Contoh Makalah Globalisasi Respon Islam Terhadap Kemajuan Informasi, Komunikasi Dan Teknologi

Berikut ini adalah posting tentang contoh makalah globalisasi yang menghadirkan tema tentang Globalisasi Dan Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini (Respon Islam terhadap Kemajuan Informasi, Komunikasi dan Teknologi) yang Disampaikan oleh Drs. M. Ilham Masykuri Hamdie, M.Ag dalam Seminar Pendidikan “Model Pembelajaran Berbasis ICT” di Tanjung, Kabupaten Tabalong, Minggu, 27 Maret 2011, yang diselenggarakan oleh Gerakan Bakti Pemuda Kalimantan (GBPK) Tanjung, Kabupaten Tabalong.


GLOBALISASI DAN TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI
(Respon Islam terhadap Kemajuan Informasi, Komunikasi dan Teknologi)
Oleh : Drs. M. Ilham Masykuri  Hamdie, M.Ag

Proses globalisasi dan dampaknya.    

Sekarang istilah ‘globalisasi’ sudah mewarnai wacana keilmuan. Menurut Albrow, istilah ‘globalisasi menunjuk kepada ‘all those processes by which the peoples of world are incorporated into a single society-global society’. Proses ini merupakan hal yang panjang yang masih terus berlangsung dan membawa perubahan yang luar biasa dan terus meningkat, terutama sebagai akibat dari kemajuan teknologi di bidang 3 T, yakni telekomunikasi, transportasi dan trade.

Proses globalisasi yang mengarah kepada terbentuknya global society itu pada dasarnya ditandai dengan terjadinya berbagai kecenderungan antara lain seperti :
  1. Perubahan konsep mengenai ruang dan waktu. Proses globalisasi telah mengikat masyarakat dari berbagai belahan dunia dan mendorong saling berinteraksi yang makin meningkat. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka konsep mengenai ruang dan waktu mengalami perubahan, seperti perkembangan di bidang transportasi menimbulkan perubahan penting dalam konsep ruang dan waktu. Jarak antar kota, antar negara, bahkan antar benua tidak lagi diukur dengan kilometer melainkan dengan sekian jam penerbangan. Pemilikan televisi yang berskala massif menambah semakin relatifnya pengertian ‘dekat’ dan ‘jauh’. Inilah proses yang sering disebut sebagai time-space compression (pemadatan waktu dan ruang).
  2. Volume interaksi sosial yang semakin meningkat. Seiring dengan perkembangan teknologi transportasi yang terus meningkat, maka meningkat pula volume hubungan kultural antar bangsa. Secara bersamaan melalui lembaga-lembaga pendidikan berlangsung pula alih-pengetahuan dan teknologi dengan daya jangkau yang makin luas. Penggunaan telephone, faksimile, komputer, internet dan telephone seluler telah mendekatkan mereka yang secara fisik saling berjauhan. Melalui media elektronik terbuka lebar kemungkinan bagi siapa saja untuk bersentuhan dengan gagasan dan pengalaman baru. Dalam proses ini nilai-nilai budaya dari pihak yang lebih dominan dalam penguasaan iptek akan cenderung berposisi dominan pula dalam interaksi kultural yang terjadi.
  3. Kesamaan problem penduduk dunia. Interaksi antar penduduk dari berbagai belahan dunia, menghadapkan umat manusia kepada isu-isu yang sama, juga menyadarkan manusia bahwa apa yang terjadi di suatu pojok dunia dapat berpengaruh bahkan memiliki tali-temali dengan peristiwa di bagian dunia yang lain. Semakin banyaknya masalah yang terkait bersifat global, menyadarkan manusia bahwa untuk mengatasi masalah-masalah demikian tidak bisa lain kecuali dengan pendekatan yang juga bersifat global.
  4. Saling hubungan dan saling ketergantungan yang semakin meningkat. Banyak problem yang dihadapi secara bersama, mengikat orang dalam suatu kondisi saling berhubungan dan saling ketergantungan yang terus meningkat. Inilah yang disebut a network society (masyarakat jaringan). Pendorong berkembangnya jaringan-jaringan dan faktor penguatnya adalah pengetahuan dan informasi. Karena itu kekuatan dan kelemahan sebuah lembaga akan sangat ditentukan oleh kemampuannya memanfaatkan dan mengembangkan jaringan serta menguasai informasi.
Globalisasi : Ancaman atau Tantangan

Perubahan-perubahan yang terjadi akibat proses globalisasi di atas, tentunya tidaklah terlalu mengejutkan. Sejak beberapa abad yang lalu, Ibnu Khaldun, seorang filosof dan sosiolog Muslim juga pernah mengemukakan tesis tersebut, di mana sebuah masyarakat senantiasa mengalami dinamika perubahan pola interaksi yang menuju arah tertentu, yang dapat menimbulkan dampak sosial maupun fisik.

Globalisasi dapat dimaknai dalam dua hal. Dapat dimaknai sebagai ‘alat’ dan dapat pula dimaknai sebagai ‘ideologi’. Alat adalah wujud keberhasilan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang komunikasi. Ketika globalisasi berarti alat, maka ia bersifat netral, dan itu berarti dan sekaligus mengandung hal-hal positif, ketika dimanfaatkan untuk tujuan yang baik. Sebaliknya dapat berakibat negatif, ketika hanyut kedalam hal-hal yang buruk. Jadi sangat tergantung kepada siapa yang menggunakannya dan untuk keperluan apa serta tujuan apa dan kemana dipergunakan. Terobosan teknologi informasi dapat dijadikan alat untuk pendidikan, dan dalam waktu yang bersamaan dapat pula menjadi ‘biang-kerok’ ancaman bagi suatu bangsa. Sedangkan globalisasi sebagai ideologi mewakili arti tersendiri dan membutuhkan kehati-hatian. Sebab tidak sedikit akan terjadi benturan-benturan nilai termasuk terhadap nilai-nilai moral dan pendidikan agama.

Baik sebagai alat maupun sebagai ideologi, globalisasi dapat menjadi ancaman, dan sekaligus sebagai tantangan. Sebagai ancaman, produk alat-alat komunikasi seperti TV, parabola, telepon, VCD, DVD, internet, dan lain-lain dapat membuka hubungan dengan dunia luar, dapat membuka wawasan masyarakat. Lewat media tersebut dapat pula disaksikan pornografi, film-film, sinetron yang menawarkan gaya hidup ‘bebas’ dan juga kekerasan-kekerasan. Banyak ancaman terhadap nilai-nilai agama dan norma budaya lokal. Bentuk konkritnya seperti budaya ‘Hollywood’ yang meracuni masyarakat kita, dan oleh masyarakat Baratpun --yang masih concern terhadap moralitas—juga dianggap negatif.

Sebagai tantangan, jika globalisasi itu memberi pengaruh positif, maka kita harus mampu menyerapnya dengan baik, terutama pada hal-hal yang tidak berbenturan dengan nilai-nilai agama dan budaya kita. Budaya yang di Barat atau negara lain yang bernilai positif itu dapat diserap dan dipraktekkan di tengah proses pendidikan yang dilakukan, seperti penanaman budaya disiplin, kerja keras, kejujuran, penghargaan terhadap prestasi, kompetisi, kemandirian, law enforcement, demokrasi, dan lain-lain. Disinilah maka pendidikan (agama) dapat berperan dan harus mampu menyaring mana yang baik diikuti, dan mana yang buruk harus dihindari.

Dalam suasana globalisasi, kata kuncinya adalah kompetisi, maka memasuki era globalisasi, berarti memasuki area kompetisi. Ketika kompetisi itu berkaitan dengan nilai agama dan budaya, maka persiapan diri, pembentukan kepribadian menjadi sangat penting, dan terkait dengan penyediaan SDM yang handal. Penyediaan ini meliputi kesiapan mental dan sekaligus kesiapan skill dan profesionalitas. Tantangannya adalah bagaimana para guru atau kaum pendidik kita dapat mempergunakan landasan agama dan kekuatan Informasi, komuniaksi dan teknologi (ITC) untuk meningkatkan kesiapan SDM yang handal dan mampu berkompetisi.

Jadi globalisasi itu membawa dinamika dan perubahan. Dalam dinamika dan proses perubahan tersebut tata masyarakat yang mapan mengalami kegoyahan, dan eksistensi sistem kemasyarakatan mulai dipertanyakan kembali. Karena perubahan-perubahan tersebut sifatnya menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, maka pengaruhnya menjadi begitu mendalam dan meluas, mulai dari lembaga keluarga, lembaga sosial, sampai kepada lembaga keagamaan. Sebagai contoh peranan tokoh agama --produk pendidikan masa lalu-- dalam kehidupan masyarakat sudah banyak digantikan oleh para elite sosial lainnya. Dalam pelayanan kesehatan, digantikan oleh dokter atau paramedis, dalam mobilisasi sosial banyak digantikan tokoh orsospol dan para birokrat. Dalam bidang otoritas keilmuan banyak disaingi oleh para intelektual. Dengan gambaran tersebut dapat diambil pengertian bahwa semua peran serta krediblitasnya dalam masyarakat sekarang sedang memasuki era  ‘arena kompetitif’ .

Citra dan Misi Lembaga Pendidikan Kita

Siapkah kita memasuki arena kompetisi itu ? Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang, seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Kedatangan Islam dengan usaha-usaha pendidikan dalam pengertian yang seluas-luasnya, merupakan sebuah transformasi besar. Namun demikian, sepanjang sejarahnya, banyak diabdikan terutama kepada al-ulum al-diniyah, ilmu-ilmu agama saja. Dengan demikian, ilmu-ilmu non-agama, khususnya ilmu-ilmu eksakta, yang merupakan akar-akar pengembangan sains dan teknologi berada dalam posisi marjinal.

Meskipun Islam pada dasarnya tidak membedakan nilai ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu non agama, tetapi dalam prakteknya, supremasi lebih diberikan kepada ilmu-ilmu agama. Ini disebabkan karena sikap keagamaan dan kesalehan yang memandang ilmu-ilmu agama sebagai ‘jalan tol’ menuju Tuhan. Sikap ini kemudian mempengaruhi sikap kelembagaan dan orientasi pendanaan hanya untuk kegiatan al-ulum al-diniyah yang berorientasi pada motivasi kesalehan, ketimbang pengembangan ilmu-ilmu umum yang memiliki aura yang ‘profan’.

Dengan demikian, akar-akar keterbelakangan dan ketertinggalan pendidikan Islam dalam sains dan teknologi dapat dilacak dalam sejarah tradisi keilmuan. Padahal, senang atau tidak, masa depan Dunia Muslim tergantung banyak pada kemampuan dan keberhasilan memajukan sains dan teknologi, dan itu pada giliran tergantung pada peningkatan kualitas lembaga-lembaga pendidikan Islam itu sendiri.

Berbagai penelitian menginformasikan bahwa bidang humaniora—termasuk agama-- dan sosial tetap merupakan bagian terbesar dan terpenting dalam sistem pendidikan Islam. Sebagai sebuah kasus, data yang diumumkan menunjukkan perbandingan antara mahasiswa eksakta dan sosial adalah 24:76 (Kompas, 5 Agustus 1994). Kemudian lulusan bidang ilmu-ilmu murni yang menjadi titik-tolak pengembangan sains dan teknologi berjumlah hanya 5.583 orang. Sedangkan kebutuhan mencapai 263.795 orang. Kepincangan ini akan menimbulkan implikasi negatif bagi penyediaan lapangan kerja dan upaya untuk menggenjot kemajuan sains dan teknologi. Belum lagi bila dicermati bahwa para pelajar dan mahasiswa kita kadang dipersiapkan bukan untuk menjawab tantangan perubahan, tetapi untuk mengejar status, gengsi dan selembar ijazah, bukan keahlian, keterampilan dan profesionalisme.

Tantangan globalisasi, bagaimanapun menuntut respon yang tepat dari sistem pendidikan kita secara keseluruhan. Jika kaum Muslim tidak ingin hanya sekedar ‘survive’ dan hanya menjadi ‘konsumen’ di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, maka reorientasi pemikiran tentang pendidikan Islam dan restrukturisasi sistem dan kelembagaannya jelas merupakan keniscayaan. Cara pandang yang menganak-tirikan sains dan tekonologi tidak bisa dipertahankann lagi.    

Diantara masalah-masalah pokok pada tingkat praksis yang belum terpecahkan antara lain adalah :
  • Lemahnya masyarakat ilmiah. Salah satu prasyarat pokok pengembangan riset ilmiah dalam masyarakat terdapat sejumlah ilmuan dan tenaga ahli yang mampu melakukan penelitian yang kontinyu dan terarah. Penciptaan masyarakat ilmiah yang mampu melakukan riset dan pngembangan ini tergantung terutama pada pertumbuhan SDM dan kebijakan-kebijakan ilmiah yang memungkinkan lebih banyak ilmuan untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka. Sampai saat ini mayoritas mahasiswa Muslim lebih berminat pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu social dari sains dan teknologi.
  • Kurang integralnya kebijakan dan tidak memadainya anggaran penelitian ilmiah. Disamping tidak adanya kebijaksan dan perencanaan yang jelas, terarah dan terpadu untuk pengembangan sains, anggaran untuk pengembangan ilmu dan penelitian juga sangat kecil, dan tidak menduduki tempat tang signifikan dalam anggaran dibandingkan dengan sektor lainnya. Hanya sekitar 0.1 sampai 0.3 persen dari GNP.
  • Kurang memadainya fasilitas perpustakaan, dokumentasi dan pusat informasi. Tidak perlu dipersoalkan lagi bahwa riset sainstifik memerlukan penyediaan informasi secara konstan dan lengkap, tetapi faktanya penyediaan fasilitas-fasilitas sangat terbatas, ditambah lagi kurangnya kesadaran di kalangan pengambil keputusan tentang pentingnya penelitian ilmiah. Mereka dengan argumen mempercepat proses alih sains dan teknologi, lebih senang mengimpor teknologi yang ‘siap pakai’ ketimbang mengembangkan sendiri.
  • Birokrasi yang ketat dan kurangnya insentif. Sains jelas akan lebih berkembang dan bermanfaat bila ditangani dalam atmosfir kebebasan. Jaring-jaring birokrasi yang ketat akan dapat membunuh kreatifitas dan cenderung menjebak kearah rutinitas, bukan kreatifitas. Selain itu masih rendahnya insentif financial dan moral yang memadai, sehingga sering terjadi ilmuan kita yang berimigrasi ke Negara-negara maju, dengan demikian terjadilah braindrain yang sangat merugikan masyarakat kita.
Revitalisasi Peranan Guru dan Para Pendidik

Dalam proses modernisasi dan globalisasi sekarang ini, ketika persoalan dan tantangan semakin berat dan kompleks. Walaupun mungkin, karena tidak mampu menjadi subjek, hanya sekedar ‘survive’ dan hanya menjadi ‘konsumen’ di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, maka kesiapan kita tentu terkait juga dengan keadaan kualitas para guru dan tokoh pendidik kita. Realitas yang terjadi menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat indikasi menurunnya peranan dan fungsi serta prestasi guru dan para pendidik di tengah-tengah pemecahan problem-problem sosial yang terjadi. Hal demikian dapat terjadi disebabkan banyak hal, antara lain adalah :

Pertama : Aspek Keilmuan. Bila visi dan misi keilmuan yang dikembangkan dilingkungan para guru dan tokoh pendidik kita cenderung berorientasi untuk menjaga dan memelihara tradisi keilmuan yang diwarisi dari masa lalu dan kurang semangat melakukan pengembangan dan aktualisasi sesuai dengan tantangan perubahan yang terjadi, maka kualitas keilmuan yang dikuasaipun hanya terbatas pada ilmu-ilmu tradisional yang kurang memberi wawasan yang luas dan tidak banyak mengapresiasi kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang.

Kedua : Aspek Wawasan. Banyak muncul kritik yang mulai diarahkan kepada para guru dan tokoh pendidik, yang sebagian besar sekarang lebih memperhatikan masalah ‘status’ daripada mengejar ‘prestasi’, sehingga nampak dalam stratifikasi sosial lebih bersifat pelembagaan status daripada pelembagaan fungsi. Dalam menyikapi cepatnya perkembangan zaman, sering tidak siap, sehingga mereka bukan melakukan penataan ulang atas nilai-nilai yang mengalami kegoncangan karena berlangsungan perubahan, tapi justru malah terjebak dalam keasyikan memelihara tradisi secara involusif tanpa mampu melakukan pengembangan yang kreatif atas tradisi.

Ketiga : Aspek Perilaku. Apabila sejarah peran ketokohan guru terdahulu telah menampilkan citra mereka sebagai teladan dan pengayom yang ‘digugu’ dan ditiru oleh anak didiknya masyarakat, sekarang ini banyak yang menuding para pendidik sudah kurang mampu menyandang posisi demikian. Komitmen keteladan dan pengayom terasa sudah memudar.

Adanya image dan kritik di atas, diharapkan tidak akan membuat para guru dan tokoh pendidik ‘kebakaran jenggot’, marah penuh keberangan, tetapi lebih baik dengan kearifan dan lapang dada, untuk melakukan introspeksi, ‘muhasabah’, ‘self-correction’ tentang arti jati-diri dan kepribadiannya.

Menghadapi perubahan dan tantangan globalisasi yang begitu berat, peran apa yang harus dilakukan oleh para guru dan tokoh pendidik yang menjadi ‘penjaga gawang’ masyarakat ? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya tidaklah sederhana, paling tidak, bersikap ‘selektif’. Inilah nampaknya sikap yang lebih tepat dalam menghadapi proses globalisasi. Dengan sikap ‘selektif’ ini para guru dan tokoh pendidik dituntut senantiasa bersikap terbuka terhadap perkembangan yang terjadi, kemudian menyaring dengan parameter ajaran Islam, mana yang patut diserap dan mana yang justru harus dibuang. Dengan sikap ‘selektif’ tersebut maka sikap keberagamaan yang harus dikembangkan para guru dan pendidik dalam aktivitasnya membimbing umat adalah melahirkan anak didik yang ‘saleh secara ritual, dan juga saleh secara aktual’. Yaitu suatu bentuk keberagamaan yang selain tercermin dalam keimanan dan ketakwaan yang kuat, juga tercermin dalam kualitas ilmu dan amal yang terus meningkat. Para guru dan para pendidik harus mampu membimbing anak didik untuk memahami realitas, memaksimalkan potensi dan akhirnya mengembangkan kepribadian di tengah-tengah masyarakat global. Para guru dan tokoh pendidik harus mampu melakukan sikap ‘think globally, act locally’, masalah-masalah global memang harus dipikirkan, tetapi bertindaklah pada batas-batas lokal.

Perlu Landasan Hidup.

Menghadapi ancaman, haruslah mempunyai landasan yaitu ajaran Islam itu sendiri, dalam waktu bersamaan untuk menghadapi tantangan, maka perlu juga landasan motivasi, inspirasi dan akidah yang kuat. Untuk itu, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian antara lain :
  • Menumbuhkan kesadaran kembali tentang tujuan hidup menurut Islam. Manusia, baik sebagai hamba Allah, maupun sebagai khalifah Allah, tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusahaa untuk memperoleh ridho-Nya untuk meselamatan dunia dan akherat. Disini iman dan takwa sangat penting untuk dijadikan landasan. Dengan demikian, ketika memasuki era globalisasi, akan selalu ingat kesadaran keberagamaan ini;
  • Menumbuhkan rasa tanggung-jawab atas apa yang diperbuat, baik formalitas administratif sesuai dengan ketentuan yang ada di dunia sendiri, maupun konsekwensi di akherat kelak.  Memasuki kehidupan globalisasi selalu sadar akan tanggung-jawab terhadap apa yang diperbuat dengan segala konsekwensinya;
  • Meningkatkan kajian dan pemaknaan ajaran agama tentang posisi manusia sebagai individu yang mempunyai etos kerja yang kuat dan berorientasi pada karya, produktivitas, prestasi dan kompetisi, yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dan tekanan kajian yang proporsional, sebaliknya lebih banyak adalah bersifat aplikatif-deterministik (jabbariyah).
  • Era globalisasi adalah arena kompetisi dan prestasi, untuk itu dibutuhkan sikap self-confidence (percaya diri) dan ini terkait dengan semangat ‘individualisme’ di atas (bukan egoisme). Self-confidence tentu akan melengkapi persyaratan skill dan profesionalitas yang telah dimiliki seseorang sehingga terhindar dari sikap inferiority (perasaan rendah diri/minder).

Catatan Penutup.

Seandainya masa (al-ashr) kita maknai dengan berlakunya era globalisasi, maka untuk mereka yang tidak merugi itu adalah mereka yang dapat memenuhi persyaratan :
  1. Memiliki landasan spiritual dengan orientasi keimanan yang kuat sehingga tidak terhempas ke dalam hidup yang dis-oriented, yang dapat membawa kekosongan jiwa dan penderitaan batin;,
  2. Orientasi keimanan itu diwujudkan dalam prestasi yang berwujud amal-saleh, yang tentu tidak diorientasikan hanya untuk keakheratan semata, tapi dielaborasi secara lebih kuat, kreatif, dinamis dan inovatif dalam kerja keras, disiplin, prestasi dan kompetetif, tentunya dengan kesiapan SDM yang kuat sebagai hasil dari proses pendidikan yang baik dan benar;
  3. Selalu berada dalam kebenaran, dalam legal framework, dalam landasan hukum yang kuat, serta ikut serta dalam menegakkan law enforcement yang mapan. Disini upaya saling check and recheck, saling mengingatkan, kritik yang konstruktif, saling memberi informasi yang baik.
  4. Dan terakhir diperlukan pemahaman yang mendalam tentang kesabaran,, tentang dimensi tahapan demi tahapan dalam menempuh kehidupan ini. Bahwa hidup yang prestasi bukanlah seperti membalikan tangan, tapi memerlukan usaha yang kontinyu dan konstan dengan modal kesabaran dan ketabahan.
Wallahu a’lamu bis-showab

source: sabilalmuhtadin.net

itulah tadi makalah globalisasi dengan tema Globalisasi Dan Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini (Respon Islam terhadap Kemajuan Informasi, Komunikasi dan Teknologi). semoga bermanfaat.