.

Contoh Makalah Akuntansi :: Instructional di Akuntansi

Makalah Instructional di Akuntansi: Mahasiswa, Dosen, dan Kurikulum

Contoh Makalah Akuntansi - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Melanjutkan posting bertema Contoh Makalah, pada kesempatan kali ini admin akan berbagi posting tentang Contoh Makalah Akuntansi tentang Instructional Di Akuntansi: Mahasiswa, Dosen, Dan Kurikulum yang disusun oleh sobat Abdullah Taman (Universitas Negeri Yogyakarta). Atau mungkin sobat juga ingin sekedar melihat posting sebelumnya tentang "10 Game Terbaru Oktober 2012". semoga bermanfaat.

contoh makalah, akuntansi, makalah akuntansi, contoh makalah akuntansi

INSTRUCTIONAL DI AKUNTANSI: MAHASISWA, DOSEN, DAN KURIKULUM

Abdullah Taman
Universitas Negeri Yogyakarta

Abstract

Instructional performance in higher education is affected by many factors. Some of them are student, lecturer, and curriculum. Student behavior seldom do not support to succeed in instructional. He or she presumed that lecturer was the knowledge resource, whereas it was text books, library, article in research journal etc.

The objective of this article is to explain that  the above factors have many influences in successful instructional. Curriculum in accountancy should be link and match and competence-based, besides underlain on National Education Minister Decree number 232/U/2000, number 045/U/2002, and its comprehensive structure.

Keywords: lecturer, student, curriculum, link and match.

PENDAHULUAN
Proses belajar-mengajar (PBM) di perguruan tinggi dipengaruhi banyak faktor. Namun dari sekian banyak faktor itu dapat digolongkan secara garis besar ke dalam 2 (dua), yaitu faktor internal dan eksternal. Masing-masing faktor tersebut, bila diidentifikasi terdiri atas berbagai hal, antara lain, untuk faktor internal, mahasiswa, dosen, kurikulum, dan lingkungan PBM; sedangkan untuk faktor eksternal, peraturan-peraturan dari Pemerintah, dan lingkungan sosial-ekonomi masyarakat.

Makalah ini mencoba memaparkan tentang tiga faktor tersebut, diawali dengan mahasiswa dan dosen, kurikulum, pendidikan akuntansi di Indonesia dan diakhiri dengan simpulan.

MAHASISWA DAN DOSEN

Bila diamati PBM yang terjadi di sebagai besar perguruan tinggi akan tampak bahwa kedudukan dosen lebih tinggi (di atas) mahasiswa, sehingga kuliah dan dosen dianggap merupakan sumber pengetahuan utama (atau bahkan satu-satunya), catatan kuliah merupakan “jimat” yang ampuh, dan dosen merupakan “dewa” pengetahuan. Apabila digambarkan akan tampak seperti di bawah ini:


Lingkungan belajar seperti itu akan menempatkan dosen menjadi seperti tukang sulap yang kelihatan mumpuni, tetapi sebenarnya hanya karena mengetahui muslihat-muslihat (tricks) yang sengaja disembunyikannya dan kemudian menjual pengetahuan tersebut melalui loket kuliah (Suwardjono, 1992). Keadaan seperti ini bukan semata-mata kesalahan mahasiswa karena persepsi seperti itu dapat timbul justru dari sikap dosen yang secara tidak sadar telah menciptakan kondisi demikian. Akibatnya, mahasiswa mempunyai perilaku untuk hanya datang, duduk, dengar, dan catat (D3C). Yang kurang menguntungkan lagi adalah bahwa penyimpangan dari tradisi D3C justru sering dianggap mengada-ada dan dosen yang bersangkutan dianggap “aneh”.

Dalam PBM yang semestinya, dosen bukan merupakan sumber pengetahuan utama. Dia seharusnya dipandang sebagai manajer klas. Sumber utama pengetahuan adalah buku, perpusta-kaan, artikel dalam majalah, hasil penelitian, media cetak atau audio visual lainnya (termasuk pe-ngalaman dosen). Dosen mendapat tugas untuk memegang suatu klas karena yang bersangkutan telah mengalami proses belajar tertentu dan telah mengalami pengalaman-pengalaman berharga yang mungkin perlu disampaikan kepada mereka yang akan menjalani proses belajar yang sama.

Jadi, dosen harus dipandang sebagai manajer klas dan merupakan nara sumber proses belajar. Dalam teknologi pendidikan, dikatakan bahwa dosen sebagai director, facilitator, motivator dan evaluator proses belajar. Gambar di bawah ini melukiskan peran dosen sebagai manajer klas dan nara sumber mata kuliah. Dosen menetapkan sumber pengetahuan apa saja yang harus dipelajari oleh mahasiswa dalam bentuk silabus atau program belajar, mahasiswa menjalani program belajar tersebut dan dosen mengendalikan proses belajar mahasiswa.


Dari gambar 2 di atas tampak kedudukan dosen dan mahasiswa sejajar sehingga bisa dikatakan bahwa secara demokratis sama-sama berhak atas pengetahuan itu. Masalahnya sekarang siapa yang berhasil menangkap (termasuk memahami) pengetahuan itu lebih dini ? Semestinya dosen yang memahami dulu tentang pengetahuan itu (penulis sering mengistilahkan dengan “lahir lebih dulu”). Namun sebaliknya, apabila mahasiswa yang lebih dulu memahami pengetahuan itu (biasanya yang bersifat aktual) maka dosen harus belajar dari mahasiswanya.

KURIKULUM

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Kurikulum berisi paket mata kuliah dan kegiatan yang disusun untuk mencapai tujuan pendidikan seperti yang ditetapkan dalam program studi pada suatu program pendidikan. Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan belajar yang dicanangkan oleh penyelenggara proses belajar mengajar. Menurut Suwardjono (1999) kurikulum terdiri atas beberapa komponen yang meliputi arah, materi, evaluasi, pendekatan belajar-mengajar, organisasi materi, dan teknologi. Gambar 3 di bawah ini menunjukkan keterkaitan komponen-komponen tersebut.


Pada model di atas, arah (aims) merupakan komponen yang paling penting. Arah merupakan hal yang lebih luas dari sekadar tujuan keperilakuan (behavioural objectives) karena pendidikan (education) harus dibedakan dengan kursus/pelatihan (training). Arah lebih dikaitkan dengan tujuan nasional sedangkan tujuan keperilakuan lebih dikaitkan dengan apa yang diharapkan peserta didik mampu melakukan setelah menempuh mata kuliah tertentu. Arah biasanya diterjemahkan dalam bentuk tujuan pengajaran (teaching objectives).

Arah merupakan hal penting yang menentukan karakteristik komponen kurikulum lainnya. Arah menentukan penekanan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar. Bila proses kurikulum diterapkan pada satuan pengetahuan terkecil (mata kuliah), hasilnya adalah silabus mata kuliah tersebut dan arah dinyatakan dalam bentuk tujuan belajar mata kuliah (tujuan mata kuliah).

Tujuan belajar adalah suatu pernyataan tentang perubahan yang diharapkan dan dinilai harus terjadi dalam pikiran, tindakan, dan perasaan peserta didik (perubahan perilaku). Perilaku di sini adalah kemampuan-kemampuan yang timbul akibat proses belajar. Tujuan belajar dapat dibagi dalam wilayah (domain) dalam bentuk taksonomi yang diidentifikasi oleh Bloom dan Krathwohl yang dikutip oleh Irawan (1994) yang dikenal dengan Taksonomi  Bloom, seperti pada gambar berikut.


Perumusan tujuan belajar dalam mata kuliah atau seperangkat program studi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: materi pengajaran, minat peserta didik, minat dosen, tekanan dari luar (misalnya organisasi profesional), arah pendidikan umum, psikologi pendidikan, dan filosofi pendidikan. Filosofi pendidikan berkaitan dengan pertanyaan “Should a university course be devised to help a student fit into society or to encourage a student to change society?”

Di Indonesia, kurikulum ditetapkan oleh menteri atau lembaga pemerintah nondepartemen berdasarkan pelimpahan wewenang dari menteri. Untuk pendidikan tinggi, kurikulum akhirnya diwujudkan dalam seperangkat mata kuliah (couses) untuk bidang pengetahuan tertentu dan dilaksanakan dalam bentuk jalinan proses belajar-mengajar. Kurikulum  disusun untuk mewujudkan tujuan nasional dengan mempertimbangkan tahap peserta didik dan kesesuaian dengan lingkungan kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum di perguruan tinggi sudah diatur dengan dikeluarkannya SK Mendiknas No. 232/U/2000 dan 045/U/2002 yang membagi mata kuliah menjadi 1) mata kuliah pengembang kepribadian (MPK), 2) mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK), 3) mata kuliah ketrampilan bekerja (MKB), 4) mata kuliah perilaku berkarya (MPB), dan 5) mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB). Namun SK tersebut tidak menjelaskan bentuk pelaksanaannya (misalnya dengan SK Dirjen Dikti) sehingga masing-masing perguruan tinggi diberi kebebasan sendiri-sendiri (barangkali terkait dengan otonomi akademik), suatu mata kuliah masuk ke MPK, MKK, MKB, MPB, atau MBB.

PENDIDIKAN AKUNTANSI DI INDONESIA

Sistem Pendidikan Akuntansi di Indonesia yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi terikat dengan aturan, yaitu Peraturan Pemerintah No. 60/1999 Tentang Pendi-dikan Tinggi dan Kepmendikbud No. 056/U/1999 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Akuntansi. Dari 2 (dua) peraturan tersebut bisa diambil suatu sistem pendidikan akuntansi seperti yang diutarakan oleh Suwardjono (1999: 4) bahwa pendidikan akun-tansi melibatkan paling tidak 3 (tiga) lembaga yaitu Depdiknas, Organisasi Profesi (IAI) dan Depkeu. Departemen Pendidikan Nasional mengatur bagaimana pendidikan akun-tansi bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, IAI mengelola secara profesional dalam penyertifikatan sarjana akuntansi yang sudah lulus dari S1 jurusan akuntansi serta pembinaan para anggota profesi, dan Departemen Keuangan mengatur di bidang pengawasan praktik akuntansi. Bila digambarkan akan tampak sebagai berikut:


Seperti sudah disebutkan di atas, Depdiknas dalam melakukan pengendalian terhadap pengelolaan perguruan tinggi yang berkaitan dengan kurikulum sudah mengeluarkan SK Mendiknas no 232/U/2000 dan no. 045/U/2002. Perguruan tinggi berfungsi menyelenggarakan pedoman kurikulum tersebut dengan keleluasaan untuk menentukan sendiri mata kuliah yang ditawarkan. Untuk program pendidikan S1, penyelenggaraan pendidikan hanya dapat dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi (atau unit yang setara) yang mempunyai jurusan Akuntansi. Jurusan akuntansi merupakan unsur pelaksana pendidikan akademik dan profesional dengan penegakan pada pengembangan ilmu dan profesi akuntansi serta pengembangan sumberdaya manusia.

Namun demikian, pada kenyataannya SK tersebut tidak mengendalikan seluruh langkah-langkah proses kurikulum sebagaimana disebutkan di atas. Wilayah (domain) tujuan belajar juga tidak secara eksplisit tercermin dalam dua SK tersebut. Lebih dari itu, batas antara materi, lingkup, dan kedalaman suatu mata kuliah untuk program S1 akuntansi dalam hal tertentu tidak jelas dapat dibedakan dengan hal yang sama untuk pendidikan profesi akuntansi. Dalam hal inilah institusi (jurusan) dan bahkan dosen secara individual mempunyai peran yang penting dalam PBM akuntansi. Peran ini dapat ditunjukkan dengan penyusunan silabus dan strategi pengorganisasian materi, pengalaman belajar, dan kelas untuk mencapai tujuan belajar yang lebih spesifik. Peran jurusan dan dosen secara individual akan menjadi semakin besar manakala autonomi perguruan tinggi benar-benar telah dilaksanakan secara penuh. Untuk menyikapi kondisi semacam itu, perlu dipahami beberapa aspek penyusunan kurikulum akuntansi (termasuk silabus) agar tujuan penyelenggaraan pendidikan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.


Struktur di atas dapat menjelaskan pembidangan akuntansi yang sekarang digunakan dalam pengajaran akuntansi. Bidang akuntansi keuangan (Akuntansi Keuangan, Teori Akuntansi, Analisis Laporan Keuangan, Akuntansi Internaisonal, dan Analisis Investasi) dapat dijelaskan arti pentingnya dan perlunya dijadikan bagian dari seperangkat pengatahuan akuntansi. Bidang Akuntansi Manajemen (Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen, Sistem Pengendalian Manajemen, Manajemen Biaya, dan Akuntansi Keperilakuan) terefleksi dalam gambar tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan informasi untuk kepentingan internal. Hubungan bidang auditing dengan Akuntansi Keuangan juga menjadi jelas dalam gambar tersebut. Bila unit usaha diterapkan untuk unit pemerintah, akan tergambarlah pelaporan keuangan kepemerintahan yang meliputi pula perpajakan yang merupakan pendapatan pemerintah yang utama. Dengan demikian akan mudahlah untuk dijelaskan mengapa akuntansi sektor publik merupakan mata kuliah yang harus dikuasai peserta didik akuntansi. Jurusan akuntansi mempunyai peran yang sangat penting dalam pengambangan ilmu yang mempunyai dampak terhadap kebutuhan akan mata kuliah tertentu. Bila dilakukan dikotonomi secara luas maka dapat diidentifikasi dua bidang penting dalam akuntansi yaitu bidang praktik dan bidang teori akuntansi. Bagian atas prinsip akuntansi yang diterima umum merupakan bidang teori akuntansi sedang di bawahnya merupakan bidang praktik.

Kurikulum di Program Studi Akuntansi perlu memperhatikan konsep link and match. Konsep ini secara garis besar menyatakan bahwa seperangkat mata kuliah yang dirancang harus mengacu pada kebutuhan pasar user lulusan program studi tersebut. Apa yang diperoleh mahasiswa selama di bangku kuliah merupakan bekal utama untuk terjun di dunia kerja. Perguruan tinggi bukan menara gading yang produknya tidak bisa diaplikasikan di masyarakat. Di samping  filosofi, konsep, dan teori yang dikembangkan di sana, perguruan tinggi juga perlu menyampaikan praktik dalam realitas dunia yang ada.

Mata kuliah yang ada di kurikulum tersebut tidak akan bermanfaat bila tidak dikaitkan dengan dunia nyata dalam masyarakat (ingat: contextual teaching learning !). Visiting company atau guest lecturer merupakan salah satu upaya ke arah sana. Disini pentingnya perguruan tinggi mempunyai networking dengan dunia usaha dan industri (DUDI).

DUDI-pun membutuhkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai. Mereka menginginkan para karyawan barunya tidak perlu ditraining dulu (kalaupun ditraining tidak perlu lama), tetapi langsung berkerja dan diberi tanggung jawab. Dengan demikian ada keterkaitan dan saling membutuhkan antara perguruan tinggi dengan DUDI.

Saat ini (tepatnya mulai 2002) di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia diberlakukan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KBK ini merupakan kurikulum yang dikembangkan pada pencapaian kompetensi lulusan. Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Peserta didik (mahasiswa) memiliki kompetensi tertentu setelah mereka terlibat aktif dalam pembelajaran, selanjutnya mereka dapat digolongkan dalam lulusan yang kompeten.

Kompetensi lulusan adalah pengetahuan keterampilan dan perilaku yang didemontrasikan oleh peserta didik sesudah mengikuti pendidikan tertentu (Astin 1993 dalam Badrun 2003). Dengan demikian untuk memperoleh lulusan yang kompeten perlu diterapkan pembelajaran yang tepat sehingga peserta didik dapat memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya. Adapun kriteria lulusan yang kompeten menurut Ditjen Dikti (2004: 38) terdiri dari:
  1. Mempunyai kemampuan berlandaskan pada pengembangan kepribadian
  2. Berkemampuan menguasai IPTEKS dan keterampilan (know how & know why)
  3. Berkemampuan berkarya (know to do)
  4. Berkemampuan menyikapi dan berperilaku dalam berkarya sehingga dapat mandiri, menilai dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab (to be)
  5. Berkemampuan untuk hidup bermasyarakat dengan bekerjasama, saling harga menghargai nilai-nilai pluralisme  dan kedamaian (to live together)
Implementasi pembelajaran berbasis kompetensi ini diperlukan perangkat berupa silabus, Rencana Perkuliahan (RP), dan sistem penilaian yang tepat sesuai dengan kompetensi lulusan yang diharapkan. Silabus memuat tentang identitas matakuliah, deskripsi matakuliah, standar kompetensi matakuliah, strategi perkuliahan, sumber bahan, skenario perkuliahan dan evaluasi. Berdasarkan pada silabus tersebut dapat disusun Rencana Perkuliahan (RP)  yang  kegiatannya mencakup:
  1. Kemampuan akhir pembelajaran
  2. Skenario pebelajaran: alternatif kegiatan yang dapat ditempuh oleh peserta   didik tahap demi tahap dalam mencapai kompetensi antara atau kompetensi penyusun, kompetensi akhir disertai dengan tugas terstruktur, monitoring dan evaluasi
  3. Indikator keberhasilan pembelajaran/kriterian penilaian keberhasilan atau tahapan keberhasilan
  4. Cara penilaian antara lain penilaian proses dan kinerja
  5. Lingkup materi (dapat diakses dari berbagai sumber belajar)
  6. Media pembelajaran
  7. Rencana waktu (Ditjen Dikti, 2004)
Sistem penilaian yang diterapkan sesuai dengan penilaian pada KBK dilakukan antara lain dengan: (Ditjen Dikti, 2004: 43)
  1. Mengukur semua aspek pembelajaran meliputi proses, kinerja dan produk dengan tekanan pada keemampuan mendemonstrasikan kompetensi yang diharapkan.
  2. Melaksanakan penilaian selama dan sesudah proses pebelajaran berlangsung
  3. Menggunakan berbagai cara penilaian dan berbagai sumber
  4. Menjadikan tes hanya sebagai salah satu alat pengumpul data penilaian
  5. Menilai tugas-tugas yang diberikan yang menekankaan pada pemahaman dan penguasaan pengetahuan dan keahlian mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
  6. Menilai keterlibatan dan kontribusi mahasiswa dalam diskusi kelompok, kemampuan mahasiswa dalam mepresentasikaan hasil diskusi kelompok, isi laporan diskussi kelompok diukur dengan alat ukur kategori non-tes, seperti daftar checklist, performace appraisal.

KESIMPULAN
Dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi, dosen seharusnya dipandang sebagai manajer klas, bukan sebagai sumber pengetahuan utama. Yang dianggap sebagai sumber pengetahuan yang utama adalah buku, perpustakaan, artikel dalam jurnal, hasil penelitian, media cetak atau audio visual lainnya (termasuk internet). Peran yang tepat bagi seorang dosen adalah sebagai director, facilitator, motivator,dan evaluator. Dosen menetapkan sumber pengetahuan apa saja yang harus dipelajari mahasiswa dalam bentuk silabus (termasuk SAP), mahasiswa menjalani program belajar tersebut, dan dosen yang mengendalikan proses belajar mahasiswa.

Dari berbagai komponen keberhasilan instructional di Program Studi Akuntansi, kurikulum merupakan hal yang penting untuk menghasilkan lulusan yang siap pakai. Untuk itu diperlukan kurikulum yang bersifat link and match dan competence-based agar mahasiswa memiliki bekal yang cukup guna mamasuki dunia kerja.

DAFTAR REFERENSI
  1. Badrun Kartowagiran. 2003. Supervisi dan Evaluasi Keterlaksanaan KBK. Makalah. Yogyakarta.
  2. Ditjen Dikti. 2004. Draft Tanya Jawab Seputar Proses Pembelajaran Di Perguruan Tinggi. Jakarta: Depdiknas
  3. Irwan, Prasetya, 1994, Proses Pembelajaran, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar, Jakarta: Ditjen Dikti
  4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 056/U/1999; Nomor 232/U/2000; dan Nomor 045/U/2002
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tentang Pendidikan Tinggi
  6. Suparman, Atwi. 1994. Garis-Garis Besar Program Pengajaran dan Satuan Acara Pengajaran. Jakarta: Ditjen Dikti.
  7. Suwardjono, 1992, Gagasan Pengembangan Profesi dan Pendidikan Akuntansi di Indonesia, Yogyakarta: BPFE.
  8. _________ , 1999, Strategi Penerapan Kurikulum Akuntansi Keuangan, Makalah dalam Seminar Kurikulum di Yogyakarta, 26 – 27 Juli 1999.
  9. Tim Pengembang Kurikulum UNY, 2002, Garis Besar Pedoman Pengembangan Kurikulum 2002, Yogyakarta: Tim Pengembang Kurikulum UNY.

Untuk melihat versi original makalah akuntansi diatas, silakan sobat download, filetype:doc (klik disini)

Itulah tadi posting tentang Contoh Makalah Akuntansi. terima kasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam.