.

Sejarah Komunikasi : Ilmu Komunikasi


Sejarah Komunikasi
Ilmu komunikasi yang kian berkecambah sesungguhnya merupakan fase akhir (bukan terakhir) dari perkembangan disiplin ilmu ini. Ia melampaui tiga tahap perkembangan; Publisistik, Jurnalistik, dan Retorika. Dua yang disebut terakhir berkembang di Amerika, sedangkan yang pertama ditakdirkan berkembang di Eropa (Jerman). Sungguhpun kini publisistik di Jerman kini diterma sebagai bagian dari ilmu komunikasi, publisistik dalam arti semula banyak mempengaruhi konsep-konsep mutakhir tentang komunikasi seperti tampak pada Negt dan Kluge (1972), Biskey (1976), Habermas (1979) di Eropa, Schiller (1976) dan Bordenave (1974) di Amerika Latin. Umumnya yang baru disebut namanya dikenal sebagai aliran radikal dalam ilmu komunikasi, devian dari ‘main stream’.
Untuk dapat memahami aliran radikal tersebut di atas, perlu melihat sejarah perkembangan publisistik lebih dekat lagi. Disiplin ini pada mulanya berasal dari Jerman. Ini dapat ditelusuri sampai abad sembialn belas. Akibat revolusi industri peranan pers dalam membentuk opini public banyak menarik perhatian pada pemikir pada peraanan pers; tampak pada tulisan Bagehot, Maine, Bryce, dan Wallas; di Prancis tampak pada karya-karya Tarde yang banyak di pengaruhi Le Bon. Di Jerman minat ini ditungkan dalam bentuk ilmu. Marx Weber (1864-1920) untuk kali pertama mengembangkan ‘ilmu pers’ dengan landasan ilmiah. Dalamkonfrensi Deutsche Gesellshaft fur Soziologie (1910) ia mengusulkan dua proyek pengkajian sosilogi; sosilogi organisasi dan sosiologi pers. Pda dasawarsa selanjutnya, Tonnies (1885-1936) menerbitkan coretannya yang bertajuk Kritik der Offentliche Meinung yang mengupas sifat opini public dalam perkembangan kehidupan bermasyarakat. Dalam hubungan antara pers dan opini public inilh lahir Zeitungwissenschaft (Ilmu Surat Kabar)

ilmu komunikasi, tujuan komunikasi, fungsi komunikasi, sejarah komunikasi, pengertian komunikasi,

Sungguhpun demikian, minat pada sosilogi pers (khususnya opini public) yang terus berkecambah telah membawa para sarjana Jerman pada satu titik yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan persuratkabaran, misalnya; retorika, radio, film. Pada khirnya mucullh ilmu baru Publizistic yang dikembangkan Hagemann (1966) dan disistemikkan oleh Dofivat (1986). Dalam pergulatan disiplin ilmu ini yang menjadi obyek penelitian bukan lagi pers, melainkan pernyataan public (offentliche aussage). Menurut Dofivat, publisistik adalah segala usaha mengerakkan dan membimbing tingkah laku public secara rohaniah (geitstige Unterrichtung und-Leitung) yang mempunyai enam unsure;
  • Ditentukan dan ditujukan kepada public (Offentlichkeit)
  • Bersifat actual (aktualitat)
  • Didasarkan pada norma atau ideology (gesinnung)
  • Dengan cara persuasi atau koersi kolektif (Uberzeugung oder Kollektieve Ausrichtung)
  • Menggunakan bentuk pesan dan pernyataan yang jelas dan mengesankan (Anschaulichkeit und Eindringlichtkeit)
  • Digerakkan orang-orang yang mempuntyai karakter dan menjiwai misi yang diembannya (Die Publizistische Personlichkeit)
Publisistik, Dofivat menambahkan lebih lanjut, selalu bertujuan (zweckbestimt) dan disalurkan melalui perbuatan, kata tulisan, kata ucapan, gambar, lambang, tanda, dan televisi. Dalam dunia sekarang, Dofivat membayangkan publisistik sebagai kekuatan perkasa yang sudah mencapai public dunia (weltoffentlichkeit) ia mencemaskan jangan-jangan kekuatan publisistik ini dipegang oleh orang-orang yang bermoral rendah. ‘werwird fur sie sprechen, schreibern, und bildern?’ tanpa Dofivat (1968). Disini tampak publisistik sebagai kekuatan komunikasi yang dapat mengendalikan tingkahlaku manusia dan mewarnai perkembangan peradaban. Henk Prakke (1976) berpendapat bahwa dalam sejarah umat manusia publisistik memainkan peranan yang sangat penting. Ia berkata,
            Setiap kegiatan manusia berasal dari pandangan evaluasi dunia. Tiada pandangan dunia tanpa informasi, tiada evalusi dunia tanpa ulasan. Publisistik merumuskan pesan secara sinambung berupa kata-kata, gambar, suara, dalam alur, motif, dan gagasan lama atau baru. Publisistik menyertai perubahan budaya, sering berhasil mencapainya tidak saja dalam bentuk perubahan berangsur-angsur, tetapi juga perubahan yang revolusioner[1]
            Bila publisistik meliputi pernyatan tertulis, terucap, tergambar, dan tergerak, apa bedanya dengan komunikasi ? Komunikasi, sungguhnpun belum ada kesepakatan tentang definisinya, dipahami sebagai segala kegiatan tkar menukar informasi (information sharing); baik yang bersifat intrapersonal, interpersonal, organisasional, atau massa. Publisistik adalah komunikasi dengan cirri khusus: 1) public, prosesnya ditentukan dan dipengaruhi oleh public; 2) persuasive, bertujuan mengubah sikap atau tingkah laku orang lain; dan   3) actual, terjadi dalam waktu segera. Publisistik dapat bersifat interpersonal, seperti percakapan Reagan dan Carter. Yang menjadikan publisistik ialah kenyataan bahwa percakapan itu disebarkan kepada public dan ditujukan untuk mempengaruhi pikiran dan tingkah laku public.
            Yang mengaburkan ialah perbedaan antara komunikasi massa dan publisistik. Manakah yang lebih luas; komunikasi massa atau publisistik? Komunikasi massa, menuurrut Noelle Neumann, adalah lawan dari komunikasi tatap muka. Komunikasi massa bersifat tidak langsung (indirect), artinya melalui media; satu arah (einseitig), yakni tidak ada reaksi timbale balik antara komunikator dengan penerima; bersifat terbuka (offentlich), yaitu ditujukan kepada khalayak yang tidak terbatas, anonym, dan tersebar. Secara singkat komunikasi massa adalah komunikasi melalui mediamassa boleleh bersifat tatap muka (seperti dalam rapat massa atau demonstrasi) atau interpersonal (seperti flusterpropaganda, propaganda berbisik). Jadi dari segi media, komunikasi massa lebih sempit dari publisistik. Tetapi publisistik hanya berkenaan dengan pernyataan yang bersifat public, persuasive, dan actual; sedangkan komunikasi massa memilki pesan yang lebih umum dari itu

Zur massencomunikaton rechnen sowohl aktually als auch rein untlerich he, belechrende, und unterhaltende ausagen, soveren sich durch massenmedienver breitet warden[2].
           
Jadi menurut Maletzke dilihat dari segi pesan,  komunikasi massa lebih luas dari publisistik. Anehnya, Haacke (1962) mengangap komunikasi massa sebagai bentuk spesialisasi (spezialfall) dari publisistik yang merupakan pengertian umum (oberbekriff).
            Sebagai kesimpulan, publisistik bukan sekedar ilmu pers dan tidak sama dengan komunikasi. Publisistik adalah ilmu yang dikembangkan untuk memahami dan mengendalikan segala tenaga yang mempengaruhi tindakan public. Komunikasi adalah istilah umum yang meliputi berbagai kegiatan pertukaran informasi tanpa mempersoalkan apakah kegiatan itu bersifat persuasive atau informative. Karena ada ilmu komunikasinyang lebih luas, apakah lalu publisistik lalu harus pamitan? Tidak, publisitik berguna untuk mengamati, menganalisis, merumuskan teori-teori tentang pengaruh pernyataan terhadap perubahan budaya dan social. Buat Indonesia, publisistik sebagai salah satu bagian dari ilmu komunikasi tetap menjadi studi yang menarik. Dalam focus yang lebih tajam, publisistik tampaknya lebih berat ke politik, sedangkan komunikasi kata Schramm adalah the busiest cross road , jalan simpang paling ramai dengan segala disiplin ilmu Schramm (1980) membandingkan dengan kota purba Bab Elh-D Eldaherah. Disitu musafir lewat, mampir, kemudian meneruskan perjalanan mereka masing-masing. Berbagai disiplin telah melakukan studi komunikasi, sehingga bekas persinggahan disiplin-disiplin ilmu ini tampak dalam keleluasaan ilmu komunikasi. Ini tampak jelas dengan melihat perkembangan ilmu komunikasi dewasa ini.
Karena  termasuk  ke dalam ilmu sosial  dan ilmu terapan , maka ilmu komunikasi  sifatnya interdisipliner dan multidisipliner. Ini di sebabkan oleh obyek materialnya sama dengan ilmu ilmu lainnya, terutama yang termasuk ke dalam ilmu sosial/ ilmu kemasyarakatan.
Bierstedt[3], dalam menyusun urutan ilmu menganggap jurnalistik  sebagai ilmu terapan. Pada tahun 1457 ia menulis buku yang berjudul Journalism diu yang semakin mempertegas perkembangan jurnalisme sebagai ilmu (science), bukan sekedar pengetahun (knowledge). Ditempat yang sama Joseph Pulitzer seorang tokoh pers  kenamaan di Amerika serikat  yang pada tahun 1903 mendambakan didirikannya “school of journalism”[4] sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan  pengetahuan  para wartawan. Gagasan Pulitzer ini mendapat tanggapan positif dari Charles Eliot dan Nicholas Murray Butler masing-masing  Rektor Harvard University dan Colombia University karena ternyata journalism tidak hanya mempelajari  dan meneliti hal-hal yang bersangkutan  dengan persurat kabaran  semata-mata, tetapi juga media massa lainnya. Maka journalism berkembang  menjadi mass comunication.
Dalam perkembangan selanjutnya  mass comunication  di anggap tidak tepat lagi karena tidak mencakup proses komunikasi  yang menyeluruh. Penelitian yang di lakukan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Hazel gaudert, Elihu Kats, dan para cendikiawan ilmu komunikasi lainnya menunjukkkan bahwa gejala sosial yang di akibatkan oleh media massa tidak hanya berlangsung satu tahap tetapi banyak tahap. Ini di kenal dengan two step flow comunication dan multi step flow comunication. Pengambilan keputusan banyak di lakukan  atas dasar hasil komunikasi  antarpersona (interpersonal communication) sebagai kelanjutan  dari komunikasi  massa  (mass comunication)
Oleh sebab itulah di Amerika serikat muncul communication  science  atau kadang-kadang di namakan juga communicology ilmu yang memepelajari  gejala-gejala sosial sebagai akibat dari proses komunikasi massa, komunikasi kelompok dan komunikasi antar persona. Kebutuhan orang-orang Amerika akan science of communication mulai berkecambah sejak tahun 1940-an disaat seorang sarjana bernama Carl I Hovland menampilkan definisinya mengenai ilmu komunikasi. Hovland mendefinisikan science of communication  sebagai;

a systematic attemp to  formulate  in rigorous fashion  the  principle by which  information is transmitted  and opinions nd attitudes are formad
(Upaya yang sistemik untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap)[5].

Pada tahun 1967 terbit buku  The Communicative Arts And Science Of Speech  yang diracik oleh Keith Brooks. Di dalam buku itu Brooks berkeyakinan bahwa communicology atau ilmu komunikasi merupakan integrasi prinsip-prinsip komunikasi yang di ketengahkan para cendikiawan berbagai disiplin akademik. Komunikasi berarti juga suatu filsafat komunikasi yang realistis; suatu program penelitian  sistemik yang mengkaji teori teorinya, menjembatani kesenjangan  dalam pengetahuan, memberikan penafsiran dan saling mengabsahkan  penemuan-penemuan yang dihasilkan disiplin khusus dan program-program penelitian. Komunikologi merupakan program yang luas yang mencakup tanpa membatasi dirinya sendiri kepentingan-kepentingan atau tekhnik tekhnik  setiap  disiplin akademik.
Dalam pada itu Joseph A Devito[6] dalam bukunya communicology an introduction to the study of communication menegaskan bahwa  komunikologi  adalah ilmu komunikasi oleh dan di antar manusia. Seorang komunikolog adalah seorang ahli ilmu komunikasi. Istilah  komunikasi dipergunakan  untuk menunjukkan tiga bidang study yang berbeda: proses komunikasi, pesan yang di komunikasikan, dan study  mengenai proses komunikasi.
Departement Of communication university of Hawai dalam penerbitan yang dikeluarkan secara khusus menyatakan communication as a social scince. Dan di tegaskan  di situ  bahwa  bidang study ilmu sosial mencakup  tiga kriteria:

1.      Bidang study di dasarkan  atas teory
2.      Bidang studi di landasi analisis  kuantitatif atau empiris
3.      Bidang studi mempunyai  tradisi yang di akui. 

Demikianlah  beberapa hal  yang menunjukkan bahwa komunikasi adalah ilmu  dan ilmu komunikasi ini termasuk kedalam ilmu sosial yang meliputi intrapersonal communication, interpersonal, group communication, mass communication, intercultural communication, dan sebagainya.
Jelas pula bahwa mass communication merupakan salah satu bidang saja dari sekian banyak bidang yang dipelajari dan di teliti oleh ilmu komunikasi. Komunikasi massa terbatas pada proses penyebaran pesan melalui media massa, yakni surat kabar, radio, telefisi, film, majalah, dan buku; tidak mencakup proses komunikasi tatap muka (face to face communication) yang juga tidak kurang pentingnya terutama dalam  kehidupan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah disusun suatu ikhtisar mengenai lingkup ilmu komunikasi di tinjau dari komponennya, bentuknya, sifatnya, metodenya, tekhniknya, modelnya, bidangnya dan sistiemnya yang penulis tuangkan secara sistemik dalam table di bawah ini:
            Komunikasi Dipandang Dari Berbagai Segi
Komponen komunikasi
a.       Komunikator (communicator)
b.      Pesan (message)
c.       Media (Media)
d.      Komunikan (communicant)
e.       Efek (effect)
Proses komunikasi
a.       Proses secara primer
b.      Proses secara sekunder
Bentuk Komunikasi
a.       Komunikasi Personal (personal communication)
1). Komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication)
2). Komunikasi antarpersonal (interpersonal communication)
b.      Komunikasi kelompok (group communication)
1). Komunikasi kelompok  kecil (small group communication) meliputi; Ceramah (lecture), Diskusi panel (panel discussion), Simposium (symposium), Forum, Seminar, Curahsaran (brainstorming), Dan lain-lain
2).Komunikasi kelompok besar (large group communication/public speaking)
Komunikasi massa
1)      Pers
2)      Radio
3)      Televisi
4)      Film
5)      Dan lain-lain
Komunikasi Medio
1)      Surat
2)      Telepon
3)      Pamflet
4)      Poster
5)      Spanduk
6)      Dan lain-lain
Sifat komunikasi
a.       Tatap muka (face to face)
b.      Bermedia (mediated)
c.       Verbal (verbal)Lisan (oral)
d.      Tulisan/cetak (written/printed)
e.       Nonverbal (non verbal)
1.      Kial/isyarat badamiyah (gestural)
2.      Bergambar (pictorial)
Metode Komunikasi

a.       Jurnalistik (journalism)
1.      Jurnalistik cetak (printed journalism)
2.      Jurnalistik elektronik (elektronic journalism)
* Jurnalistik radio (radio journalism)
* Jurnalistik televisi (television journalism)
b.      Hubungan masyarakat (public relation)
c.       Periklanan (publicyti)
d.      Propaganda
e.       Perang urat syaraf (psychological warfare)
f.        Penerangan
Tekhnik komunikasi

a.       komunikasi informatif (informative communication)
b.      komunikasi persuasif (persuasive communication)
c.       komunikasi instruktif (instruktive/coersive communication)
d.      hubungan manusiawi (human relation)
Tujuan komunikasi

a.       Perubahan sikap (attitude change)
b.      Perubahan pendapat (opinion change)
c.       Perubahan perilaku (behavior change)
d.      Perubahan sosial (social change)
Fungsi komunikasi
a.       Menyampaikan informasi (to inform)
b.      Mendidik (to educate)
c.       Menghibur (to entertain)
d.      Mempengaruhi (to influence)
Model komunikasi
a.       komunikasi satu tahap (one step flow communication)
b.      komunikasi dua tahap (two step flow communication)
c.       komunikasi multi tahap (multistep flow communication)
Bidang komunikasi
a.       Komunikasi sosial (social communication)
b.      Komunikasimanajemen/organisasional (management/organizational communication)
c.       Komunikasi perusahaan (business communication)
d.      Komunikasi politik (political communication)
e.       Komunikasi internasional (international communication)
f.        Komunikasi antar budaya (intercultural communication)
g.       Komunikasi pembangunan (development communication)
h.       Komunikasi lingkungan (environmental communication)
i.         Komunikasi tradisional (traditional communication)
Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Table di atas merupakan ikhtisar mengenai lingkup ilmu komunikasi dipandang dari berbagai segi[7]. sungguhpun disatu sisi penulis menyadari bahwa melukiskan ruang lingkup  disiplin ilmu yang sudah berkembang bukanlah hal yang mudah. Hingga saat ini sebetulnya belum ada rung lingkup komunikasi yang dapat diterima bersama. Para pakar di Amerika yang kerap menyandarkan diri pada filsafat Pragmatisme jarang berkeinginan untuk mengulas tentang ruang lingkup. Disini, tatkala persoalan apakah komunikasi itu dapat digolongkan ilmu atau tidak dapat mengancam eksistensi lembaga. Pembicaraan ruang lingkup menjadi esensial . runag lingkup yang baik paling tidak harus menunjukkan pembidangan yang mutually exclusive dan menujukkan spesialisasi yang sudah ada dan bakal ada.
Ruang lingkup Laswell sudah memadai akan tetapi belum terinci. Klasifikasinya lebih cocok untuk membimbing penelitian bukan untuk merumuskan kurikulum, lebih teoritis dariada praktis. Ruang lingkup gagasan kurang konsisten dan tidak mutually exclusive komunikasi masa misalnya sudah disepakati sebagai komunikasi melalui media masa. Makalah atau ‘gagasan’ memasukkan public relation, pameran, periklanan, dalam komunikasi masa. PR dapat dilakukan dalam konteks interpersonal, misalnya dalam hal hubungan kepegawaian atau hubungan dengan public internal lainnya. Periklanan dapat dilakukan secara interpersonal maupun masal. Outdoor advertising atau canvassing jelas tidak masuk komunikasi masa. Pameran jelas sekali bukan komunikasi masa, kecuali kalau sekilas muncul dalam televise.
Ruang lingkup di atas sungguhpun bukan genuine karya penulis akan tetapi diharapkan dalam melengkapi kekurangan dari berbagai ruang lingkup yang penulis racik dari banyak pakar.

Itulah tadi sekelumit wawasang Ilmu Komunikasi tentang Sejarah Komunikasi, semoga bermanfaat. To be continue…


[1] Henk Prakke (1976, h; 473)  dalam Astrid S Susanto, Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Bina Cipta, Bandung, 1977, hal; 98
[2] Maletzke (1`963, h. 14-15) dalam, Agus M Harjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, Kanisius, Jogjakarta, 2003, hal; 16 
[3]  Dedy Jamaluddin Malik, Melacak Perjalanan Ilmu Komunikasi Menuju Paradigma Baru, dalam kumpulan tulisan, Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi, Riyono Pratikto (ed), Remaja Karya, Bandung, 1982, hal; 15
[4] Walaupun demikian pelopor media untuk kali pertama adalah Johann Gutenberg yang mencetak informasi untuk pertama kali sehingga melahirkan komunikasi massa. Inilah peristiwa yang mengubah wajah eropa pada abad 15. Lih; Bradley Duane, 1971, The Newspaper: Its Place In A Democracy, New York: Pyramid Communication Inc., p; 143 
[5] Definisi Hovland di atas menunjukkan bahwa yang dijadikan obyek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap public (public atticude) yang dalam kehidupan social dan kehidupan politik memainkan peranan yang sangat penting, lih; Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Rosda Karya, Bandung, 2004, hal; 10 
[6] Joseph A Devito, Communicology an introduction to the study of communication, Harper & Row, New York, 1976, p; 101
[7]  Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi, Op. cit, hal; 19