Pendidikan Kesenian Sejarah Perkembangan Mooi Indie

Pendidikan Kesenian Sejarah Perkembangan Mooi Indie - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu. Pada kesempatan kali ini kumpulan ilmu akan berbagi artikel kesenian tentang "Analisis Kritik Terhadap Karya-Karya Seni Lukis Periode Mooi Indie (Studi Kasus Terhadap Karya-Karya Lukisan Pemandangan Alam Wakidi)" yang disusun oleh sobat Satrio Hari Wicaksono (Penulis adalah Dosen di STISI Telkom Bandung dan Asdos di ITB | blog: blog.stisitelkom.ac.id/members/satrio | facebook.com/satrio.h.wicaksono). semoga ada guna dan manfaatnya.

Agus Wakidi, Ngarai Sihanok

Sejarah Perkembangan Mooi Indie

Dalam masa Hindia-Belanda, Indonesia memasuki periode melukis realis yang dikenal dengan istilah mooi indie. periode ini dimulai ketika Indonesia telah mengalami kekosongan hampir setengah abad sejak perkembangan masa awal yang dirintis oleh Raden Saleh. Kekosongan jarak yang cukup lama tersebut mengakibatkan periode ini tak memiliki keterkaitan secara langsung dengan karya-karya Raden Saleh yang meninggal pada tahun 1880, walaupun menggunakan pendekatan gaya melukis realis yang sama. Dalam karya-karya Raden Saleh terdapat lukisan-lukisan potret wajah dan pengungkapan kehidupan binatang dengan cara realistis-mendetail ala lukisan-lukisan renaissance Eropa dengan penggunaan disiplin teknis yang sangat tinggi, tak begitu dengan karya-karya pada periode mooi indie yang memiliki kecenderungan utama pada lukisan-lukisan yang mendeskripsika keindahan alam. Walau pada masa ini berkembang pula penggambaran lukisan potret wajah namun pemandangan alam mempunyai kedudukan utama dalam seni lukis masa ini.

Nama mooi indie berarti keindahan atau keelokan pada masa Hindia, nama ini diberikan untuk menamai jenis-jenis karya dan pengangkatan tema seni lukis yang berlangsung pada masa Hindia Belanda antara tahun 1925 hingga tahun 1938. Pada masa ini, idealisme seni lukis yang sebenarnya belum terbentuk, yang dapat dikategorikan secara jelas hanyalah bahwa pada periode ini kelompok seniman dibagi menjadi dua kelompok, yang juga mendasari perbedaan kelompok dalam masyarakat kala itu, yaitu kelompok penguasa kolonial (bangsa asing) dan yang kedua adalah kelompok rakyat pribumi (bangsa Indonesia). Karena terjadinya pembagian strata dalam masyarakat inilah maka pelukis-pelukis dari kelompok asing kurang memandang dan menghargai kelompok pelukis pribumi yang jumlahnya terhitung sedikit pun sebagai teman seperjuangan yang sederajat, maka masing-masing kelompok pun akhirnya berjuang sendiri-sendiri.

Kelompok bangsa asing yang bersatu menamai kelompok keseniannya dengan nama Kunst-kring. Mereka berusaha mengungkapkan rasa pendekatan mereka secara pribadi, tapi tetap dari sudut pandang orang luar terhadap alam lingkungan Indonesia dengan melukiskan adat-istiadat yang terjadi dalam masyarakat. Bali menjadi penggambaran bentuk kehidupan budaya yang paling menarik bagi mereka, terlihat dalam pengangkatan motif-motif atau tema lukisan seperti adu ayam, penari Bali, pesta ngaben, bekerja di sawah, banguna pura tua dan lain sebagainya. Namun karena penghayatan yang dilakukan tak cukup dalam, membuat karya-karya mereka terbatas pada penonjolan teknis dari seni lukisnya saja, sedangkan unsur-unsur kejiwaan yang dari tema yang dihadirkan justru dirasa gagal, karena lebih menonjolkan keindahan luar tanpa banyak membawakan latar belakang dari konstelasi kebudayaan yang sebenarnya.

Sedangkan dari kelompok pribumi yang jumlahnya hanya sedikit terdapat tiga orang yang dianggap penting, yaitu R. Abdullah Surjosubroto, Wakidi dan Pringadi. Dengan jumlah yang sangat sedikit ini, ternyata mereka hidup menyebar dan saling berjauhan antara yang satu dengan yang lainnya dan melakukan pergerakan sendiri-sendiri. R. Abdullah Surjosubroto atau yang lebih dikenal dengan nama Abdullah Sr. hidup dan melukis di Bandung, Jawa Barat, Wakidi menetap di Sumatra Barat sedangkan Pirngadi berkarya di Jakarta dan lebih sering bekerja untuk ilustrasi penulisan. Dalam melukis pemandangan alam, Abdullah Sr dan Wakidi terlihat lebih produktif dan baik secara teknis jika dibandingkan dengan M.Pirngadi.

Pada awalnya kecenderungan pengambilan tema lukisan pemandangan alam dihadirkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang mendatangkan para pelukis Belanda untuk melakukan tugas melukiskan pemandangan alam, kota dan beberapa hal lainnya di Indonesia, walaupun ada yang datang sendiri karena keinginan bertualang dan akhirnya tertarik dengan keindahan alam Indonesia. Para pelukis inilah yang akhirnya mengenalkan kepada orang-orang Indonesia seni lukis pemandangan alam yang telah berkembang sejak tiga atau empat abad belakangan di Eropa. Dan akhirnya ada beberapa orang Indonesia yang akhirnya tertarik dengan lukisan pemandangan alam ini.

Perkembangan borjuisasi di Eropa membawa pengaruh terhadap perkembangan lukisan pemandangan alam di negeri ini. Di Eropa, perkembangan masyarakat kelas menengah memberikan dampak terhadap perkembangan lukisan alam, hal ini dikarenakan masyarakat kelas menengah, yang mayoritas kaum saudagar dan pengusaha kurang menyukai lukisan yang menggambarkan adegan cerita dari Injil kesusastraan Klasik yang menjadi kegemaran kaum bangsawan. Mereka lebih menyukai lukisan yang menggambarkan hal yang biasa saja seperti lukisan pemandangan alam. Terlebih lagi, lukisan pemandangan alam akan membawa mereka istirahat sejenak dari kesibukan dan kehidupan kota yang bising dan kotor. Para saudagar dan pedagang inilah yang membawa cita-rasa ini ke Indonesia. Karena melakukan interaksi dan pergaulan dengan kaum saudagar dan pedagang inilah, kalangan teratas masyarakat Indonesia yang merupakan kaum terpelajar terpengaruh cita-rasa ini.

Dengan adanya pengaruh tersebutlah akhirnya terbentuk konsumen lukisan pemandangan alam di Indonesia. Para saudagar, pedagang Belanda dan kaum terpelajar Indonesia menginginkannya sebagai cinderamata dari alam Indonesia. Sudah tentu hal ini akhirnya meluas ke segala lapisan masyarakat.

Karena adanya pasar yang meminati dan kekaguman masyarakat inilah lukisan pemandangan alam berkembang pada masa itu, disamping memang kesenangan dari para seniman itu sendiri untuk melukis pemandangan alam. Para pelukis seperti Abdullah Sr, M.Pirngadi, dan Wakidi sering meluangkan waktunya untuk mengasingkan diri dari kehidupan yang ramai dan pergi ke tempat sepi untuk merenungi pemandangan alam serta dengan tekun malukiskannya.

Secara teknis, penggambaran lukisan pemandangan alam ini menggunakan faedah teknis yang telah menjadi kebiasaan dan ketentuan dalam seni lukis Belanda dan Eropa. Dalam teknis ini perspektif harus diperhitungkan secara teliti dan mendetail. Ruang lukisan pun dibagi menjadi tiga bagian : depan, tengah dan belakang. Salah satu dari ruang itu akan ditonjolkan dan diberi cahaya sedangkan ruang-ruang lainnya akan diredam dan dimatikan. Warna-warna pun dipilih dan diambil dengan ketentuan yang lazim, dicampur baik-baik dan menghindari pencampuran di kanvas untuk menjauhkan kesan kotor, dan kemudian digoreskan secara halus di atas kanvas.

Pada akhir periode ini, ada beberapa seniman yang cukup dikenal sebagai penerus angkatan sebelumnya. Salah satunya adalah Basuki Abdullah. Basuki Abdullah adalah putra dari Abdullah Sr. yang sempat melakukan studi di Rijks Academie di Den Haag, Belanda. Pada tahun-tahun terakhir masa Hindia Belanda, Basuki Abdullah kerap mengadakan pameran-pameran di beberapa kota-kota besar di Jawa dengan menampilkan karya-karya potret manusia, pemandangan dan binatang.

Selain Basuki Abdullah, seniman lain yang cukup dikenal di Jakarta ialah Lee Man Fong. Ia banyak menyoroti tentang kehidupan di pulau dewata Bali melalui tampilan tubuh-tubuh wanita dalam lukisannya. Selain itu, ia juga menghadirkan kehidupan kota Jakarta yang ditampilkan dengan penggambaran penjual kaki lima di pinggiran jalan. Lee Man Fong juga kerap melukis binatang, burung dara menjadi objek yang sangat digemari olehnyayang disusun dalam komposisi bidang yang memanjang ke bawah, sebagaimana lazimnya bentuk lukisan tradisonal Cina. Penggambaran binatang-binatang yang kerap muncul dalam lkisan tradisional Cina seperti kuda dan harimau pun muncul dalam beberapa lukisannya namun dengan penggarapan pribadinya.

Periode mooi indie pun memasuki masa akhirnya ketika mendapatkan tentangan dari berbagai pihak terutama S.Sudjojono. Ia berpendapat bahwa lukisan pemandangan alam tak mewakili gambaran masyarakat pada saat itu dimana rakyat Indonesia sedang berjuang melawan penjajah. Dari sinilah dimulai periode baru, realisme sosial.

bersambung...

Itulah tadi posting tentang Sejarah Perkembangan Mooi Indie. semoga ada guna dan manfaatnya. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu, he he he. wassalam