.

Pendidikan Kesenian Teori-Teori Yang Relevan Dengan Perkembangan Mooi Indie

Pendidikan Kesenian Teori-Teori Yang Relevan Dengan Perkembangan Mooi Indie - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu. Pada kesempatan kali ini kumpulan ilmu akan berbagi lanjutan artikel "Analisis Kritik Terhadap Karya-Karya Seni Lukis Periode Mooi Indie (Studi Kasus Terhadap Karya-Karya Lukisan Pemandangan Alam Wakidi)" yang disusun oleh sobat Satrio Hari Wicaksono (Penulis adalah Dosen di STISI Telkom Bandung dan Asdos di ITB | blog: blog.stisitelkom.ac.id/members/satrio | facebook.com/satrio.h.wicaksono). untuk lebih lengkap baca juga posting sebelumnya "Sejarah Perkembangan Mooi Indie". semoga ada guna dan manfaatnya.

Wakidi, Mountain Landscape

Teori-Teori Yang Relevan Dengan Perkembangan Mooi Indie

Teori Mimesis

Secara umum kajian tentang tema dan karakteristik visual yang tampil dalam karya-karya mooi indie memiliki kecenderungan yang dekat dengan teori mimesis yang diutarakan oleh Plato. Plato dengan filsafat tentang ide menganggap bahwa seniman itu meniru kenyataan tiruan. Dalam konsepsi Plato, realitas yang utama adalah ide, sebuah pemikiran yang kekal, mutlak, universal dan sempurna serta takkan hancur. Alam, menurut Plato hanyalah tiruan dari ide tersebut (realitas II), yang mengacu pada bentukan luarnya saja (eksternal object), yang tak abadi dan akan hancur, seperti yang diungkapkan oleh Plato : “ kenyataan yang ada di alam bukanlah kenyataan yang sebenarnya”. Sedangkan seni, menurut Plato adalah sebuah tiruan (mimesis) yang meniru sebuah tiruan (objek nyata yang ada di alam) dari suatu ide (realitas III). Contohnya jika seorang pelukis melukiskan sebuah kursi maka sebenarnya ia meniru dari sebuah kursi tiruan dari konsepsi ide tentang kursi. Dapat dikatakan bahwa seni merupakan bentuk esensial dari alam kebaikan dan keindahan.

Pendapat ini juga dilanjutkan oleh kaum Romantik Eropa yang berpendapat bahwa dunia-tampak itu hanyalah objek yang tak berjiwa, dan hanya dinamika dan vitalitas intelek sang seniman sajalah yang mampu menghidupkan objek-objek mati itu melalui kedalaman dan ketinggian dunia idenya.

Pendapat ini kemudian ditantang oleh Aristoteles yang merupakan murid Plato, seperti juga Plato, Aristoteles menganggap seni juga sebagai tiruan alam, namun meniru di sini bukanlah seperti pantulan dari gambar cermin, tetapi melibatkan renungan atau meditasi yang kompleks atas kenyataan alam. Hal ini sedikit berbeda dengan yang diutarakan oleh Plato yang menganggap bahwa itu hanyalah tiruan dari dunia ide, yang terdengar seperti pemaknaan yang ‘melecehkan’ seni.

Pemahaman dari Aristoteles ini kemudian melahirkan apa yang disebut realisme dan naturalisme dalam seni pada abad ke-18 yang menganggap seni merupakan cerminan dari kenyataan, atau lebih mudah dikatakan bahwa seni itu merupakan cerminan dari masyarakat. Kaum naturalis malah menganjurkan para seniman bekerja berdasarkan sikap ilmiah. Sebuah karya seni harus dimulai dengan kerja observasi dan eksperimen. Imajinasi tak dibutuhkan sama sekali.

Pada abad ke-19, kaum mimesis dalam aliran realisme dan naturalisme membelokkan kembali pada gagasan mimesis semula, yaitu pentingnya struktur mental seniman dalam melihat dan menghadapi kenyataan objektif. Seni adalah suatu cara yang istimewa dalam melihat kenyataan. Kenyataan dalam seni tidak boleh dikaburkan dengan kenyataan alamiah objektif. Kenyataan objektif itu direpresentasikan dalam suatu proses realitas, yaitu setelah dibentuk berdasarkan makna dan struktur dunia bentukan seniman.

Kubu mimesis terakhir menyebutkan bahwa apa yang disebut kenyataan objektif itu tak ada. Segala sesuatu itu ada karena setiap orang mempunyai persepsi sendiri tentang kenyataan di luar dirinya. Realisme yang seperti dianggap milik bersama, yakni melihat suatu kenyataan sebagai kesadaran bersama, sebenarnya tak pernah ada. Kenyataan tak pernah objektif. Semua kenyataan bersifat subjektif, tiap orang melihat kenyataan dengan cara yang berbeda satu sama lain.

Dari gambaran di atas dapat terlihat bahwa kedua kubu tetap meyakini adanya hubungan antara benda seni dengan realitas di luar diri senimannya. Tetapi, terdapat perbedaan pandangan mengenai cara melihat dan kemudian merepresentasikannya. Seni tidak dapat dipisahkan dari realitas hidup lingkungan senimannya. Di satu pihak, realitas dilihat secara subjektif melalui struktur mental senimannya, dan di lain pihak realitas itu sedapat mungkin dihadirkan secara objektif tanpa campur tangan subjek seniman. Dalam pandangan yang terakhir ini sering terdapat kekacauan antara objektivitas dalam dokumentarian dan subjektif dalam pengertian psikologi seniman yang mau tak mau terlibat dalam melukiskan kenyataan objektif dalam karyanya. Juga sering dikacaukan antara sikap netral dan sikap objektif. Sikap netral belum tent objektif dan sikap objektif tidak dengan sendirinya netral.

itulah tadi posting tentang Teori-Teori Yang Relevan Dengan Perkembangan Mooi Indie. semoga ada guna dan manfaatnya. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu, he he he. wassalam