untuk memilih, mengklasifikasi, memutuskan dan melakukan penalaran serta menangkap realitas dan supra-realitas melalui nalar dengan kemampuan argumentasi logisnya yang kemudian menghasilkan serangkaian hukum dan prinsip yang menjadi bangunan ilmu pengetahuan. Diantara ayat yang menganjurkan hal ini adalah:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعاً مُّخْتَلِفاً أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَاماً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. 39/Az-Zumar: 21)

Proses penemuan akan supra-realitas ini dilakukan “secara silogistik, yakni menarik kesimpulan tentang hal-hal yang tidak diketahui (the unknown) dari hal-hal yang diketahui (the known)”.[2]
            Hati dengan metode intuitif (‘irfân) melalui pengalaman spiritual-transendental dan potensi batin serta keimanan mampu menangkap hal-hal yang metafisik.[3] Meskipun akal dan hati mampu menangkap hal-hal yang metafisik keduanya memiliki metode yang berbeda dalam melakukannya. “akal menangkapnya secara inferensial, hati menangkap objek-objek tersebut secara langsung (perensial), sehingga mampu melintasi jurang yang menganga lebar antara subjek dan objek”.[4] Pengetauan yang diperoleh hati wujud dan kebenarannya bersifat spiritual transendental (‘ilmu ladunni, ‘ilmu hudhuri) yang sangat bergantung pada keridhaan dan bimbingan Ilâhiah, baik dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi, ilham, dan wahyu dalam kasus para Nabi dan Rasul. Ilmu-ilmu yang lahir dari proses ketiga ini disebut sebagai perennial knowledge yang lahir sebagai proses unlearning.
Dari berbagai karya-karya psikologi Islam Muhammad Izuddin Taufiq mengklasifikasikan kajian kejiwaan klasik Islam dalam dua kategori. Pertama, paradigma yang mengkaji defenisi dan teori kejiwaan dalam Alqur’an dan Hadis dengan berbagai topik dan terminologinya. Salah satu produk dalam kategori ini adalah Al-Qur’ân wa ‘Ilm al-Nafs dan Al-Hadîts wa ‘Ilm al-Nafs karya Utsman Najati. Kedua, paradigma yang mengkaji defenisi dan teori kejiwaan dalam kitab-kitab kelasik Islam dengan berbagai topik dan terminologinya. Salah satu produk kategori ini adalah Dalil al-Bahitsin Ilâ Mafâhim Nafsiyah fî al-Turats (Petunjuk Bagi Para Peneliti Bagi Memahami Masalah Kejiwaan Dalam Kitab-Kitab Kelasik) hasil kerja sama antara Lajnah ‘Ilmiah dengan al-Ma‘had al-‘Alamiy lî al-Fikr al-Islamiy. [5]

Itulah tadi sekelumit wawasasn tentang Diskursus Paradigma Psikologi Dalam Perspektif Islam. Semoga bermanfaat.


[1] Ali Mudhafir, Kamus Istilah Filsafat, (Yogyakarta: Liberty, 1992), h. 114 dikutip oleh Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 341.
[2] Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: Erlanga, 2007), h. 8.
[3] Ibid, h. 8.
[4] Ibid, h. 8.
[5] Muhammad Izzuddin Taufiq, Panduan, h. 611.