.

Kurikulum Berbasis Kompetensi Matematika | Makalah

Kurikulum Berbasis Kompetensi Matematika

KBK Matematika - Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Melanjutkan posting bertema Contoh Makalah, pada kesempatan kali ini admin akan berbagi posting tentang Contoh Maklah Kurikulum Berbasis Kompetensi Matematika yang disusun oleh sobat Ujang Sukandi (Staf Teknis Pusat Pengembangan Kurikulum Depdiknas Jakarta). Atau mungkin sobat juga ingin sekedar melihat posting sebelumnya tentang "Jenis Dan Prinsip Pengembanngan Kurikulum". semoga bermanfaat.

contoh makalah, kurikulum, pengembangan kurikulum, jenis kurikulum, pengembangan kurikulum, kurikulum pendidikan, kurikulum terbaru, kbk, kurikulum matematika, kbk matematika

Kurikulum Berbasis Kompetensi (Matematika)

Oleh: Ujang Sukandi

Pengantar

Pembahasan mengenai kurikulum dapat dianggap sebagai usaha menjawab paling sedikit 4 pertanyaan berikut:

1) Tujuan pendidikan apa yang ingin dicapai?  
2) Pengalaman belajar apa yang perlu disediakan untuk mencapai tujuan tersebut?  
3) Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?
4) Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?

Dalam makalah ini keempat pertanyaan tersebut digunakan untuk membahas kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mata pelajaran metematika untuk jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah tingkat atas (SMA).

1. Tujuan Pendidikan Matematika
Kompetensi dalam KBK dapat dimasukkan kedalam jawaban terhadap pertanyaan ” Tujuan pendidikan apa yang ingin dicapai?” Kompetensi sendiri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir, berbuat, dan bersikap secara ajeg (konsisten). Artinya seluruh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajari siswa harus berwujud dalam bentuk pikiran, perbuatan, dan perilaku siswa yang relatif bertahan lama. Dalam pengertian kompetensi ini, terdapat dua unsur yang menjadi ciri kompetensi: 1) Keteramatan, dan 2) Kebertahanan. Artinya, kompetensi itu harus dapat dilihat dan dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama. Misal seseorang dikatakan memiliki kompetensi menjahit. Ia tidak cukup menunjukkan hasil tes pengetahuan tentang menjahit, tetapi harus menunjukkan praktek menjahit itu sendiri dan dapat menunjukkannya kapan saja ia diminta.
  
Dalam matematika, kompetensi mengandung dua aspek: aspek material dan aspek formal. Aspek material menggambarkan penguasaan konsep dan keterampilan sedangkan aspek formal menggambarkan pengembangan nalar siswa (formal ----- to form = membentuk). Selama ini pembelajaran matematika lebih menekankan aspek material daripada aspek formal. KBK menghendaki pengembangan keduanya, bahkan dapat dikatakan lebih pada aspek formal, sebagaimana disebutkan dalam dokumen KBK matematika bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
  1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam penarikan kesimpulan misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, ....................;
  2. .... mengembangkan pemikiran divergen ....;
  3. Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah;
  4. Mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui ... grafik, diagram, ....
Coba bandingkan tugas pada kolom sebelah kiri dan kolom sebelah kanan berikut. Apa perbedaan dampak terhadap berpikir siswa dari tugas pada masing-masing kolom?


Tugas pada kolom kiri menuntut siswa untuk mengingat tidak lebih dari 2 hal: 1) hasil jumlah bilangan 1 angka, yaitu 6 + 5, 1 + 2, dan 3 + 3; 2) teknik menyimpan untuk penjumlahan 2 bilangan yang hasilnya 10 atau lebih. Dua hal ini termasuk aspek material. Sedangkan tugas pada kolom kanan, selain dituntut 2 hal di atas, siswa dituntut 2 hal lainnya, yaitu 1) berpikir alternatif, yaitu menemukan berbagai kemungkinan bentuk penjumlahan 2 bilangan 2 angka; dan 2) menemukan susunan angka yang menyebabkan hasil penjumlahan menjadi terbesar. Belum lagi bila pertanyaan ”Mengapa susunan itu menyebabkan hasil terbesar?” ditambahkan setelah menemukan susunan angka tersebut. Pertanyaan terakhir ini menuntut siswa untuk ’berargumentasi’. Mereka menemukan hubungan antara susunan angka dan hasil jumlah. Dua hal tambahan ini merupakan kemampuan matematika yang beraspek formal. Dengan perkataan lain, tugas pada kolom kanan mengembangkan kedua aspek sedangkan tugas pada kolom kiri hanya aspek material dari kemampuan matematika. Dengan kata lain pula, dalam KBK materi pelajaran matematika harus diolah/disajaikan dalam bentuk seperti pada kolom kanan. Mungkin tidak semua materi dapat diolah seperti itu, namun bagi materi yang mungkin ’mengapa tidak?’.

Untuk mengahadapi masa depan, yang ditandai dengan munculnya berbagai perubahan, maka tampaknya tujuan pembelajaran matematika harus lebih diarahkan ke aspek formal, mengingat aspek material sudah banyak ”dikuasai ” oleh mesin. Aspek formal lebih mendidik siswa untuk:
  • Berpikir logis: berpikir ’jika ..., maka ...’
  • Berpikir sistematis: berpikir runtut
  • Berpikir analitis: melihat pola, hubungan
  • Berpikir sintesis: kreatif
  • Berpikir alternatif: menemukan cara lain
Berbagai kemampuan berpikir tersebut lebih memungkinkan siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapi, baik dalam matematika, mata pelajaran lain, dan diharapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan lain, dalam matematika semua pengetahuan yang diperoleh harus bermuara pada kemampuan memecahkan masalah.

Bagaimana dengan Anda selama ini mengajar matematika: lebih mengembangkan aspek material atau aspek formal? Apakah sekarang jelas mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan matematika yang menuntut berpikir analitis dan sintesis? 

2. Metode/Kegiatan Pembelajaran
Paling sedikit terdapat 3 istilah yang perlu dipahami perbedaannya: 1) tahu, 2) paham, dan 3) mampu. Seseorang dianggap mengetahui sesuatu bila dapat menyebutkan atau mengatakan kembali apa yang diketahuinya. Ia menyebutkan/menjelaskan apa yang diketahuinya itu persis seperti kata-kata orang yang menyampaikan kepadanya atau seperti apa yang tertulis dalam buku yang ia baca. Sedangkan paham ditandai dengan seseorang dapat menjelaskan kembali apa yang diketahui dengan kata-katanya sendiri. Jika ia tidak dapat menjelaskan, ia dapat memberi contoh atau bukan contoh tentang konsep yang diketahuinya, sebagai pengganti dari ketidakmampuannya menjelaskan. Seseorang dikatakan ’mampu’ bila ia dapat melakukan sesuatu yang diketahuinya.


Tuntutan tentang hasil belajar siswa dalam KBK adalah berupa kompetensi, sesuatu yang lebih  menggambarkan apa yang dapat dilakukan, yaitu ’mampu’, daripada apa yang diketahui siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang bagaimana yang diperkirakan dapat menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi?

Jelas, pembelajaran yang didominasi ’ceramah guru’ agak sulit untuk diharapkan menghasilkan siswa dengan ciri seperti itu. Sebaliknya, pembelajaran yang menyediakan siswa banyak kesempatan untuk berbuat, berlatih, dan berdiskusi dengan guru maupun temannya lebih memungkinkan menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi. Banyak mengerjakan latihan soal, sebagaimana yang sekarang terjadi, memang dapat menjadikan siswa ’dapat melakukan’, namun sering terbatas pada pemecahan persoalan yang pernah atau mirip dengan yang pernah dipecahkan. Sedangkan untuk persoalan baru, siswa sering ’terseok-seok’ bahkan tak mampu menyelesaikannya.

Hal ini berarti siswa tidak memiliki ’cara berpikir umum’ yang relatif dapat digunakan dalam memecahkan berbagai situasi persoalan. Cara berpikir itu adalah seperti yang disebut di atas, yaitu berpikir logis, berpikir sistematis, berpikir analitis (melihat pola, hubungan), berpikir sintesis (kreatif), dan berpikir alternatif. Cara berpikir seperti ini lahir dari bagaimana cara kita (guru) mengolah materi matematika.

Paling sedikit terdapat tiga cara mengolah materi matematika agar siswa memiliki kemampuan baik yang beraspek material terlebih aspek formal: nuansa penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.


Penyelidikan
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengamati pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain.


Pada contoh pertama siswa didorong untuk mengamati pengaruh variabel ukuran panjang dan lebar terhadap luas persegipanjang. Pada contoh kedua, mengamati pengaruh variabel ukuran jari-jari terhadap luas lingkaran.

Penemuan
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan pola/keteraturan, hubungan, rumus, bangun, atau cara. Berpikir alternatif dapat dikategorikan kedalam ’penemuan’ karena siswa menemukan cara lain memecahkan suatu persoalan.


Pemecahan masalah
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan terlebih dahulu cara/strategi/hubungan sebelum menyelesaikan suatu masalah matematika.


Soal pada kolom tengah sudah menunjukkan kejelasan tentang apa yang diperbuat siswa, yaitu ’mengurangkan’ atau membilang. Sedangkan soal pada kolom paling kanan menuntut siswa untuk menemukan terlebih dahulu ’logika’/cara penyelesaian sebelum menyelesaikannya. Soal tidak memberikan kejelasan apa yang harus dilakukan siswa. Namun, soal ini dapat saja tidak merupakan soal pemecahan masalah lagi bila siswa telah mengetahui apa yang harus dilakukan karena misalnya pernah menyelesaikannya sebelumnya.

Sejumlah materi/konsep matematika mungkin lebih cocok/mudah  diolah ke nuansa penyelidikan, sedangkan yang lainnya ke nuansa penemuan atau pemecahan masalah; atau mungkin terdapat konsep yang dapat diolah kedalam dua bahkan ketiga nuansa tersebut.   

Pengolahan materi seperti itu mungkin lebih didasarkan pada pandangan filsafati terhadap matematika sebagai ’kegiatan manusia’ ketika menghadapi masalah, sehingga dalam pembelajarannya siswa didorong untuk berpikir sendiri, menemukan sendiri, dan berani/terbiasa mengungkapkan pendapat. Sedangkan pengolahan materi yang lebih mengembangkan aspek material lebih didasarkan pada pandangan matematika ’sebagai alat’ sehingga dalam pembelajarannya siswa diberitahu tentang bahan kajian matematika (rumus dan sebagainya), dijelaskan bagaimana menggunakannya, dan kemudian diminta berlatih menggunakannya. Pandangan pertama menyebabkan siswa pasif, sedangkan yang kedua menyebabkan siswa aktif dalam belajarnya. Keadaan tersebut digambarkan secara diagramatik sebagai berikut:


3. Penilaian
Dari mana kita mengetahui bahwa seseorang memiliki kompetensi tertentu? Kita dapat mengenalinya paling sedikit dari tiga hal: unjuk kerja, produk, dan perilaku yang ditampilkan.

Sebagaimana kita ketahui, penilaian adalah proses pengumpulan informasi tentang kemampuan yang dicapai siswa. Jika target yang dituntut dalam tujuan pendidikan di atas adalah ’unjuk kerja’ atau ’apa yang dapat dilakukan siswa’, maka penilaian yang cocok untuk itu adalah penilaian yang dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan kemampuan dan perilakunya. Penilaian seperti itu lebih cocok dialamatkan pada penilaian melalui unjuk kerja dan produk.

Penilaian unjuk kerja
Penilaian unjuk kerja adalah penilaian terhadap tindakan/’action’ siswa pada saat siswa melakukan tindakan itu. Misalnya memainkan alat musik, menari (Seni),  berbicara (Bahasa), berbagai gerak (Pendidikan Jasmani), menggunakan alat-alat percobaan (IPA) atau alat-alat pertukangan (Kerajinan tangan): secara efisien dan aman, atau hal umum seperti kerjasama/partisipasi dalam kerja/diskusi kelompok, merupakan contoh-contoh tindakan siswa yang cocock dinilai melalui penilaian unjuk kerja. Kemampuan matematika apa yang cocok dinilai melalui penilaian unjuk kerja?

Menggunakan alat ukur/gambar (penggaris, busur, jangka), misalnya, merupakan kemampuan yang cocok dinilai melalui penilaian unjuk kerja. Unjuk kerja adalah hal yang dinilai sedangkan caranya adalah dengan mengamati (observasi) unjuk kerja tersebut. Untuk pelajaran matematika, penilaian unjuk kerja yang bersifat fisik mungkin tidak terlalu banyak digunakan. Unjuk kerja dalam bentuk ’berpikir’(= unjuk pikir ?) seperti berpikir logis, sistematis, dan sebagainya tampaknya lebih cocok untuk kelompok penilaian ini. Cara berpikir ini dapat dilihat dari cara siswa menyelesaikan suatu masalah dalam matematika.

Penilaian produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap hasil kerja siswa. Karangan, laporan hasil kerja proyek, atau hasil karya yang dikumpulkan sebagai portofolio dapat dikategorikan sebagai produk siswa. Penilaian produk biasanya dilakukan terhadap hasil belajar yang berkaitan dengan ’pembuatan barang-barang praktis’ atau ’ekspresi seni’. Dua aspek yang biasanya dinilai dari suatu produk adalah fungsi dan estetika (keindahan). Bagaimana dengan matematika, apa saja yang dapat dinilai dengan penilaian produk? Rumus yang ditemukan siswa atau alaternatif lain penyelesaian suatu masalah dapat dikategorikan sebagai produk, dan oleh karena itu dinilai melalui penilaian produk.

Kepustakaan
  1. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.
  2. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.
  3. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah.
  4. Forster, M. Dan Masters, G.(1996), What is Performance Assessment?. Australia: The Australian Council for Educational Research Ltd.
  5. ………………(?), What is Product Assessment?. Australia: The Australian Council for Educational Research Ltd.
  6. R. Ibrahim dan Benny Karyadi (1991), Pengembangan Inovasi dan Kurikulum. Jakarta: Universitas Terbuka.
  7. R. Soedjadi, PMRI Memungkinkan Tumbuhnya Budaya Demokrasi. Buletin PMRI, edisi II, Oktober 2003.
Untuk melihat versi original makalah KBK Matematika diatas, silakan sobat download, filetype:doc (klik disini)

Itulah tadi posting tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi Matematika. terima kasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam.