.

Kurikulum Anti-Radikalisme Solusi Antisipasi Radikalisme Dunia Pendidikan



radikalisme, pendidikan, berita,

Penanggulangan radikalisme keagamaan di lingkungan pendidikan pada umumnya, termasuk di perguruan tinggi harus dilakukan secara simultan dan sistematik. Salah satu bentuk penanggulangan itu adalah mengembangkan pendidikan perdamaian dan antikekerasan atau antiradikalisme yang terintegrasi dalam sebuah kurikulum.

Ketua PP Muhammadiyah Dr Hj Haedar Nashir mengatakan, pendidikan agama pun harus dikonstruksi ulang agar bersifat mendalam, konprehensif serta bebas dari tafsir-tafsir pemaknaan radikal. "Lembaga pendidikan tak boleh menjadi lahan persemaian sikap dan tindakan radikal. Namun, lembaga pendidikan harus bisa menjadi basis bagi terciptanya budaya pluralisme dalam relasi-relasi sosial yang normal," katanya.

Kasus Negara Islam Indonesia (NII) yang memakan korban mahasiswa dan generasi muda memperkuat kenyataan bahwa gerakan radikal atau radikalisme keagamaan tak pernah mati. Terdapat kecenderungan reproduksi radikalisme keagamaan dimulai dari gerakan bawah tanah (underground).

Selanjutnya disusul dengan penampakan ke permukaan dalam beragam aksi-aksi radikal atas nama agama. Sementara, Rois Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas'udi menuturkan, radikalisme keagamaan yang disertai aksi kekerasan hanya tumbuh subur karena tiga hal.

Ketiga hal itu adalah pemahaman keagamaan yang sempit, kemiskinan maupun rasa keterpinggiran dan ketidakadilan. Tidak seorang pun merasa nyaman dengan aksi kekerasan, termasuk pelaku di lapangan maupun di belakang layar sekalipun. Tidak ada seorang dalam kondisi normal bercita-cita menjadi teroris.

Kalaupun mereka mau melakukan, hal ini tentu saja ada faktor-faktor tertentu yang mendeterminasinya berbuat seperti itu. Radikalisme merupakan penyakit sosial dan peradaban yang mematikan. Penanganan serius harus menjadi komitmen semua pihak. Ulama maupun cendekiawan berwawasan luas memiliki tanggung jawab memberi pemahaman yang benar soal keagamaan kepada masyarakat. (suara merdeka)