.

Makalah Antropologi Budaya - Migrasi dan Sistem Kekerabatan

Contoh Makalah Antropologi Budaya - Migrasi dan Sistem Kekerabatan

Makalah Antropologi Budaya - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Melanjutkan posting bertema Contoh Makalah, pada kesempatan kali ini admin akan berbagi posting tentang Contoh Makalah Antropologi Budaya dengan judul "Pemanfaatan Jaringan Kekerabatan dalam Proses Pencarian Kerja di luar Daerah" yang disusun oleh sobat Bayu Indrayana. Atau mungkin sobat juga ingin sekedar melihat posting sebelumnya tentang "Contoh Makalah Kajian Bentuk Internal Bahasa". semoga bermanfaat.

contoh makalah, makalah antropologi, contoh makalah antropologi, antropologi budaya, makalah antropologi budaya

ANTROPOLOGI BUDAYA (MAKALAH SEMINAR TPL PANINGGARAN)
Oleh : BAYU INDRAYANA (08/267812/SA/14300)

Topik : Migrasi dan Sistem Kekerabatan
“Pemanfaatan Jaringan Kekerabatan dalam Proses Pencarian Kerja di luar Daerah”

PENDAHULUAN
Masyarakat pedesaan Jawa pada umumnya memiliki mata pencaharian utama disektor pertanian subsisten, dimana hasil pengolahan sawah yang mereka kerjakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi semata. Usaha di sektor pertanian yang dilakukan terdiri dari satuan unit produksi dan konsumsi tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang semakin meningkat. Faktor tersebutlah yang mendorong masyarakat petani untuk berinisiatif mencari penghasilan tambahan dengan melakukan beberapa usaha tertentu di luar sektor pertanian, bahkan tak jarang mereka akan melakukan suatu proses migrasi guna mencari sumber penghasilan yang lebih baik diluar daerah.

Suatu perilaku ekonomi dengan bercirikan hal serupa juga terjadi pada kalangan masyarakat petani di daerah Paniggaran, Kabupaten Pekalongan. Bahwasanya masyarakat tersebut memiliki suatu pola hidup yang masih sederhana. Masyarakat Paninggaran cenderung memiliki suatu keengganan untuk memasarkan hasil produksi pertanian mereka, kecuali memang berada dalam kondisi yang mendesak. Kondisi ini dikarenakan semua hasil produksi tersebut akan mereka gunakan untuk dikonsumsi sendiri.

Sebagai usaha pemenuhan kebutuhan subsistensinya, mereka berusaha mencari penghasilan tambahan dengan membuat jenis kerajinan tangan, membuka jenis usaha perdagangan warung, serta beberapa usaha mandiri lainnya. Disisi lain, hal tersebut juga menjadi motivator bagi masyarakat setempat untuk bermigrasi keluar daerah, mencari penghidupan yang lebih baik sebagai buruh atau tenaga kerja di berbagai bidang. Dalam hal ini, penerapan hubungan kekerabatan dengan bentuk kerjasama berperan penting pada aktivitas mata pencaharian yang mereka lakukan tersebut.

Selain itu, sesuai apa yang dikemukakan oleh Cook (1973) mengenai ciri penting masyarakat penganut pendekatan substantif, dimana aktivitas produksi pada masyarakat Sawit juga diatur melalui suatu institusi non-ekonomi yang bercirikan sosial tetapi memuat aspek-aspek ekonomi didalamnya. Inilah yang membedakan antara sistem ekonomi masyarakat sederhana dengan modern yang terletak pada mekanisme, institusi, dan prinsip ekonomi yang mereka punya. Perekonomian ditempatkan sebagai rangkaian aturan-aturan dan organisasi sosial, dimana setiap individu dilahirkan dan diatur dalam sistem organisasi tersebut (Sjafri Sairin, dkk, 2002 : 105 & 111).   

Rumusan Masalah
Berangkat dari pemikiran Polanyi yang berpendapat bahwa tugas ahli antropologi adalah berusaha menunjukkan karakteristik yang khas dari setiap perekonomian, dan mengkaitkan gejala ekonomi dengan organisasi sosial dan kebudayaan (Sjafri Sairin, dkk, 2002 : 114). Tulisan ini berusaha memaparkan beberapa karakteristik aktivitas perekonomian masyarakat setempat serta pemanfaatan organisasi sosial yang berupa jaringan kekerabatan dalam aktivitas ekonomi masyarakat Paninggaran. Pemaparan karakteristik aktivitas perekonomian tersebut melalui sample yang diambil dari gambaran umum masyarakat Dusun Sawit yang merupakan salah satu dusun yang berada di daerah tersebut dengan beberapa pertanyaan utama, yakni :
  1. Aktivitas ekonomi apa saja yang meliputi kehidupan masyarakat Dusun Sawit dalam memenuhi kebutuhan subsistensi mereka?
  2. Bagaimana bentuk sistem kekerabatan yang terdapat di Dusun Sawit dan proses pemanfaatan hubungan kekerabatan tersebut dalam aktivitas ekonomi yang terjadi di masyarakat tersebut?
  3. Apakah aktivitas ekonomi masyarakat dalam proses pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka mempengaruhi proses migrasi dalam rangka pencarian pendapatan yang lebih baik di daerah lain?
PEMBAHASAN

Monografi Dusun Sawit
1.    Kondisi Geografis
Dusun Sawit merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Werdi, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Letak geografis Dusun Sawit berada diantara Dusun Binangun dan Dusun Werdi. Kondisi dusun terletak di dataran yang agak tinggi, luasnya terbilang kecil karena hanya terbagi dari 4 buah RT (Rukun Tetangga) yang mengepalai masing-masing daerah mereka. Jumlah kepala keluarga yang terdapat di dusun setempat mencapai angka 132 KK (Kepala Keluarga) dengan sekitar 180 jiwa penduduk di dalamnya.

2.    Mata Pencaharian
Penduduk Sawit cenderung memiliki pola kehidupan yang sederhana dengan mata pencaharian utama mereka adalah bertani. Pemanfaatan hasil panen dari lahan yang mereka garap digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Asalkan suatu kebutuhan pokok terpenuhi, mereka sudah cukup puas dengan keadan tersebut dan berusaha menghindari berbagai resiko perekonomian dalam proses pencarian keuntungan jangka panjang. Hal inilah yang menggolongkan mereka termasuk kedalam masyarakat petani subsistensi.

Selain bertani, masyarakat Sawit juga memiliki beberapa usaha sampingan lain seperti menjadi pedagang yang membuka warung serta berprofesi sebagai buruh di sejumlah aktivitas ekonomi yang memerlukan suatu tenaga kerja.

3.    Sistem Perangkat Dusun
Dusun Sawit terbagi menjadi 4 buah RT (Rukun Tetangga) yang masing-masing ditangani oleh Ketua RT setempat. Jumlah kepala keluarga yang terdapat di dusun mencapai angka 132 KK (Kepala Keluarga) dengan sekitar 180 jiwa penduduk di dalamnya. Setiap RT kemudian dikepalai oleh seorang Kepala Dusun atau “Pak Bau” dalam pengkoordinasian daerahnya. Kepala Dusun Sawit sendiri bernama Bapak Kasno. Menurut cerita beliau, dahulu sistem pengangkatan “Bau” didasari melalui keturunan atau pewarisan kepada anak dari orangtuanya. Sekitar tahun 2007 mulai dikeluarkan sebuah Biaya Operasional Pemerintah (BOP) bagi tiap-tiap kepala dusun untuk memperoleh gaji sebesar 500 ribu rupiah. Dari situlah banyak masyarakat yang terdorong untuk mencalonkan diri sebagai Pak Bou, sehingga sistem pemilihan berupa tes tertulis dan pemilihan langsung dari Kepala Desa pun mulai diterapkan di tiap-tiap dusun di desa Werdi.

Sistem Kekerabatan dan Pola Pewarisan Penduduk Dusun Sawit
  • Masyarakat sawit menganut sistem keluarga luas (extended family), karena setiap tetangga yang tinggal di kiri kanan dan beberapa kilometer rumah kedepan umumnya masih memiliki hubungan kekerabatan yang diakibatkan perkawinan Pek-nggo (Pek-nggo merupakan suatu jenis perkawinan yang dilakukan antar warga yang bertetangga pada masyarakat Jawa dengan tujuan agar harta warisan tetap berada penduduk yang berdomisili di lingkungan setempat.) antara sesama tetangga. Garis keturunan menggunakan garis keturunan dari pihak ayah dan ibu, atau sistem bilineal yang biasa digunakan pada masyarakat Jawa pada umumnya.
  • Pembagian harta
Seperti di masyarakat Jawa pada umumnya, proses pembagian harta dari orang tua kepada anaknya terdiri dari 2 cara, yakni :
  1. Hibah, yaitu harta diberikan oleh orang tua kepada anak-anak saat mereka masih hidup. Pembagian warisan dilakukan saat anak tengah menikah dan mandiri, serta mempunyai minimal satu anak
  2. Warisan, yaitu harta diberikan oleh orang tua kepada anak-anak saat mereka telah meninggal dengan membuat suatu wasiat tertentu sebelumnya.
Besar pembagian harta dilakukan dengan cara sepikul-segendong yang juga dimiliki masyarakat Jawa pada umumnya, yakni antara anak lelaki dan perempuan memiliki jumlah penerimaannya sama besarnya. Tetapi didalam pembagian harta juga ada musyawarah, pembagian musyawarah dilakukan untuk merundingkan pembagian jumlah harta yang diberikan jika ada seorang anak yang menderita kesulitan ekonomi, maka ialah yang akan menerima jumlah yang lebih banyak, apabila saudaranya yang lain lebih mampu.
  • Warga Sawit memanggil saudara perempuan tua dari orang tua atau “bude” dengan sebutan “uwa” atau “kak”. Ia juga menjelaskan masalah perkawinan yang terjadi pada masyarakat Sawit secara umum.
  • Proses Pencarian Jodoh
Perkawinan warga umumnya menggunakan pengambilan jodoh “pek-nggo” atau perkawinan antar tetangga. Sehingga hubungan kekerabatan tidak terlalu jauh dan itulah yang menyebabkan terjadinya sistem keluarga luas disini. Masalah mas kawin, pihak laki-laki lah yang menentukan besar kecilnya, pihak perempuan hanya menerima dan tidak menuntut. Orang-orang sekitar atau tetangga biasanya akan memberikan bantuan berupa bahan makanan seperti beras dan bahan makanan lainnya untuk acara hajatan pernikahan tersebut.

Sistem penjodohan dilakukan masyarakat pada sekitar tahun 1980an kebawah. Tetapi kebanyakan orang tua sekarang memberikan pilihan tersendiri untuk anak mereka, asalkan tanggal lahir kedua belah pihak bisa cocok untuk melakukan pernikahan. Maksudnya disini, setiap warga Sawit memegang teguh anjuran untuk mencocokan tanggal lahir kedua belah pihak yang akan menikah, apabila dari pihak lelaki dan perempuan memiliki tanggal yang tidak pas, maka mereka dilarang untuk melangsungkan pernikahan, karena nantinya menurut kepercayaan warga, kedua belah pihak keluarga akan mendapatkan bencana, seperti rumah tangga yang sering tertimpa musibah dan ketidakharmonisan dalam rumah tangganya.
  • Gotong royong sebagai bentuk dari organisasi sosial
Hubungan kekerabatan dan gotong-royong masih sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jawa pada umumnya, termasuk warga Dusun Sawit yang berada di daerah Paninggaran. Sebenarnya tidak ada suatu organisasi sosial yang dibentuk secara formal di Dusun Sawit, misalnya seperti perkumpulan pemuda atau semacamnya. Kalaupun ada hal tersebut hanya sebatas perkumpulan tahlilan atau pengajian masyarakat. Organisasi sosial antar masyarakat satu dusun akan terbentuk dengan sendirinya apabila terdapat suatu keperluan seperti acara hajatan, misalnya perkawinan. Disitu masyarakat akan bergotong royong menyumbangkan tenaga, uang atau bahan makanan (kambing atau sapi yang akan disembelih) kepada tuan rumah, yang nantinya akan dipakai untuk keperluan hajatan dan dinikmati lagi secara bersama-sama.

Pemanfaatan Hubungan Kekerabatan dalam Aktivitas Ekonomi
Seperti yang telah dikemukakan diatas, sebagai suatu masyarakat petani subsisten, dalam aktivitas ekonominya masyarakat Dusun Sawit tidak mengenal suatu lembaga keuangan formal yang menunjang aktivitas produksi mereka. Umumnya aktivitas perekonomian diatur lewat suatu organisasi sosial berupa hubungan kekerabatan didalamnya, misalnya di bidang pertanian, dalam aktivitas produksinya, peranan hubungan kekerabatan tidak terlepas dari proses pengolahan sawah penduduk setempat. Para petani biasanya menggunakan jasa bantuan dari kerabat atau tetangga mereka untuk berbagai hal, misalnya untuk menggarap sawah, pemilik sawah biasanya membutuhkan tenaga ekstra dari buruh tani yang merupakan kerabat atau tetangga mereka untuk membantunya. Buruh tani yang tidak mempunyai lahan biasanya memberikan jasa bantuan kepada petani yang memiliki lahan untuk digarap, dan nantinya akan buruh tersebut akan memperoleh suatu imbalan tertentu. Biaya mengupah seorang buruh tani untuk memacul sawah ialah Rp.12.000/setengah hari dan untuk megawe atau menggarap lahan biaya upahnya sekitar Rp.25.000/setengah hari.

Setelah selesai menggarap lahan, masing-masing penduduk akan mengairi sawah mereka dengan menggunakan sistem irigasi dari sumber mata air yang terdapat di dataran tinggi dusun Sawit. Dalam hal ini warga bebas untuk menggunakan sistem irigasi secara individu, tapi mereka tetap saling bergotong-royong untuk mengairi sawahnya secara bergiliran.

Selanjutnya, di sektor pertanian sendiri tersedia suatu jasa penitipan hewan ternak untuk di rawat oleh seorang petani. Penitip tersebut bisa berupa saudara ataupun tetangga yang berlainan RT maupun Dusun. Sapi usia muda milik orang lain tersebut dititipkan untuk dirawat hingga dewasa oleh si petani. Jika sapi tersebut tengah dewasa, nantinya hewan tersebut akan ditukarkan dengan 2 sampai 3 ekor sapi kecil. Setelah ditukar, 2 ekor sapi akan diberikan kembali kepada pemilik asli dan sebuah sapi sisanya akan diberikan kepada sang pemelihara sebagai upah. Selain itu, si pemelihara sapi memperoleh keuntungan lain, yakni sebelum sapi dewasa tadi ditukar, ia bisa dimanfaatkan terlebih dahulu untuk keperluan membajak sawah yang dimiliki si pemelihara. Selain itu, jika sapi dewasa tadi dijadikan uang, misalnya dihargai sekitar Rp.5jt, maka pemilik asli akan mendapatkan uang sebesar Rp.4jt, sedangkan orang yang merawat mendapatkan uang sebesar Rp.1jt.

Hubungan Antara Migrasi dan Sistem Kekerabatan
Seiring berkembangnya waktu, kebutuhan ekonomis dan biologis manusia pun semakin bertambah. Namun sebaliknya, saranan dan prasarana, serta sumber daya alam yang tersedia pun kian terbatas. Inilah yang melatar-belakangi timbulnya suatu kecenderungan warga Sawit untuk melakukan suatu proses migrasi keluar daerah sebagai upaya peningkatan taraf hidup yang lebih baik.

Dalam prosesnya, kegiatan migrasi masyarakat dalam rangka usaha pemenuhan kebutuhan juga memanfaatkan peranan hubungan kekerabatan didalamnya. Pihak keluarga atau tetangga yang terlebih dahulu tengah berada diluar daerah tentunya akan memberikan informasi atau ajakan mengenai lapangan pekerjaan yang bisa diikuti oleh beberapa warga dikampung halaman tempat ia berasal. Sudah merupakan sesuatu hal yang lumrah di kehidupan sosial masyarakat Indonesia pada umumnya jika suatu proses ini terjadi. Seperti halnya yang juga terjadi dikalangan masyarakat Dusun Sawit. Ada beberapa jenis pekerjaan diluar daerah yang dilakoni masyarakat di kehidupannya, yakni terdiri dari profesi tenaga kerja yang berbentuk kuli bangunan dan pembantu  rumah tangga, serta profesi pedagang yang berbentuk usaha penjualan bubur yang lebih jelasnya akan dikemukakan sebagai berikut:

A.    Tenaga kerja
•    Pembantu rumah tangga
Bagi kalangan masyarakat perempuan yang merantau, bentuk pekerjaan yang dijalani ialah sebagai seorang pembantu rumah tangga (PRT). Di Dusun Sawit, pihak perempuanlah yang terbilang lebih lama masa merantaunya dibanding pihak laki-laki. Jika pihak lelaki hanya mengikuti proyek selama 3 bulan sebagai kuli bangunan, maka pihak perempuan bisa bertahun-tahun menjadi PRT. Setidaknya ada 5 orang di dusun Sawit yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta melalui penyaluran yayasan yang bernama “Citra Kartini” di Pekalongan, termasuk istri Pak Kasno, seorang kepala dusun setempat.  Penawaran untuk menjadi tenaga kerja pembantu tersebut dilakukan oleh seorang pegawai yayasan yang berasal dari Desa Windu Aji. Kebetulan kelima orang yang ikut tadi kesemuanya masih merupakan satu kerabat dengan Bapak Kasno.

Awalnya suami-suami mereka, termasuk Pak Kasno sendiri tidak setuju mengenai keinginan istri mereka untuk bekerja menjadi PRT di Jakarta dikarenakan khawatirkam akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindak kekerasan dan penghinaan. Tapi setelah adanya jaminan keselamatan yang diberikan oleh yayasan tersebut, akhirnya para suami memperbolehkan istrinya untuk merantau. Sampai sekarang masih tersisa 3 orang lagi yang tetap bekerja di Jakarta, termasuk istri beliau. Bahkan, keponakan beliau yang bernama Siti telah sukses menjadi seorang baby sitter disana dengan imbalan gaji 1,5 jt/bulannya. Ia dan istri Pak Kasno sekarang telah bebas dari ikatan kontrak dengan yayasan Citra Kartini, sehingga imbalan gaji mereka tidak lagi mendapatkan potongan dan bisa dinikmati secara utuh.  Pak Kasno juga menceritakan bahwa anak pertama beliau yang berkuliah di Universitas Terbuka kini tengah cuti dan bekerja di pabrik aluminium Cibubur serta tinggal di kediaman majikannya.

•    Buruh atau Kuli Bangunan
Bagi kalangan masyarakat lelaki Dusun Sawit, proses pencarian kerja diluar daerah dijalani dengan profesi sebagai buruh atau kuli di suatu proyek pembangunan di kota-kota besar, seperti Jakarta dan sekitaran Jawa Barat dengan mengikuti. Kegiatan proyek tersebut mereka ikuti melalui ajakan dan informasi dari seorang mandor yang ditugaskan oleh kontraktor proyek untuk mencari beberapa tenaga kerja di dusun setempat. Sama seperti proses kegiatan ekonomi lain di Sawit pada umumnya, setelah seorang mandor memberikan tawaran pekerjaan ke beberapa orang warga setempat untuk menjadi kuli di proyek tersebut, disinilah peranan sistem kekerabat dan organisasi sosial kembali berjalan. Para warga yang mendapatkan tawaran akan kembali mengalirkan info-info lapangan pekerjaan tersebut ke beberapa tetangga yang merupakan sanak saudara mereka ataupun yang bukan.

Sebelumnya di daerah Dusun Sawit tidak terdapat seorang mandor yang secara langsung ditugaskan oleh kontraktor proyek untuk mencari beberapa tenaga kerja. Masyarakat Sawit pada umumnya menerima ajakan melalui seorang mandor dari daerah Kandang Serang yang bersebelahan dengan Desa Werdi. Tetapi, diawal tahun 2000an, Dusun Sawit telah memiliki seorang mandor sendiri bernama Pak Sapran yang merupakan warga setempat. Program proyek pembangunan daerah dimulai tahun 2000an dengan Pak Sapran yang bertugas sebagai mandor di Sawit. Proses pengambilan tenaga kerja buruh diambil sesuai dengan keahlian yang dimiliki masyarakat.   

Para buruh bangunan yang mengikuti proyek akan mendapatkan fasilitas berupa kontrakan rumah sebagai tempat tinggal selama bekerja. Untuk fasilitas upah mereka bekerja, mereka menerima uang sebesar Rp.25.000/hari untuk biaya makan dan uang sebesar Rp.25.000/hari lagi untuk diberikan di akhir bulan dengan total kurang lebih Rp.750.000/bulan. Dana pembangunan daerah didapat dari pemerintah, sedangkan gaji pegawai berasal dari kontraktor. Kontraktor atau bos yang menjadi atasan Pak Sapran merupakan seorang dosen Universitas Negeri di Jakarta, yakni Universitas Indonesia (UI).

Proses pencarian tenaga kerja sudah dilakukan oleh Pak Sapran selama puluhan tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2000an. Pencarian tenaga kerja tersebut hanya dilakukan beliau di dusun Sawit semata karena ia malas bersaing dengan para mandor lain di luar Sawit. Tetapi ia mempunyai relasi kerja di daerah Kandang Serang dengan CV. Dodi dan beberapa daerah lain seperti Paninggaran, Notogiwang, Lumeneng dan Lebak Barang. Beliau juga menjelaskan bahwa ia tidak pernah mau untuk menangani suatu proyek pembangunan dari kelurahan karena prosesnya ribet dan sering “tarik-tarikan” dengan pamong desa lain akibat banyaknya tindakan korupsi, sehingga menurutnya hanya akan membuahkan kegagalan semata. Disisi lain, dalam waktu dekat ini Pak Sapran akan menangani suatu program tim sukses pilkada bupati di daerah Kajen, Paninggaran.
   
Daftar Pustaka
  1. Sairin, Sjafri. Dkk. 2002. Pengantar Antropologi Ekonomi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
  2. Scott, James. 1981. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta: LP3S.
Itulah tadi artikel tentang Contoh Makalah Antropologi Budaya. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam.