.

Makalah Keperawatan Gerontik :: Penuaan Pada Sistem Integumen

Contoh Makalah Keperawatan Gerontik Tentang Penuaan Pada Sistem Integumen

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi posting tentang Makalah Keperawatan Gerontik dengan judul Penuaan Pada Sistem Integumen yang disusun oleh sobat Dini Rahardianing Dewi. Atau mungkin sobat ingin membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Makalah Kesehatan Kulit". semoga bermanfaat.


TUGAS MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK
Penuaan Pada Sistem Integumen

OLEH : DINI RAHARDIANING DEWI (07.40.059)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
JALAN TRUNOJOYO NO.16 KEPANJEN-MALANG
SEPTEMBER 2009

Definisi
Menjadi tua adalah suatu proses alamiah. Manifestasi proses menua antara lain rambut rontok dan memutih atau abu-abu, permukaan kulit keriput, banyak gigi yang tanggal (ompong), daya penglihatan atau pendengaran berkurang, perubahan sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan lain-lain.

Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses ini menjadi beban bagi orang lain dibadingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal dan tidak normal.

Penuaan sesungguhnya merupakan proses dediffensiasi (de-growth) dari sel, yaitu proses terjadinya perubahan anatomi maupun penurunan fungsi dari sel. Ada banyak teori yang menjelaskan masalah penuaan.  Dalam makalah ini akan disampaikan tiga buah teori.

a. Teori Pertama
Teori pertama menyatakan bahwa semakin cepat suatu organisme hidup maka semakin cepat pula mereka menua. Hal ini terjadi karena kehidupan cepat didefinisikan sebagai proses differensiasi dari pertumbuhan yang cepat serta metabolisme yang tinggi (Kimbal, 1983) sehingga sel-sel lebih cepat mengalami penuaan.  Apabila disandarkan pada teori ini maka pertumbuhan seorang manusia yang terlalu cepat, tidak baik bagi manusia tersebut karena dia akan cepat mengalami penuaan. Namun demikian teori ini tidak menjelaskan bagaimana proses tersebut dapat terjadi pada tingkat seluler sehingga pengambilan kesimpulan yang hanya didasarkan pada teori ini banyak memiliki kekurangan.

b. Teori Kedua
Teori kedua menyatakan bahwa setiap sel tidak dapat mengelak dari penumpukan sisa metabolit yang bersifat racun. Penumpukan tersebut secara berangsur-angsur mengurangi kemampuan sel untuk berfungsi sehingga akhirnya menjadi tua. Sel tidak dapat mengelak dari penumpukan ini karena kolagen sebagai protein struktural yang merupakan selubung ekstraseluler sebagian besar sel tubuh menjadi tidak lentur dan tidak mudah larut. Seperti diketahui, ketika kolagen pertama kali dibentuk, zat ini bersifat lentur dan mudah larut dan hal ini menunjukkan bahwa sel belum menua. Namun demikian lama-kelamaan rantai polipeptida yang terbuat dari kolagen terikat terus bersama sehingga kelarutan dan kelenturan (permeabilitas) dari bahan tersebut berkurang.  Akibat pengurangan permeabilitas ini maka lalu lintas bahan antar-sel mengalami banyak hambatan. Kemungkinan ini pula yang dijadikan dasar dalam pemunculan hipotesis bahwa penuaan mengakibatkan terjadinya perubahan hormon (Hermann dan Berger, 1999) walaupun tidak ada hubungan antara penuaan tersebut dengan perubahan komposisi asam lemak sel (Stulnig et al., 1996).

c. Teori Ketiga
Teori ketiga menyatakan bahwa penuaan terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan yang merugikan gen-gen yang berhubungan dengan sel badan atau sel-sel somatik (Kanungo, 1994).  Menurut Burnet dalam Kimbal (1983) mutasi gen somatik yang tidak dengan cepat diperbaiki oleh enzim DNA polimerase akan menumpuk pada sel sehingga gen-gen tersebut mulai menghasilkan protein yang tidak sempurna yang mengakibatkan efisiensi sel berkurang.  Apabila protein yang tidak sempurna ini menjadi enzim maka proses mutasi somatik akan terjadi secara lebih cepat.  Akibatnya, sel akan mati (merupakan proses penuaan) atau bahkan mengalami kanker. Akibat lain penuaan adalah merangsang mutasi DNA mitokondria (Fukagawa et al., 1999).

Proses penuaan (degeneratif) juga terjadi pada sistem muskuloskeletal. Proses penuaan dibagi penuaan endogen dan penuaan eksogen. Perubahan rambut menjadi beruban, osteoporosis merupakan contoh dari perubahan endogen.

Pengaruh penuaan eksogen biasanya karena cara hidup yang merugikan seperti merokok, makan berlebihan, minuman keras, stres dalam kehidupan, dan sebagainya.


Pada usia lanjut kulit mengalami atropi dan kehilangan elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan. Keadaan ini biasanya di perberat dengan terjadinya perenggangan septum orbita dan migrasi lemak preaponeurotik ke anterior. Keadaan ini bisa terjadi pada palpebra superior maupun inferior dan disebut dengan dermatokalasis.

Perubahan Anatomik pada Sistem Integumen
1. Kulit.
2. Rambut
a. Pertumbuhan menjadi lambat, lebih halus dan jumlahnya sedikit.
b. Rambut pada alis, lubang hidung dan wajah sering tumbuh lebih panjang.
c. Rambut memutih.
d. Rambut banyak yang rontok.
3. Kuku
a. Pertumbuham kuku lebih lambat, kecepatan pertumbuhan menurun 30-50% dari orang dewasa.
b. Kuku menjadi pudar.
c. Warna kuku agak kekuningan.
d. Kuku menjadi tebal, keras tapi rapuh.
e. Garis-garis kuku longitudinal tampak lebih jelas. Kelainan ini dilaporkan terdapat pada 67% lansia berusia 70 tahun.


KEPERAWATAN GERONTIK.
Pengertian.
Gerontologi adalah cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang mungkin terjadi pada lanjut usia. Geriatri nursing adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan perannya pada tiap peranan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara komprehensif. Karena itu, perawatan lansia yang menderita penyakit dan dirawat di RS merupakan bagian dari gerontic nursing.

Pendekatan perawat usia lanjut
a.Pendekatan fisik
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia ada 2 bagian yaitu :
- Klien lanjut usia yang masih aktif, yang masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain.
- Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun yang mengalami kelumpuhan atau sakit.
b. Pendekatan psikis
Perawatan mempunyai peranan yang panjang untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.

c. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka.

d. Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama jika klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.

Tujuan asuhan keperawatan usia lanjut
a. Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.
b. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan lansia melalui perawatan dengan pencegahan.
- Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup / semangat hidup lansia.
- Menolong dan merawat klien yang menderita sakit.
- Merangsang petugas kesehatan agar dapat mengenal dan menegakkan diagnosa secara dini.
- Mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu pertolongan pada lansia.
Fokus Askep usia lanjut
1) Peningkatan kesehatan (health promotion)
2) Pencegahan penyakit (preventif)
3) Mengoptimalkan fungsi mental.
4) Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.

Tahab-tahab Askep usia lanjut
Pengkajian :
- Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan meliputi aspek :
a) Fisik : - Wawancara
- Pemeriksaan fisik : Head to tea, sistem tubuh.
b) Psikologis
c) Sosial ekonomi
d) Spiritual

Pengkajian dasar meliputi : Temperatur, nadi, pernafasan, tekanan darah, berat badan, tingkat orientasi, memori, pola tidur, penyesuaian psikososial.

Sistem tubuh meliputi : Sistem persyarafan, kardiovaskuler, gastrointestinal, genitovrinarius, sistem kulit, sistem musculoskeletal.

Pelaksanaan.
Tahap dimana perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi / perencanaan yang telah ditentukan.

Evaluasi
Penilaian terhadap tindakan keperawatan yang diberikan / dilakukan dan mengetahui apakah tujuan asuhan keperawatan dapat tercapai sesuai yang telah ditetapkan.

Kesimpulan
  1. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diper¬lukan penguasaan ilmu anatomi
  2. Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis.
  3. Anatomi adalah ilmu dasar yang selalu menjadi dasar dari ilmu yang berkembang kemudian, mengembangkan ilmu anatomi berarti membina ilmu masa depan.
Artikel tentang keperawatan gerontik intergumen
Ada beberapa teori biology yang dianggap mampu menjelaskan berbagai penurunan kondisi baik penurunan bentuk anatomis maupun secara fisiologis (fungsi tubuh) apabila seorang manusla mengalami penuaan.

Teori pertama, menyatakan bahwa semakin cepat suatu organisme hidup maka semakin cepat pula mereka menua. Hal ini terjadi karena kehidupan cepat didefinisikan sebagai proses differensiasi dan pertumbuhan yang cepat serta metabolisme yang tinggi (Kimbal, 1983) sehingga sel-sel lebih cepat mengalami penuaan.

Teori Kedua menyatakan bahwa setiap sel tidak dapat mengelak dan penumpukan sisa metabolit yang bersifat racun. Penumpukan tersebut secara berangsur-angsur mengurangi kemampuan sel untuk berfungsi sehingga akhirnya menjadi tua. Sel tidak dapat mengelak dan penumpukan ini karena kolagen sebagai protein struktural yang merupakan selubung ekstraseluler sebagian besar sel tubuh menjadi tidak lentur dan tidak mudah larut.

Seperti diketahui, ketika kolagen pertama kali dibentuk, zat ini bersifat lentur dan mudah larut dan hal ini menunjukkan bahwa sel belum menua. Namun demikian lama-kelamaan rantai polipeptida yang terbuat dan kolagen terikat terus bersama sehingga kelarutan dan kelenturan (permeabilitas) dari bahan tersebut berkurang. Akibat pengurangan permeabilitas ini maka lalu lintas bahan antar-sel mengalami banyak hambatan.

Kemungkinan ini pula yang dijadikan dasar dalam pemunculan hipotesis bahwa penuaan mengakibatkan terjadinya perubahan hormon (Hermann dan Berger, 1999) Teori ketiso, menyatakan bahwa penuaan terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan yang merugikan gen-gen yang berhubungan dengan sel badan atau scl-sel somatik (Kanungo, 1994).

Menurut Burnet dalam Kimbal (1983) mutasi gen somatik yang tidak dengan cepat diperbaiki oleh enzirn DNA polimerase akan menumpuk pada sel sehingga gen-gen tersebut mulai menghasilkan protein yang tidak sempurna yang mengakibatkan eflsiensi sel berkurang. Apabila protein yang tidak sempurna ini menjadi enzim maka proses mutasi somatik akan terjadi secara lebih cepat.

Akibatnya, sel akan mati (merupakan proses penuaan) atau bahkan mengalami kanker. Dr. H.  Samino, Sp S(K) dalam seminar mengenai lansia mengungkapkan, bahwa proses penuaan adalah merupakan akumulasi secara progresif dan berbagai perubahan patafisiologi organ tubuh yang berlangsung seiring berlalunya waktu, selain itu proses penuaan akan meningkatkan kemungkinan terserang penyakit bahkan kematian.  Pada akhirnya penuaan mengakibatkan penurunan kondisi anatomis dan sel akibat terjadinya penumpukan metabolit yang terjadi di dalam sel. Metabolit yang menumpuk tersebut tentunya bersifat racun terhadap sel sehingga bentuk dan komposisi pembangun sel sendiri akan mengalami perubahan.

Di samping itu karena permeabilitas kolagen yang ada di dalam sel telah  sangat jauh berkurang, maka kekenyalan dan kekencangan dan otot, terutama pada bagian integumen akan sangat jauh menurun. Hal inilah yang secara kasat mata dapat dilihat berupa kulit keriput pada manusia yang mengalami proses penuaan. Sesungguhnya proses perubahan di atas hampir terjadi di setiap sel, hanya saja karena sel kulit (sistem integumen) merupakan lapisan luar tubuh yang berhubungan dengan dunia luar, maka sel inilah yang jelas dapat langsung dilihat. Selain itu dampak penuaan secara Fisiologis dalam suatu sel baik secara bentuk maupun komposisi zat pembangunnya dipastikan akan mempengaruhi fungsi dari sel maupun organisme tersebut secara keseluruhan.

Sebagai Konsultan Neurology, Dr. Samino mengungkapkan ada berbagai tanda-tanda kemunduran proses Faali (menua) yaitu, menurunnya elastisitas jaringan (elastin dan kolagen, hilangnya kemampuan proliferasi sel, pemendekan rantai kromosom, meningkatnya kesalahan transkripsi genetic yang memungkinkan timbulnya neoplasia atau kanker dan terjadinya degenerasi pada organ-organ. Menurunnya sistem imunitas, musculoskeletal, kardiovaskuler, pembuluh darah, pernapasan, susunan saraf pusat dan tepi, pempisan rambut.

Selain itu yang perlu disadari adalah bahwa menua merupakan suatu hal yang fitrah dan akan berjalan terus, yang terpenting bahwa kita bisa mengatasi atau mengurangi dampak buruk terhadap fungsi kehidupan ujarnya. (fajar al fajri, Natural vol 8, 2005, hal 9-10).

DAFTAR PUSTAKA
  1. Carpenito, L. “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”, Edisi ke-6, EGC, Jakarta, 2000.
  2. Nugroho, Wahjudi. “Keperawatan Gerontik”, Edisi ke-2, EGC, Jakarta 2000.
  3. Leeckenotte, Annete Glesler. “Pengkajian Gerontologi”, Edisi ke-2, EGC, Jakarta, 1997.
  4. Watson, Roger. “Perawatan Lansia”, Edisi ke-3, EGC, Jakarta 2003.
itulah tadi posting tentang Contoh Makalah Keperawatan Gerontik. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. he he he. wassalam.