Interpretasi Karya-Karya Wakidi

Interpretasi Karya-Karya Wakidi - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu. Pada kesempatan kali ini kumpulan ilmu akan berbagi lanjutan artikel "Analisis Kritik Terhadap Karya-Karya Seni Lukis Periode Mooi Indie (Studi Kasus Terhadap Karya-Karya Lukisan Pemandangan Alam Wakidi)" yang disusun oleh sobat Satrio Hari Wicaksono (Penulis adalah Dosen di STISI Telkom Bandung dan Asdos di ITB | blog: blog.stisitelkom.ac.id/members/satrio | facebook.com/satrio.h.wicaksono). untuk lebih lengkap baca juga posting sebelumnya Analisis Kritik seni lukis mooi indie Wakidi "Floating Village". semoga bermanfaat.


Interpretasi Karya-Karya Wakidi

Berdasarkan analisa formal yang telah dilakukan sebelumnya dapat dilihat  kecenderungan yang sering muncul dalam lukisan-lukisan periode mooi indie khususnya Wakidi adalah lukisan pemandangan alam. Walaupun terdapat karya yang mengangkat tentang problematika sosial, namun jumlahnya tak terlalu banyak dan terbatas.

Jelas terlihat pengaruh dari para seniman Belanda yang datang ke negeri ini untuk melakukan dokumentasi secara estetis, karya-karya lukisan Wakidi pun terlihat sangat dekat dengan kecenderungan sebagai dokumentasi. Keindahan pemandangan alam dan  lingkungan tempat tinggal penduduk menjadi pilihan utama yang sering dilakukan. Begitu pula dengan pemilihan teknik yang digunakan Wakidi yang cenderung halus tanpa guratan ekspresi dari emosi khas teknis penggambaran alam yang dilakukan oleh para sepelukis-pelukis pemandangan alam di Eropa. Pengaruh ini wajar terjadi mengingat Wakidi mengasah kemampuan melukisnya dari seorang seniman Belanda bernama van Dick, tentu secara tematik dan teknis Wakidi sangatlah terpengaruh dari sang guru.

Dapat dikatakan pada lukisan pemandangan alam seperti Mountain Landscape dan Ngarai Sihanok yang ditampilkan Wakidi di atas terdapat kecenderungan-kecenderungan yang muncul sebagai karakteristik khas mooi indie, semua serba bagus, tenang, damai dan romantis bagaikan di surga. Kecuali pada karya IV yang cenderung menggambarkan tentang problematika sosial. Tampilan-tampilan objek yang selalu tampil seperti gunung, pohon kelapa dan sawah seperti menjadi dogma yang wajib untuk digambarkan dalam lukisan yang kemudian hari dikritik oleh S.Sudjojono.

Tentang penggambaran objek-objek yang selalu tampil tersebut, mungkin inilah cara yang dipilih oleh hampir semua seniman pada masa Hindia Belanda, tak terkecuali Wakidi, untuk mengenalkan (atau sekedar menjadi kenang-kenangan bagi para turis) keindahan alam negeri ini karena penikmat seni pada masa itu hanyalah kaum saudagar dan pedagang Belanda serta kaum-kaum kelas atas negeri ini yang tak terlalu mengetahui tentang eksotika keindahan alam Indonesia yang berada di pelosok-pelosok negeri yang jarang atau bahkan tak pernah dikunjungi oleh mereka.

Hampir seperti para seniman mooi indie lainnya, dalam proses berkaryanya Wakidi melakukan observasi dengan melakukan pendekatan langsung dengan pemandangan alam yang akan dilukiskannya dan membawa serta kanvasnya langsung ke alam bebas untuk langsung dilukiskan. Wakidi berusaha untuk menghadirkan realitas keindahan pemandangan alam tersebut seobjektif mungkin walaupun dengan sedikit pendekatan subjektif seperti melakukan perubahan gelap-terang, pewarnaan dan sedikit penggeseran pada objek yang dilukisakan sebagai kebutuhan untuk menghadirkan penggambaran eksotika alam yang lebih maksimal.

Kecuali dalam karya Floating Village, terdapat sedikit perbedaan yang mendasar, Wakidi lebih mengedepankan penggambaran problem yang terjadi dalam masyarakat seperti bencana banjir dalam karya tersebut. Walaupun gaya ungkapnya tak terlalu berbeda karena tetap menggunakan visualisasi tentang eksotika alam walaupun di saat banjir, namun penempatan warna yang sangat kusam mencerminkan perasaan sedih serta kesan yang suram dan miris. Selain itu, terjadi pergeseran fokus utama dalam karya ini yaitu hadirnya cerita tentang keadaan sosial masyarakat ketika terjadinya suatu bencana, seperti penggambaran orang yang sedang pindahan rumah. Meski pengejawantahannya terhitung sederhana namun aktivitas masyarakat jelas terdokumentasi secara baik dalam karya itu.

Secara umum pemvisualisasian dalam karya-karya Wakidi cenderung sama, dimana fokus utama selalu berada di tengah bidang gambar. Yang menjadikannya berbeda mungkin bagaimana penempatan dari fokus utama tersebut, seperti perbedaan dalam karya II dan karya III, dimana pada karya II fokus utama berada dalam ruang tengah sedangkan dalam karya III penempatan fokus utama terletak pada ruang belakang. Namun, hal tersebut tak menghalangi objek-objek tersebut menjadi fokus utama berkat kepiawaian sang seniman dalam menempatkan pewarnaan dan teknik pencahayaan yang tepat.

Sebenarnya jika dibandingkan dengan era sebelumnya yang terpisah cukup lama, Raden Saleh telah mampu melukis potret manusia, kehidupan binatang serta keindahan alam, kemunculan kembali seni lukis Indonesia pada periode mooi indie yang hanya mampu menampilkan tema pemandangan alam semata jelas merupakan suatu kemunduran dengan penyempitan kemampuan teknis dan tema. Namun ada hal positif yang dapat diambil, karena dengan munculnya lukisan-lukisan pemandangan alam Indonesia, masyarakat seolah-olah diajak untuk mengenal lebih dekat pada sifat-sifat alam Indonesia yang indah dan sudah sepantasnya dicintai.

Dengan pendekatan teknis yang cukup baik, maka pesan-pesan dari lukisan Wakidi yang mengutamakan keindahan dalam proses penggambaran pemandangan alam dapat diapesiasi dengan mudah dan mengena. Ia seolah mampu mengajak penikmatnya untuk mengagumi keadaan alam Indonesia yang begitu indah dan sejenak melupakan kepenatan dengan kehidupan perkotaan (para penikmat seni zaman Hindia Belanda cenderung orang-orang Belanda dan orang Indonesia berkasta tinggi yang tinggal di daerah perkotaan) dan masuk ke dalam suasana pemandangan alam yang tenang, teduh, hangat dan santai.

Daftar Pustaka
  • Refleksi Seni Rupa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000
  • Sejarah Seni Rupa Indonesia, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Jakarta,1979
  • Seni Lukis Indonesia Tidak Ada, Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, 2007
  • Seni Rupa Indonesia dan Pembinaannya, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Jakarta,1978
  • Sumardjo, Jakob, Filsafat Seni, Penerbit ITB, Bandung, 1999
  • Yuliman, Sanento, Dua Seni Rupa, Penerbit Kalam, Jakarta, 2001

Dan akhirnya, lengkap sudah sharing artikel "Analisis Kritik Terhadap Karya-Karya Seni Lukis Periode Mooi Indie (Studi Kasus Terhadap Karya-Karya Lukisan Pemandangan Alam Wakidi)". semoga ada guna dan manfaatnya. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu, he he he. wassalam