.

Membangun Karakter Anak Didik Dengan Kesenian

====================
Urusan kesenian kini tidak lagi berada di bawah tanggung jawab langsung Menteri Pendidikan Nasional. Kebijakan yang menyentuh dunia kesenian sudah menjadi urusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Apakah bercerainya urusan kesenian dari tanggung jawab formal Kementerian Pendidikan Nasional berdampak terhadap pendidikan kesenian di sekolah?

kesenian, pendidikan seni, pendidikan kesenian, karakter kesenian anak, kesenian anak, pendidikan anak, berita, pendidikan, pendidikan karakter,
Zaman Orde Baru, urusan kebijakan di bidang kesenian berada di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Segala kebijakan yang berurusan dengan kesenian merupakan tanggung jawab Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Mata pelajaran kesenian digariskan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Berbagai ajang lomba antarsiswa yang kental bermuatan kesenian digelar dalam berbagai kesempatan. Selain lomba vokal dan keterampilan memainkan instrumen musik, juga marak diadakan lomba menari maupun menulis dan membaca puisi.

Perhatian pengambil kebijakan dalam memperkuat spirit kesenian di sekolah ini membuat anak didik bukan hanya mengenal dunia kesenian sebatas ilmu pengetahuan. Mereka juga dikenalkan berbagai jenis lagu daerah dan jenis instrumen warisan nenek moyang dari seluruh Nusantara.

Popularitas beragam jenis lagu Nusantara maupun instrumen musik tradisional menjadi lebih dikenal dan diapresiasi anak sekolah. Gambaran semacam ini jauh berbeda dengan kemampuan anak didik sekarang yang umumnya terkesan lebih terpukau pada alat musik modern daripada alat musik tradisional. Mereka lebih senang menikmati irama pop Barat dibandingkan irama musik keroncong, misalnya. Dalam era sebelum reformasi pendidikan kesenian masih menjadi bagian dunia mereka di sekolah.

Kencangnya perhatian pemerintah dulu terhadap dunia pendidikan kesenian juga ikut melahirkan berbagai sekolah kejuruan maupun perguruan tinggi yang melahirkan tenaga terdidik di bidang kesenian. Sekolah menengah kejuruan maupun akademi, sekolah tinggi, serta institut seni berdiri di berbagai kota. Tenaga terdidik yang memiliki idealisme dan kompetensi berkesenian dilahirkan dari dunia pendidikan tersebut. Mereka bahkan berhasil unjuk kebolehan mengharumkan nama negara dan bangsa di seantero dunia. Mereka memiliki idealisme yang kuat untuk mengangkat dan mengharumkan nama bangsa melalui karya seni.

Masa itu pula ditandai pengakuan dunia internasional atas berbagai karya seni anak bangsa ini. Klaim pembajakan negara atau bangsa lain terhadap karya seni asli anak Indonesia hampir tidak pernah terdengar. Kalangan seniman asing justru terus membanjiri negeri kita untuk belajar dan mengapresiasikan tingginya nilai seni tradisional kita. Mereka pun ikut menularkan pengalamannya kepada anak negeri lain. Sejumlah lembaga pendidikan di Jepang dan AS malah telah memasukkan pengajaran sejumlah instrumen musik tradisional Nusantara dalam kurikulum pendidikannya.

Walau urusan kesenian kini berada di bawah tanggung jawab langsung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bukan berarti Menteri Pendidikan Nasional tidak lagi bertanggung jawab dalam urusan kesenian di sekolah. Tanggung jawab lintas kementerian untuk menanamkan kembali jiwa patriotisme berkesenian tradisi justru harus mulai diwujudkan. Menteri Pendidikan Nasional harus memikirkan secara serius penguatan materi pelajaran kesenian maupun berbagai ajang kompetisi berkesenian tradisi yang melibatkan anak sekolah.

Itulah harapan kita untuk tetap percaya terhadap kekuatan kesenian dalam membangun karakter anak didik. Jika kesenian dibiarkan hanya melulu diurus Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bukan mustahil jiwa anak didik kita akan kering dari spirit kecintaan mereka terhadap warisan leluhurnya. Budaya yang digandeng pariwisata cenderung hanya hendak menjadikan kesenian sebagai entitas berorientasi industri semata. Padahal budaya yang tetap memelihara perkawanan mesra dengan pendidikan justru cenderung membuat seni tradisi senantiasa memiliki martabat terhormat di mata anak bangsanya. (via balipost)