.

Kajian Historis Seni Pertunjukan Wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya

Artikel Budaya "Dari Wayang Potehi Ke Wayang Thithi"

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan kali ini kumpulan ilmu akan berbagi  Artikel Budaya tentang Dari Wayang Potehi Ke Wayang Thithi (Suatu kajian Historis Seni Pertunjukan Wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya) Oleh sobat Ngesti Lestari (Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro). atau mungkin sobat ingin membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Cheat GTA Vice City PC". semoga bermanfaat.


Dari Wayang Potehi Ke Wayang Thithi
(Suatu  kajian Historis Seni Pertunjukan Wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya)
Oleh : Ngesti Lestari
Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

ABSTRACT
Potehi Puppets is a traditional legend of China Heroes. It made from a cloth which its characters simbolism of man. It comes from Hokkian province at 3th until 5th century by Jin dinasty. Since Cheng Ho navigation routes to Southeast Asia especially in the Java Sea, the Chinese culture spreading arround the Javanese Culture. So it became an acculturation and assimilation of two cultures. This reseach making on history research with cultures approach especially of arts. The Chinese and Javanese cultures became acculturation arts, and this research called Potehi Puppets and ThiThi Puppets.

Key Words: Puppets, Potehi, Thithi, Chinese-Javanese Culture, Acculturation.

I. PENDAHULUAN
Sejarah kehadiran bangsa Cina di Nusantara berkembang selama beberapa abad di Nusantara dan menghasilkan budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat. Pada umumnya untuk mengkaji sejarah kedatangan bangsa Cina ada kecenderungan lebih dititik beratkan kepada aspek ekonomi dan politik, sedangkan aspek budaya kurang mendapat perhatian, sehingga  golongan etnis Cina di Asia Tenggara telah mendapat sebutan sebagai “minoritas dagang”, seakan-akan mereka tidak memiliki budaya ataupun karya sastra. Berdasarkan penelusuran sumber-sumber sejarah, pada kenyataannya mereka tidak hanya memiliki karya-karya sastranya dalam bahasa Cina, tetapi juga dalam bahasa-bahasa setempat seperti bahasa Melayu (Indonesia), bahasa Jawa, Bugis dan bahasa-bahasa lainnya di Nusantara.

Ditinjau dari segi historis, kedatangan bangsa Cina di Indonesia,  akan terkait pula dengan keberadaan etnis Cina mulai dari zaman kerajaan Tarumanegara pada abad ke V mereka telah berlayar sampai ke perairan Nusantara. Pada saat itu telah terjalin   hubungan baik antara raja-raja Cina dengan kerajaan Tarumanegara. Demikian pula warisan budaya Cina di kota Semarang akan terkait pula dengan kedatangan Cheng Ho yang sekarang replika kapalnya menjadi ikon wilayah Pecinan. Pelayaran Cheng Ho merupakan sarana pembuka jalan masuknya budaya Cina di kota-kota pelabuhan pantura Jawa termasuk Semarang dengan naik junk besar sehingga mereka disebut manusia perahu.1  Sepeninggal Cheng Ho makin banyak orang-orang dari Cina yang datang ke Indonesia.

Pemukiman Cina berkembang  dengan pesat hampir di seluruh kota-kota pelabuhan pantura Jawa terutama setelah tahun 1000 ikut meramaikan perdagangan di kawasan tersebut.  Pada musim kedatangan kapal-kapal dagang yang datang dari Cina dibawa pula hasil industri Cina yang sangat bervariasi. Perjalanan pada waktu itu membutuhkan waktu berbulan-bulan dan sebagian besar mereka adalah kaum pria yang tidak membawa keluarganya. Mereka mempunyai pemimpin yang dipanggil “Kapitan”  di kota-kota besar, sedangkan yang berada di kota-kota kecil dipanggil “Lieutenant”. Para pendatang pria disebut Cina totok (The totokers)  dan akhirnya para Cina totok tersebut  menikah dengan perempuan-perempuan lokal.2

Masyarakat Cina yang bermigrasi ke pulau Jawa tersebut telah melahirkan suatu tradisi dan “budaya baru” yaitu budaya Cina-Jawa sebagai hasil perkawinan antara budaya Cina dan budaya Jawa. Akulturasi dan asimilasi budaya itu tercermin dalam berbagai produk budaya yang dikenal oleh masyarakat seperti : barongsay, motif batik Semarang, pakaian kebaya encim , karya sastra, bahasa dialek Cina-Jawa , dan wayang potehi  di Semarang dan berkembang dalam bentuk wayang thithi di Yogyakarta. Wayang potehi berbentuk seperti  boneka yang menggambarkan karakter dari seorang tokoh dalam legenda Cina . Dalam bahasa mandarin , potehi berasal dari kata , Poo  yang berarti kain, Tay berarti kantung, dan Hie berarti boneka. Kesenian ini telah ada sejak abad 10-13 dan masuk ke Indonesia melalui orang-orang Cina yang datang ke Indonesia pada abad 16-19.  Sedangkan keberadaan wayang potehi di  Semarang pada awalnya  melalui Batavia pada tahun 1772 dalam rangka upacara pemisahan patung Dewi Welas Asih (Dewi Kwan Im) di Gang Lombok Semarang . Pertunjukan wayang potehi  di  Semarang ini berlangsung selama dua bulan .3

Berbicara masalah wayang di Indonesia pada umumnya wayang Potehi dan wayang kulit Cina-Jawa (Wayang thithi) tidak masuk di dalam daftar inventarisasi wayang. Hal ini mungkin disebabkan keberadaan wayang Potehi dan Wayang Kulit Cina-Jawa (wayang thithi) munculnya hanya disekitar klenteng-klenteng di Jawa khususnya di wilayah pesisiran termasuk Semarang. Pertunjukan wayang ini mengkisahkan legenda-legenda Cina seperti : Sam Kok, Sam Pek Eng Tay, Li Si Bin. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu untuk wayang Potehi, dan bahasa Jawa untuk wayang kulit Cina-Jawa (wayang thithi)

Dalam penelitian tentang budaya Cina di Semarang khususnya wayang Potehi perlu disadari bahwa kebijakan politik berperan sangat besar dalam kepunahan budaya Nusantara. Pada tahun 1967 pemerintahan Orde Baru mengeluarkan berbagai larangan yang menyatakan bahwa segala kegiatan yang berbau Cina dilarang untuk dikaji, diekspose, dibicarakan , dan dimanfaatkan sehingga wayang Potehi dan wayang kulit Cina-Jawa (wayang thithi ) tidak masuk dalam daftar jenis wayang.

Sejak tahun 2000 pada pemerintahan Abdulrachman Wachid kebijakan tersebut dihapus. Sejak saat itu mulailah muncul kembali hasil karya akulturasi budaya Cina di Indonesia, namun yang berkembang di kalangan masyarakat saat ini hanya kesenian barongsay. Generasi muda saat ini tidak mengenal karya-karya klasik Cina, yang sarat dengan ajaran moral dan kebajikan. Oleh sebab itu mulai digali penelitian-penelitian hasil karya Cina Peranakan.  Terbelenggunya budaya Cina di Indonesia selama 32 tahun berakibat pula dalam menelusuri sumber-sumber data yang berkaian dengan budaya Cina Peranakan, baik sumber tertulis maupun sumber lisan  sangat langka mengingat informan pada saat ini sangat terbatas. Penelitian naskah-naskah Cina-Jawa perlu dikaji secara khusus mengingat pada saat ini mengalami keterbatasan para ahli yang menguasai dan membaca aksara Jawa, padahal naskah-naskah hasil karya Cina Peranakan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Jawa.

Dengan demikian pemahaman terhadap sebuah peristiwa sejarah peradaban manusia akan lenyap apabila generasi masa kini tidak tertarik untuk mengkajinya. Para peneliti saat ini khususnya filolog dan sejarawan lebih banyak memperhatikan naskah-naskah nusantara koleksi Leiden padahal masih ada lembaga lain di Jerman yang banyak menyimpan berbagai koleksi naskah nusantara.


II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian historis dilakukan dengan empat langkah khususnya heuristik untuk mengumpulan berbagai sumber sejarah  baik melalui hasil penelitian tentang kedatangan Cina di Indonesia beserta persebaran budaya serta akulturasi budaya Cina-Jawa melalui kesenian wayang Potehi, dan wayang thithi. Kritik sumber untuk memperoleh fakta sejarah, interpretasi atau sintesis untuk mencari dan menyusun keterkaitan fakta-fakta sejarah yang saling berhubungan dan yang terakhir adalah rekonstruksi yaitu penulisan hasil penelitan.

Beberapa sumber yang dipergunakan antara lain berbentuk buku, kumpulan hasil penelitian, surat kabar, sumber-sumber yang diperoleh melalui internet tentang wayang Potehi, wawancara dengan pengamat wayang potehi, dan hasil observasi penulis pada tahun 60-an di Semarang. Obyek  penelitian ini adalah dalang yang memainkan lakon wayang potehi di  Semarang dan wayang thithi di Yogyakarta yang diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya dan sumber dari buku serta pengaruhnya terhadap masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan budaya, khususnya seni. Menurut Bakker 4. disebutkan bahwa di dalam seni direalisasikan nilai, makna setiap seni mengandung nilai dan boleh dikatakan pula bahwa setiap seni mempunyai pesan tentang nilai atau sebagai mission untuk menyampaikan nilai pengalaman  estetik seniman. Sedangkan menurut Beardsley, dalam Suwaji Bastomi 5 seseorang dikatakan mempunyai pengalaman estetik jika seluruh waktu dan aktivitas mentalnya yang terbesar dipusatkan untuk membuat pesona yang tertambat pada bentuk dan nilai obyek yang bersifat indrawi atau imajinatif.

Untuk menganalisis penelitian  ini diperlukan pula makna dan arti simbolik dibalik suatu cerita serta mengidentifikasi cerita asli dengan cerita yang telah terpadu dengan budaya lokal. Hal ini mengingat bahwa kedatangan masyarakat Cina, disamping membawa misi budaya asli juga terjadi akulturasi budaya dengan masyarakat setempat  sehingga muncul kesenian baru yang dapat dicerna oleh masyarakat.


III. ASAL MULA WAYANG POTEHI

Wayang potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Cara memainkannya  seperti pada “boneka Unyil”, yaitu sang dalam memasukkan tangannya ke dalam kain dan cara memainkannya seperti pada wayang kulit. Kesenian ini telah berumur lebih dari 3000 tahun berasal dari daratan Cina asli. Menurut legenda, wayang potehi diciptakan  oleh seorang nara pidana di sebuah penjara. Di dalam penjara itu ada lima orang nara pidana , dan salah satunya akan dijatuhi hukuman mati. Keempat temannya merasa sedih tetapi salah seorang dari nara pidana itu mempunyai ide cemerlang untuk menghilangkan kesedihannya. Selanjuttnya lima orang tersebut mengambil peralatan yang ada dalam penjara berupa panci, piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan mereka. Irama bunyi alat-alat tersebut terdengar oleh kaisar dan akhirnya mereka diberi pengampunan.  Wayang potehi ini tumbuh pada masa dinasti Jin pada abad 3-5  masehi dan masuk ke Indonesia pada abad 16-19.

Wayang Potehi tidak hanya sekedar sebagai seni pertunjukkan akan tetapi  juga mempunyai fungsi sosial dan ritual karena dimainkan di klenteng. Misi yang terkandung dibalik ceritera wayang potehi atau disebut sebagai nilai intrinsik tidak berbeda dengan wayang pada umumnya.6  Salah satu bentuk akulturasi dan asimilasi budaya Cina yang dilahirkan di tanah Jawa adalah seni sastra dan wayang. Karya sastra Cina-Jawa yang ditulis sejak tahun 1880 hingga tahun 1900-an tersebar di berbagai perpustakaan di Jakarta ( Fakultas Ilmu Budaya-UI, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan HB Jasin). Di Yogyakarta tersimpan di (Taman Siswa, Museum Sanabudaya, Pura Paku Alaman). Di Solo tersimpan di Museum Rekso Pustoko dan Radya Pustoko. Di kota-kota lain seperti Kediri merupakan koleksi pribadi dari Tan Khoen Swie, sedangkan di Surabaya pada Museum Mpu Tantular. Koleksi yang tersimpan  di luar negeri adalah di Universitas  Leiden dan Berlin. Diantara naskah lakon wayang kulit Ciba-Jawa koleksi Staatbibliotek zu Berlin , yang berjumlah 39 naskah telah diteliti oleh seorang dosen UI , pada Fakultas Ilmu Budaya.

Salah satu faktor yang memperlancar proses akulturasi dan asimilasi budaya Cina-Jawa adalah persamaan nilai-nilai sosial budaya di antara dua atau lebih suku bangsa yang berbeda latar belakang budayanya. Dalam asimilasi ini, yang terpenting adalah peggabungan golongan-golongan yang berbeda latar belakang kebudayaaannya menjadi kebulatan sosiologis dan budaya.7 Hubungan etnis Cina-Jawa ini melahirkan seni berupa Wayang Potehi dan berkembang menjadi wayang thithi . Kedua wayang ini termasuk jenis “wayang langka” seperti wayang Betawi, wayang Kancil. Jenis wayang tersebut, penggemarnya hanya terbatas tidak seperti wayang Purwo atau wayang golek. Pertunjukan wayang tersebut hanya digelar pada kegiatan-kegiatan khusus atau berdasarkan pesanan seperti pada tahun baru Imlek, untuk Syukuran, dan pesanan-pesanan khusus.

Salah satu lembaga di Jakarta yaitu Museum Wayang milik Pemda DKI Jakarta telah melakukan pelestarian jenis wayang langka ini hanya sekedar untuk pengetahuan dan menunjukkan kekayaan budaya bangsa. Di Semarang, seorang dalang wayang Potehi  yang bernama asli Thio Tiong Gie yang tinggal di daerah gang Lombok adalah seorang  dalang wayang potehi  berasal dari Bintoro, Demak dan belajar sendiri kemudian pentas pertama dilakukan di Cianjur pada tahun 1958. Ia dikenal dengan nama Teguh Candra Irawan yang merupakan dalang senior, di vihara Widhi Sakti atau Klenteng Bie Hian Kiong yang dibangun pada tahun 1912 di Sukabumi. Pada waktu di Sukabumi Teguh Candra Irawan melakukan  pagelaran wayang Potehi selama 20 hari. Saat itu warga wihara Widhi Sakti sedang memperingati hari ulang tahun leluhur mereka bernama Han Tan Kong. Peringatan ini dirayakan setiap tahun menurut penanggalan Cina, yang jatuh pada bulan ke-3 tahun Cina.8

Salah satu kawasan yang melesarikan wayang Potehi di Semarang adalah di “Klenteng Tay Kak Sie” sebuah klenteng  tertua ke-3 yang didirikan pada tahun 1771 Masehi dan terkenal dengan sebutan Klenteng Besar Semarang  9.   Pada waktu klenteng tersebut mulai  didirikan , daerah Gang Lombok boleh dikatakan masih berupa kebun yang banyak ditanami lombok, sehingga dikenal dengan sebutan Gang Lombok. Di wilayah inilah tersimpan berbagai warisan budaya Cina , bahkan replika kapal Cheng Ho juga berada di depan Klenteng Tay Kak Sie. Demikian  pula ketika akan diadakan pemilihan Gubernur Jawa Tengah di wilayah ini juga ditayangkan kethoprak dari Yogyakarta yang mengambil tema yang berkaitan dengan peristiwa 13 Mei 1998 yang merupakan peristiwa penting di era reformasi , namun sampai saat ini tidak ada penyelesainnya. 10. Acara tersebut merupakan peringatan 10 tahun reformasi yang digelar di depan Klenteng Tay Kak Sie , gang Lombok. Pentas seni tersebut baru-baru ini ditayangkan ulang di stasiun Televisi di Semarang.

Diantara warisan budaya Cina-Jawa yang dapat dikatakan hampir punah adalah Wayang Potehi, padahal pada tahun 1930-1960 wayang ini sering digelar di Klenteng Cina-Jawa dan pada waktu itu ada sekitar 50 orang dalang yang kini di Semarang yang terkenal hanya satu orang yaitu Tio Tiong Gie atau dikenal dengan nama Teguh Chandra Irawan. Dalang Wayang Potehi lainnya adalah orang-orang Jawa, termasuk pemain musiknya. Mereka berasal dari Malang, Blitar, Semarang, dimana terdapat klenteng (rumah ibadah Cina) antara lain : Sukar Mudjiono, Mulyanto, Pardi, Edi, Slamet yang setia melayani umat di klenteng Tri Dharma Hog Tiek , di Surabaya. Mereka sedang mengkader dalang muda, bernama Budi dan Agus. Para pemusik yang terlibat dalam pentas wayang Potehi adalah golongan Cina Peranakan Jawa, antara lain bernama Ping Chuan, Bing Bing, Bun Bien, dan Bun Jiang 11.

bersambung (Pertunjukan Wayang Potehi Dan Wayang Thiti)

itulah tadi posting tentang Artikel Budaya tentang Kajian Historis Seni Pertunjukan Wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. he he he. wassalam