.

Seks Bebas Remaja Imbas Dari Kemajuan Teknologi

================
Tanpa disadari, kemajuan teknologi saat ini membuat kita terjebak dalam budaya instan. Anak kelas 4-5 dan 6 SD sudah mengerti pacaran. Dan game, internet, facebook dan komik meracuni anak-anak SD dalam kehidupannya.
teknologi, seks, seks bebas, berita,

Teknologi baru, telepon gengam menjadi peran di tengah remaja SMP-SMA dalam seks bebas. Sementara para orang tua selalu terfokus menjadikan anaknya PNS. Orang tua sibuk dengan tugas masing-masing, tidak lagi mengutamakan kerukunan keluarga sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat satu keluarga lebih mendekat kepada kehancuran dan bermuara pada perceraian. Masalah perekonomian keluarga mendominasi masih tingginya jumlah angka perceraian.

Hal itu diungkapkan Dra Hj Elly Riswan Musa MA dan Prof Dr Hj Nurhayati Djamas MA saat memberikan tanggapannya pada ceramah Internasional Keluarga Sakinah berlangsung di Aula Martabe Kantor Gubsu Jalan Imam Bonjol Medan, Sabtu (25/6).

Menurut Elly Riswan dengan ceramah berjudul "Pembangunan Karakater Bangsa yang Islami dan Era Teknologi Modren", pesatnya kemajuan iptek yang terjadi di seluruh belahan dunia ini, menjadikan arus informasi diketahui sangat cepat, bahkan hanya melalui genggaman tangan, yakni dari telepon seluler.

"Akibatnya keberadaan remaja saat ini, sudah terjerat dengan sek bebas," ungkapnya dan menjelaskan hal itu seharusnya diambil langkah preentif, preventif dari keluarga atau di rumah.

Sedangkan Nurhayati Dhamas dengan judul "Membangun Ketahanan Keluarga Menghadapi Tantangan Global" mengupas keberadaan orang tua dalam mengendalikan keluarga dan anak-anaknya.

Kedekatan psikologis yang terbangun, menjadi benteng paling ampuh dan kuat untuk menangkal segala bentuk budaya yang tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia, ujarnya.

Mendidik Anak
Sementara Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho ketika membuka seminar itu, mengingatkan kepada orang tua untuk tidak melupakan tanggung jawab utamanya untuk mendidik anak. "Didiklah anak dalam kasih sayang agar karakter building anak tumbuh dengan baik," ungkapnya.

Kata Gatot, hilangnya karakter generasi muda berarti sama dengan akan hilangnya karakter bangsa. Karena itu, ungkapnya, seminar ini sangat penting dan strategis terutama bagi generasi penerus bangsa.

"Diharapkan kepada peserta bisa menyebarkannya sehingga tujuan seminar bisa diketahui masyarakat luas sebagai bagian integral pendidikan karakter itu," ucapnya.

Dua penceramah lainnya adalah Datok Chek Mat Bin Chek Ali dari Malaysia dengan makal "Strategi Perwujutan Keluarga Sakinah" dan Prof Dr H Syahril Harahap MA (Peran Keluarga dalam Pengalaman Masyarakat Islam di Asia Tenggara).

Ketua Panitia Dr H Maratua Simanjuntak menjelaskan, seminar internasional ini merupakan kerjasama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut dengan Pengadlan Tinggi Agama (PTA) Medan, Badan Penasehat,Pembinaan,Pelestarian dan Perkawinan (BP4) Sumut dan BKKBN Sumut.

Dikatakan Maratua Simanjuntak terlaksananya seminar digagas MUI Sumut ini, dengan latar belakang tingginya angka perceraian di Sumut mencapai 10.000 di tahun 2010.

Seminar dengan tema, "Peranan Keluarga Sakinah dalam Memperkokoh Makarakter Bangsa" mengundang peserta mahasiswa dari Malaysia, Singapura dan Thailand.

Ketua Umum MUI Sumut Prof Dr H Abdulah Syah MA dalam sambutannya menyatakan, perceraian sekalipun hukumnya halal, tapi sangat dibenci Islam, karena dapat dibayangkan bagaimana akibat buruk dari perceraian di tengah masyarakat.

Bila perceraian, mempunyai dua orang anak bakal tidak mendapat kasih sayang dan pendidikan dari kedua orang tuanya. "Kondisi ini sangat rawan dan menyuburkan peredaran narkoba, judi dan miras dan kejahatan lainnya. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, ulama dan masyarakat," tegas Abdullah Syah.

Ia menyarankan agar sebelum nikah/perkawinan calon suami istri perlu dibekali tentang rumah tangga dan kekeluargaan. Dengan bekal tersebut, terangnya bisa menangkal timbulnya perceraian dan menjadikan keluarga sebagai ujung tombak terbentuknya tatanan masyarakat ideal. (sumber: harian analisa/rmd)