Makalah Kesehatan

Contoh Makalah Kesehatan

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi posting tentang Makalah Kesehatan dengan tema Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Pada Buah Hati yang disusun oleh sobat Azella Syarra. Atau mungkin sobat ingin membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Makalah Sindrom Pasca Aborsi". semoga bermanfaat.

contoh makalah, makalah kesehatan, artikel kesehatan, kesehatan, contoh makalah kesehatan, contoh artikel kesehatan

PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA BUAH HATI

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester yang diberikan oleh dosen mata kuliah sosiologi

Disusun oleh:
Azella Syarra (2008710023)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2008/2009


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan rahmat Allah, Tuhan pencipta alam, tiada lain hanya kepada-Nya puji syukur marilah kita panjantkan atas kehadirat-Nya, yang telah memberikan segala kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah yang merupakan salah satu tugas yang diberikan pada mata kuliah Ulumul Qur’an dan merupakan salah satu syarat agar dapat lulus dalam mata kuliah ini.

Pada kesempatan ini penulis mohon maaf atas segala kesalahan ataupun kata-kata yang kurang tepat sehingga terjadi kejanggalan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, sebagai ilmu bagi penulis. Dengan ini penulis mengharapkan dorongan, bimbingan & bantuan dalam berbagai hal sehingga makalah ini dapat tersusun. Dan tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada:
  • Yth. Dr. syafri Guricci, Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadaiyah Jakarta
  • Yth. Luqman Effendi, S.Sos.MKM, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Jakarta dan pembimbing karya tulis ini
  • Yth. Ayahanda dan Ibunda, yang telah memberikan bantuan moril maupun materi
  • Teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan karya tulis ini
Penulis sadar, meskipun penulis sudah berusaha secara maksimal untuk membuat makalah ini, namun masih belum sempurna dan memuaskan karya yang benar hanya milik-Nya, dan yang salah hanya milik manusia yang mempunyai keterbatasan, kekurangan, dan kesalahan.
Penulis berharap mudah-mudahan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penuis.


Jakarta, 1 januari 2009


Azella Syarra


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulis
1.4 Kerangka Teori

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejak Dalam Kandungan Ibu
2.2 Pentingnya Pendidikan Keluarga
2.3 Pengetahuan Orang Tua Tentang Bahaya Narkoba
2.4 Pendidikan Pencegahan Pada Buah Hati
2.5 Membentuk Kepribadian Anak
2.6 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Anak

BAB III    PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

====================

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
INDONESIA BEBAS NARKOBA!! Itulah harapan kita sebagai masyarakat yang peduli akan keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia. Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya di Indonesia sudah memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan, apalagi jumlah korban yang setiap tahun meningkat drastis, terutama di kalangan generasi muda dan pelajar (SMP, SMA, dan Mahasiswa).

Sebagaimana kita ketahui, generasi muda adalah tonggak keberlangsungan masa depan Indonesia. Mereka adalah harapan kita, sinar matahari yang akan memberikan warna bagi masa masa depan bangsa. Oleh karena itu, menjaga mereka agar tidak terpengaruh oleh bahaya Narkoba adalah kewajiban semua pihak.

Hasil survei membuktikan bahwa mereka yang beresiko terjerumus dalam masalah narkoba adalah anak yang terlahir dari keluarga yang memiliki sejarah kekerasan dalam rumah tangga, dibesarkan dari keluarga yang broken home atau memiliki masalah perceraian, sedang stres atau depresi, memiliki pribadi yang tidak stabil atau mudah terpengaruh, merasa tidak memiliki teman atau salah dalam pergaulan. Dengan alasan tadi maka perlu pembekalan bagi para orang tua agar mereka dapat turut serta mencegah anaknya terlibat penyalahgunaan narkoba.

Dampak dari penyalahgunaan narkoba sudah terbukti pada generasi kita. Dapat terlihat kerusakan fisik seperti : otak, jantung, paru-paru, saraf-saraf, selain juga gangguan mental, emosional dan spiritual, akibat lebih lanjut adalah daya tahan tubuh lemah, virus mudah masuk seperti virus Hepatitis C, virus HIV/AIDS. Oleh karena itu kita tidak akan rela jika generasi muda kita mengalami penderitaan di atas.

Kualitas bangsa dimulai dengan kualitas keluarga, oleh karena itu kesadaran para orang tua untuk menjaga anak-ananya dari pencemaran akibat narkoba sangat signifikan.

Sebelum terlambat, orang tua membekali dirinya dalam sikap, pola pikir, kebiasaan, pola asuh kepada para anaknya dan memelihara interaksi dengan pasangannya yang akan berpengaruh pada kualitas fisik, psikis dan intelegensi anak bahkan ketika janin dalam kandungan ibu.

Kesadaran orang tua perlu dibekali oleh pengetahuan dan pengalaman yang konkrit. Disinilah peran orang tua untuk segera aktif dalam melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak usia dini.

1.2    Rumusan Masalah
  1. Bagaimana peran orang tua dalam persiapan menanti buah hati?
  2. Bagaimana pentingnya pendidikan keluarga dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada buah hati?
  3. Bagaimana pentingnya pengetahuan orang tua tentang bahaya narkoba?
  4. Bagaimana pendidikan pencegahan pada buah hati?
  5. Bagaimana cara membentuk kepribadian anak?
  6. Bagaimana cara menumbuhkan percaya diri anak?
1.3    Tujuan Penulis
  1. Untuk mengetahui peran orang tua dalam persiapan menanti buah hati
  2. Untuk mengetahui pentingnya pendidikan keluarga dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba pada buah hati
  3. Untuk mengetahui pentingnya pengetahuan orang tua tentang bahaya narkoba.
  4. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan pencegahan pada buah hati
  5. Untuk mengetahui cara membentuk kepribadian anak.
  6. Untuk mengetahui cara menumbuhkan percaya diri anak
1.4    Kerangka Teori
Sejarah penemuan Narkotika atau Narkoba dimulai sejak tahun 2000 SM, saat di Samarinda ditemukan opium (bunga candu). Kemudian pada tahun 1806 ditemukan Morphin oleh seorang dokter dari Westpahalia dan pada tahun 1898, pabrik obat Bayer menemukan dan memproduksi Heroin.

Sejak saat itulah Narkoba khususnya golongan Narkotika dan Psikotropika dikenal jenis obat-obatan tertentu yang digunakan oleh kalangan kedokteran untuk terapi penyakit, misalnya untuk menghilangkan rasa nyeri. Namun pada perkembangannya, obat-obatan itu disalahgunakan (abuse) sehingga menimbulkan ketergantungan (dependence).

Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Narkoba adalah obat, bahan, atau zat dan bukan tergolong makanan jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikkan, berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat), dan sering menyebabkan ketergantungan.  Terjadi perubahan pada kesadaran, pikiran, perasaan, dan perilaku pemakainya.  Akibatnya, kerja otak berubah (meningkatkan atau menurunkan); demikian pula fungsi vital organ tubuh lain (jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain).

Narkoba yang ditelan akan masuk lambung, kemudian ke pembuluh darah. Jika diisap atau dihirup, zat diserap masuk ke dalam pembuluh darah melalui saluran hidung dan paru-paru. Jika disuntikkan zat langsung masuk ke aliran darah. Darah membawa zat itu ke otak.

Napza (Narkotika, Psikotropika, Bahan Adiktif lain) adalah istilah yang digunakan dalam kedokteran atau kesehatan. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pengaruh ketergantungannya.

Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan, yang disebut sistem limbus: Hipotalamus – pusat kenikmatan pada otak – adalah bagian dari sistem limbus. Narkoba menghasilkan perasaan ’high’ dengan mengubah susunan biokimia molekul pada sel otak yang disebut neuro-trans mitter.

Jenis-jenis narkoba yang sering disalahgunakan, yaitu Opiodia, Ganja (Marijuana, Cimeng, Gelek, Hasis) , Kokain (Kokain, Crack, Daun Koka, Pasta Koka), Golongan Amfetamin (Amfetamin, Ekstasi, Sabu), Alkohol, Halusinogen, Sedativa dan Hipnotika (Obat Penenang, Obat Tidur), Solven dan Inhalansia, dan Nikotin.

Semua jenis narkoba mengubah perasaan dan cara berpikir seseorang. Tergantung pada jenisnya, narkoba menyebabkan:
  • Perubahan pada suasana hati (menenangkan, rileks, gembira, dan rasa bebas);
  • Perubahan pada pikiran (stres hilang dan meningkatkandaya khayal);
  • Perubahan pada pola perilaku (meningkatkan keakraban, menghambat nilai, dan lepas kendali).
Kepedulian adalah sebuah bentuk dari cinta dan kasih sayang kita sebagai manusia sosial yang berbudaya. Setiap kita adalah nasihat bagi orang lain, dan begitupula sebaliknya. Kita semua mengakui bahwa setiap orang tidak ada yang mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu dengan sikap kepedulian itu akan membentuk kesempurnaan dengan cara saling melengkapi satu sama lain.

Melalui sikap kepedulian, pencegahan berbagai tindak kriminal, kenakalan remaja, keamanan, kedamaian, keharmonisan, akan mudah diciptakan. Dengan sikap kepedulian ini, maka motto bahwa, ”Pencegahan lebih baik dari mengobati”, akan benar-benar terbukti dalam kasus pemakaian obat-obat terlarang.

Pada tahap awal kehidupan manusia agen sosialisasi pertama adalah keluarga. Oleh karena itu, orang tua merupakan orang penting (significant other) dalam sosialisasi.

Guna mencegah terjerumusnya para penerus bangsa tersebut ke dunia Narkoba, maka campur tangan dan tanggung jawab orang tua memegang peranan penting di sini. Karena baik atau buruknya perilaku anak sangat bergantung bagaimana orang tua menjadi teladan bagi putra-putrinya.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJAK DALAM KANDUNGAN IBU

A. Darimana Bayi Berasal?
Pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dimulai dari sejak dini dan usia dini. Ketika bayi belum terlahir ke dalam dunia yaitu masih dalam kandungan ibu, maka program pencegahan penyalahgunaan narkoba sudah dapat dilakukan:

Ketika pembentukan janin dimulai, maka berlangsung PROSES KELUARBIASAAN setiap anak, yaitu:
1. Setiap anak adalah unik
Seperti bintang di langit ketika malam hari, berjuta-juta bintang tadi berkilau menambah keindahan malam. Demikian juga dengan setiap anak. Mereka berkilauan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing yang diberikan oleh Tuhan sang pencipta alam.

Anak-anak yang dilahirkan ke muka bumi ini, tidak ada yang sama diantara mereka. Jadi, jika ada 6 miliar manusia di muka bumi ini, maka ada 6 miliar pula jenis individu yang berbeda.

Setiap anak adalah unik, jadi jangan pernah bandingkan satu anak dengan anak yang lainnya. Jika ada sikap orang tua yang membanding-bandingkan, maka akan melahirkan perasaan tidak diterimanya dari sang anak. Keadaan ini akan menjadi salah satu penyebab larinya anak pada penyalahgunaan narkoba di kemudian hari.

2. Setiap anak adalah juara
Setiap anak telah dibekali keunggulan oleh Sang Khalik bahkan ketika baru memulai kehidupan. Keunggulan ini patut dipelihara untuk kelangsungan di dalam kehidupannya di dunia.

Keadaan ini layak direnungkan oleh para orang tua untuk memandang betapahebat dan luar biasanya anak-anak yang telah lahir ke dunia ini. Sikap seperti ini akan mendukung konsep diri yang positif dari anak-anak dan mampu membuat mereka mengalahkan godaan dari dunia luar, termasuk godaan dari nakoba.

3. Kualitas anak dimulai sejak awal kehidupan
Sejak dalam kandungan, kualitas manusia sudah tercipta. Janin dalam kandungan ibu sudah memiliki kemampuan mendengar sejak di usia kehamilan 16 minggu.

Menyadari hal di atas, saatnyalah bagi calon ibu dan ayah untuk mampu menjaga sikap dan perkataan selama janin dalam kandungan. Selain secara fisik berkembang, secara psikis pun mereka sudah terbentuk sejak dalam kandungan.

Kualitas fisik janin sangat ditentukan oleh kualitas sperma (ayah) dan ovum (ibu). Embrio hasil pertemuan sperma membentuk alat-alat tubuh seseorang seperti OTAK, SARAF, OTOT-OTOT, PARU-PARU, JANTUNG, USUS dan ALAT KELAMIN.

Dengan mamahami proses ini, apakah kita perlu heran jika ada bayi yang tidak sempurna secara fisik? Salah satu perusak kualitas sperma dan ovum ini adalah penyalahgunaan NARKOBA dari calon ibu dan calon ayah yang menghasilkan kualitas sperma yang tidak optimal dalam segi kualitas.

Pencegahan penyalahgunaan NARKOBA sudah dimulai secara jasmani sejak proses pertemuan sperma dan ovum di dinding rahim ibu.

B. Makanan yang perlu diperhatikan ibu hamil

Kehamilan merupakan sesuatu hal yang membahagiakan, penyebabnya karena mereka akan mendapatkan anggota baru dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, kehamilan ini kerap kali menjadi perhatian serius bagi anggota keluarga maupun masyarakat.

Hidup bayi sangat tergantung dari wanita yang mengandungnya, maka wanita atau calon ibu perlu memperhatikan asupan ke dalam darinya; baik asupan tubuh (fisik), psikis dan spiritualnya.

Ada 3 gizi utama yang perlu diperhatikan calon ibu ketika sedang mengandung calin bayinya, yaitu :
  1. Gizi fisik
  2. Gizi jiwa
  3. Gizi spiritual
1. Gizi Fisik

Selama mengandung, wanita memerlukan makanan tambahan lebih besar 50% dari biasa, terutama zat putih telur, zat kapur fosfor, zat besi dan vitamin-vitamin lainnya.

Jumlah protein yang diperlukan adalah protein yang terdiri dari 1/3 protein yang berasal dari hewan dan 2/3 pritein tumbuh-tumbuhan.

Sumber protein hewan yang terbaik adalah dari susu, daging, ikan dan telur. Sedangkan dari tumbuh-tumbuhan adalah kacang, tempe dan tahu.

Bila wanita kekurangan zat putih telur, akan menyebabkan penyakit anemia (kurang darah). Terhadap janin pengaruh kekurangan protein tidaklah terlalu besar karena janin mengambil dari TUBUH IBU.

Zat kapur per hari yang diperlukan setiap wanita hamil adalh 75 miligram per kilogram berat badan. Tablet kalk harus dimakan lebih banyak dari kebutuhan karena sebagian besar dari kapur dikeluarkan lagi melalui tinja.

Zat besi; setiap wanita hamil membutuhkan kira-kira 15 mg sehari. Zat besi yang terpenting adalah mineral.

Hidrat arang; dalam memilih makanan yang mengandung zat protein sebenarnya kebutuhan hidrat arang sudah dipenuhi. Bagi wanita hamil, lebih baik banyak makan telur, daging dan susu daripada terlalu banyak makan nasi karena karbohidrat telah terpenuhi melalui makanan tersebut.

Idealnya bagi wanita hamil setiap harinya mengkonsumsi makanan sebagai berikut:
  1. Susu 2 gelas.
  2. Sepotong daging (125 grm).
  3. Telur (1 - 2 butir).
  4. Buah-buahan (Jeruk, pepaya, pisang).
  5. Sayuran berwarna hijau. Semakin tua warnanya semakin baik karena semakin banyak mengandung vitamin A.
  6. Nasi secukupnya (seperti sebalum hamil).
Dr. E. Oswari DPH menyebutkan bahwa kekurangan gizi pada calon ibu dapat mengakibatkan hal-hal berikut:
  1. Kematian ibu
  2. Keracunan hamil toksemia
  3. Keguguran
  4. Bayi lahir mati
  5. Berat Badan Bayi Lahir sangat rendah.
2. Gizi Jiwa (Psikis)

Janin di usia kandungan berkembang dan berbentuk manusia kecil lengkap dengan indrawinya. Termasuk dengan kemampuan mendengarnya. Sekalipun janin itu belum lahir ke muka bumi tetapi kemampuan untuk menerima pesan ternyata sudah bisa dilakukan sejak dalam kandungan ibu. Bayi sejak dalam kandungan sudah mampu menangkap secara psikis melalui syaraf dan otot-otot yang ada pada dirinya tentang apa saja yang terjadi di dunia luar.

Jika ibu secara psikis banyak mengalami tekanan, maka gizi psikis bayi pun terancam. Untuk kesehatan jiwa bayi dalam kandungan, seorang calon ibu sebaiknya:
  1. Membaca cerita positif dan edukatif pada bayi dalam kandungannya
  2. Mengajaknya berbicara sebagai sosok individu yang layak dihargai.
  3. Menikmati kehamilannya dan mensyukuri keberadaan bati tersebut dalam kandungannya.
Demikian juga dengan ayah. Aksi ayah pada ibu akan mempengaruhi reaksi bayi dalam kandungannya juga. Semakin positif ayah memperlakukan ibu, maka gizi psikis anak dalam kandungan akan semakin baik.

3. Gizi Spiritual (Roh)

Setiap makhluk hidup ciptaan Tuhan memiliki fisik dan jiwa. Ada satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, yaitu memiliki roh (spiritual).

Apakah calon bayi sudah memiliki roh? Berbagai kajian agama menyebutkan bahwa roh telah dihembuskan ke dalam jiwa bayi ketika denyut kehidupan mulia hadir dalam dirinya. Jadi, seorang calon bayipun sudah memiliki roh yang perlu dipupuk sejak dalam kandungan. Roh dalam diri manusia disebut dengan manusia batiniah. Artinya sama dengan hati nurani.

Pikiran, keinginan dan emosi termasuk pada kategori jiwa manusia. Tubuh adalah penutup fisik kita. Ketiganya membentuk sosok manusia. Jiwa dan tubuh itu adanya dalam roh.

Seseorang dikatakan hidup atau mati tergantung pada roh yang ada padanya. Melalui roh ini, manusia dapat mengenal dan merasakan keberadaan pencipta-Nya.

Tuhan Yang Maha Kuasa adalah pihak yang paling pertama menjalin relasi (komunikasi) dengan calon bayi. Tuhan sudah berkomunikasi dengan janin lebih dahulu dari siapapun.

Seorang ibu patut memberikan gizi spiritual kepada calon bayinya melalui:
  1. Membaca kitab suci dengan bersuara sesuai agama yang dianut ibu.
  2. Mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui kegiatan rohani.
Kebiasaan ibu memberikan gizi spiritual kapada calon bayinya akan mengeksplorasi keagamaan bayi untuk dekat dengan Tuhannya. Bayi akan tumbuh dengan rasa keTuhanan yang kuat. Mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh kejahatan yang ditawarkan di dalam dunia, termasuk penyalahgunaan narkoba.

Salah satu faktor mengapa seseorang terlibat dalam kejahatan narkoba adalah kondisi kurangnya religi orang tersebut. Pendalaman etika moral yang terkandung dalam agama tidak dimilikinya, sehingga tidak memiliki kontrol diri yang benar. Hati nuraninya mulai padam. Sulit membedakan yang benar dan yang salah..

C. Mengapa ibu harus sehat dan selalu riang?

Kondisi kesehatan fisik, psikis dan spiritual ibu adalah hal utama yang mempengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkannya. Kondisi ibu perlu dipantau selama kehamilan.

Calon ibu diharapkan untuk selalu memeriksakan kondisi fisik dan perkembangan calon bayinya selama kehamilan, dengan tujuan agar:
  1. Memelihara kesehatan tubuh dan jiwa calon ibu dan menemukan penyakit atau kesulitan proses perkembangan janin sedini mengkin.
  2. Menjamin kelahiran seorang bayi yang sehat dari ibu yang sehat.
  3. Menjaga kesehatan ibu setelah melahirkan.
  4. Memberi kesanggupan ibu agar dapat menjaga perkembangan janin.
Kondisi wanita yang sehat bukan hanya dibutuhkan ketika hamil saja tetapi juga pasca melahirkan. Bayi belum mampu mengurus dirinya sendiri, kehidupannya tergantung dari yang merawatnya. Dalam hal ini, ibulah yang menjadi tumpuan harapan bagi kelangsungan hidup bayinya.

Seperti kita ketahui bahwa sosok bayi, bukan hanya terdiri dari tubuh (fisik) semata tetapi juga ada jiwa dan roh yang hidup dalam dirinya.

Beberapa literatur menyebutkan hasil penelitian bahwa ibu yang riang cenderung melahirkan bayi yang riang pula. Demikian juga ibu yang mudah menangis dan meratapi dirinya akan cenderung melahirkan bayi yang ”rewel”.

Telah dibuktikan secara ilmiah bahwa janin dalam kandungan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu. Jika ibu terlibat perselisihan kemudian merasa jengkel selanjutnya akan mempengaruhi pengeluaran hormon dalam tubuh ibu. Hormon ini juga akan mempengaruhi sifat bayi yang dikandungnya.

Ibu yang sedang mengandung dan banyak membiarkan dirinya dipenuhi dengan emosi yang merusak seperti rasa marah, sedih dan kecewa maka besar kemungkinan bayi yang dilahirkannya akan menunjukkan sifat yang sama pula. Sejak dalam kandungan dia sudah dibekali oleh hormon-hormon negatif dalam dirinya.

Sikap ibu yang sedang hamil sebaiknya lebih dijaga sehingga hormon-hormon yang disalurkan pada bayinya lebih bersifat positif. Hormon yang diproduksi akan mampu mempengaruhi sifat bayi yang menjadi lebih tenang dan bijaksana.

Seorang ibu sebaiknya memiliki kebiasaan untuk berbahagia dengan keadaan dirinya. Dengan rasa bahagia akan tercipta hormon yang memberikan energi positif pada bayinya. Energi positif dalam diri janin akan menciptakan antusiasme pada diri anak. Perasaan senang dan senyum dapat meningkatkan kadar Adrenin dalam pembuluh darah dan bergabung dengan meningkatkan kadar gula (glicogen) dari hati memicu energi tubuh untuk melakukan sesuatu dengan antusias.

Beberapa studi menemukan hasil penelitian yang menyatakan bahwa anak yang antusias adalah anak yang memiliki pikiran positif. Anak yang berpikiran positif memiliki harga diri yang sehat. 80% s.d 85% dari anak-anak yang berpikiran negatif akan kehilangan rasa harga diri mereka.

Kehilangan rasa harga diri akan menjadikan anak rentan terhadap tawaran narkoba sebagai kompensasi dari ingin diakui atau mencari kenyamanan palsu dalam pergaulannya.

D. Adakah kasih mesra antara ayah dan ibu

Sejak proses pembentukan embrio yang menjadi janin dan akhirnya lahirlah bayi, yang terlibat adalah dua pihak, yaitu ayah dan ibu.

Kondisi fisik dan mental seorang istri sangat dipengaruhi oleh sikap suami terhadapnya. Sekalipun istri dapat bersikap proaktif pada situasi apapun, tetapi lingkungan juga membentuk respon bayi sejak dalam kandungan.

Menjadi tugas ayah dan ibu untuk menciptakan rasa aman dan nyaman kepada orang-orang yang dikasihinya, pada anak-anak termasuk anak dalam kandungan. Dengan rasa aman dan nyaman membuat bayi tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Bagaimana caranya agar anak-anak mampu melindungi dirinya sendiri? Anak-anak diberikan harga diri yang tinggi melalui sikap yang bebas dari rasa bersalah dari lingkungan dan merasa behagia sejak awal kehidupannya. Hubungan yang baik antara ayah dan ibu yang dirasakan sejak dia dalam kendungan akan membantu hal di atas terwujud.

Anak-anak belajar dari perilaku tokoh yang ada dalam lingkungannya. Bila suami istri memperagakan sikap petengkaran terus menerus dan tidak terjalinnya hubungan harmonis antara keduanya, maka anak akan mengadopsi dalam pikirannya untuk bertindak serupa di kemudian hari. Dia akan lahir menjadi bayi yang tidak bahagia. Bayi yang tidak bahagia biasanya memiliki konsep diri yang rendah. Lagi-lagi ancaman narkoba akan lebih mudah menghampirinya.


2.2 PENTINGNYA PENDIDIKAN KELUARGA

Salah satu yang vital bagi pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak usia dini adalah pendidikan keluarga.

A. Apakah mendidik itu?
Mendidik ialah mebimbing anak supaya menjadi dewasa. Ada tiga aspek yang terlibat, yaitu anak, proses mendidik, dan tujuan mendidik. Tujuan mendidik adalah memberikan arah bagi proses mendidik.

Ketika mendidik, kita membimbing anak agar ia kelak menjadi orang dewasa yang dapat hidup baik dan benar. Pengertian baik dan benar adalah hidup yang sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma hidup. Artinya, ia selalu melakukan hal-hal yang baik dan benar sehingga mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Hidup sesuai dengan nilai-nilai/ norma tentang kebenaran, dan tidak bertentangan dengan hukum.

Proses pendidikan berlangsung sejak anak masih bayi hingga dewasa. Ada tiga lingkungan dalam pendidikan ; keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidik yang pertama dan utama dalam proses pendidikan anak. Pendidikan keluarga sangant penting, bahkan terpenting dan mendasar dari lingkungan lainnya. Artinya, jika ada kesalahan dalam pendidikan keluarga, akibatnya akan berdampak pada proses berikutnya, yaitu sekolah dan masyarakat.

B. Arti pendidikan keluarga
Beberapa oarng berpendapat bahwa untuk mendidik anak dalam keluarga tidak banyak diperlukan keterampilan khusus, karena hampir setiap orang telah mengalami pendidikan oleh orang tua yang mengasuhnya. Banyak yang berhasil dalam hidupnya karena pendidikan alamiah dari orang tuanya. Mereka telah menjadi ”orang”, telah menjadi sarjana, telah sukses menempuh karier. Hal ini memang tidak dapat disangkal. Akan tetapi banyak juga anak yang menjadi korban salah didik orang tuanya.

Oleh karena itu, dalam keluarga anak harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Pengaruh ibu dan bapak kepada anak dalam pertumbuhan selama sosialisasi tak terhingga pentingnya untuk menetapkan tabiat anak itu. Cinta kasih seorang ibu dan bapak memberi dasar yang kokoh untuk menanam kepercayaan pada diri sendiri dalam kehidupan anak itu selanjutnya. Keluarga yang aman dan tentram mendatangkan tabiat yang tenang bagi anak itu sekarang dan dikemudian hari. Lambat-laun pengaruh si ayah pun sebagai sumber kekuasaan akan lebih kuat, suatu pengaruh yang akan menanam bibit penghargaan terhadap kekuasaan di luar rumah bilamana ayah itu tahu cara memimpin keluarganya. Rumah itu harus menjadi tempat di mana persatuan antara anggota-anggota keluarga itu terpelihara baik-baik.

Anak-anak belajar dengan meniru, dengan sengaja ataupun tidak. Demikianlah juga kebudayaan menjadi milik dan dicontoh daripada apa yang dikatakan. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semua yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari daripola-pola perilaku yang normatif. Artinya, mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan, dan bertindak.

Pola-pola kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dapat berfungsi sebagai pengatur, pengawas dan dapat memberikan arah kelakuan serta perbuatan manusia sesuai dengan kehendak umum.

Sigmund Freud, bapak ilmu psikoanalisis menyebutkan bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak sejak lahir sangat menentukan perkembangan kepribadian pada umur selanjutnya.

Pada lima tahun pertama perkembangan Ego dan Super dari energi hidup yang sifatnya psikis yang disebut ‘The Id’. The Id merupakan sumber energi psikis yang mencari jalan penyaluran untuk memuaskan dipuaskan berdasarkan prinsip nikmat, artinya the Id berusaha memuaskan diri (prinsip kenikmatan). Dalam lima tahun pertama anak mengalami perkembangan mulai dari fase oral (0 – 1 tahun), fase anal (1 – 3 tahun), dan fase falik (3 – 5 tahun). Pada fase ini peranan ibu dan ayah sangat penting.

Selanjutnya, anak akan mulai menginjak ke fase kedewasaan, yang dapat dibagi ke 6 sense of intimacy (kemampuan kemesraan), (7) sense of generativity (kemampuan mengurus orang lain/ keturunannya), dan (8) sense of integrity, saat ia mampu menginteraksikan seluruh aspek kepribadianya secara utuh.

C. Kesalahan pendidikan yang sering terjadi
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedang lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktuk keluaga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.

Pendidikan keluarga yang tepat akan memungkinkan anak berkembang menjadi dewasa. Dia akan memiliki kejiwaan yang stabil, tidak terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum atau norma yang berlaku, produktif da konstruktif. Anak juga akan bekerja sama secara kreatif ketika ia masuk di tengah masyarakat, ia bertanggung jawab terhadap segala hal yang dikerjakannya.

Untuk membuat pendidikan dilingkungan keluarga lebih efektif, ada baiknya kita meninjau kesalahan-kesalahan yang sering dibuat oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dengan pengetahuan ini, semoga kita dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang berdampak pada kehidupan anak dalam janka panjang.

Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi yaitu kesalahan konseptual (salah mengerti tentang dasar-dasar pendidikan), kesalahan teknis (salah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari), dan kesalahan yang melekat pada pribadi orang tua itu sendiri.

1). Kesalahan Konseptual
Kesalahan konseptual adalah kesalahan yan diakibatkan oleh sikap, cara pandang, dan pemahaman tentang arti dantujuan pendidikan orang tua kepada anak.

Jika kita ingin mendidik agar anak disiplin pada kebenaran, maka orang tua perlu melakukan:
Pertama; orang tua dapat menunjukkan keteladanannya dalam hal-hal yang hendak diajarkan kepada anak, sehingga pengajaran itu dilandasi oleh kejujuran, bukan sebagai sikap yang dibuat-buat.

Kedua; Anak diberi kesempatan untuk menanyakan atau berdialog dengan orang tua mengenai hal-hal benar dan baik yang diajarkan kepadanya. Jadi, kepatuhan sebaiknya adalah kepatuhan bukan kepada orang, tetapi kepada norma-norma yang dianggap benar, yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara logis.

2). Kesalahan Teknis
Kesalahan teknis adalah kesalahan dalam cara menjalankan pendidikan. Kesalahan teknis sering berhubungan dengan kesalahan konseptual, yaitu kesalahan dalam pemahaman makna pendidikan.

3). Kesalahan yang bersumber pada kepribadian orang tua
Ada beberapa sikap dan suasana orang tua yang menghambat proses pendewasaan anak, yaitu sebagai berikut:
  • Sikap yang keras, kejam, dingin, dan otoriter, yang selalu memberi nasihat atau cerewet ataupun memarahi anak;
  • Sikap yang acuh tak acuh, karena orang tua terlalu sibuk dengan memerhatikan kesulitan-kesulitannya sendiri, sehingga anak kurang mendapat perhatian atau seakan-akan sama sekali tidak terlihat.
  • Sikap memanjakan, sehingga apa kebutuhan anak dituruti secara berlebihan, walaupun anak sendiri tidak memintanya. Sikap yang demikian membuat anak tidak dapat berdiri sendiri, karena jiwanya terikat oleh orang tuanya.
  • Sikap selalu khawatir terhadap anak; khawatir kalau anak celaka di jalan, khawatir kalau anak sakit, atau bergaul dengan lingkungan yang tidak beres, khawatir kalau makanan dan minuman anak kurang steril, dan sebagainya.
Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anak sebagai amanah yang akan dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan.
  1. Menanamkan nilai-nilai agama/ spiritual sejak dini.
  2. Mengembangkan potensi diri sang anak seoptimal mungkin.
  3. Membangun harga diri sebaik mungkin.
  4. Mengajarkan kemampuan untuk bersosialisasi yang efektif.
  5. Memberikan kontrol kepada anak dan mengetahui tentang apa yang ia lihat, tonton, dan kesukaannya.
  6. Mengajarkan anak untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kembangkan sikap yang sehat terhadap seksualitas.
  7. Hidup dalam lingkungan tetangga yang baik.
  8. Menerapkan standar pekerjaan dan perilaku realistis didukung oleh disiplin yang tepat.
  9. Ajarkan anak agar mampu dan trampil, termasuk keterampilan dalam mengatasi masalah.
  10. Tegakkan sikap kemandirian pada anak.
D. Bagaimana pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba dalam keluarga dijalankan
Pencegahan adalah semua tindakan atau kegiatan yang dilakukan untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan (antisipasi). Dengan pencegahan ini, memungkinkan seseorang mempunyai ketahanan diri untuk menciptakan dan memperkuat lingkungannya guna mengurangi atau menghilangkan semua resiko terjadinya sesuatu yang membahayakan diri atau orang lain.

Pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah segala upaya dan tindakan untuk menghindarkan orang memulai penggunaan narkoba; dengan menjalankan cara hidup sehat serta mengubah kondisi lingkungan yang memungkinkan orang terjangkit penyalahgunaan narkoba.

Pecegahan meliputi:
  1. Peningkatan kesehatan dan budaya hidup sehat baik fisik maupun mental berlandaskan keimanan dan ketaqwaan.
  2. Pendewasaan kepibadian.
  3. Peningkatan kemampuan mengatasi masalah.
  4. Peningkatan harga diri dan percaya diri.
  5. Peningkatan hubungan intrapersonal dan interpersonal serta kemampuan sosial.
  6. Memperkuat sektor-sektor lingkungan, misalnya: keluarga, sekolah, masyarakat yang mendukung peningkatan kesehatan dan pengembangan kepribadian generasi muda.
Tujuan pencegahan:
a) Membantu seseorang untuk:
  1. Meningkatkan kemampuan mengatasi kesulitan/ permasalahan.
  2. Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan.
  3. Meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri.
  4. Meningkatkan budaya hidup sehat.
  5. Meningkatkan kemampuan sosial.
  6. Meningkatkan kemampuan menolak tekanan untuk menyalahgunakan narkoba.
b) Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dan keluarga tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dan pencegahannya.
c) Meningkatkan peran serta masyarakat dan keluarga dalam penanggulangan dan pencegahan masalah narkoba.

Penyalahgunaan narkoba dapat dicegah, bahkan seharusnya dicegah. Adalah lebih baik mencegah daripada mengobati, atau melakukan tindakan represif. Justru di sinilah peran orang tua atau keluarga yang sangat penting dalam pencegahan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ayah dan ibu terhadap anak-anaknya.
Upaya yang dilakukan antara lain:
  1. Mengasuh anak dengan baik
  2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat di rumah
  3. Luangkan waktu untuk bersama-sama
  4. Menjadi contoh yang baik bagi anak-anak
  5. Kembangkan komunikasi yang baik
  6. Mengerti dan menerima anak sebagaimana adanya
  7. Memperkuat kehidupan beragama
  8. Memahami tentang penyalahgunaan Narkoba
  9. Memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari
  10. Jujur dan akui kelemahan-kelemahan Anda kepada anak tanpa harus merasa takut kehilangan wibawa
  11. Menjadi orang tua sekaligus sahabat
  12. Setiap peraturan berlaku sama bagi tiap anggota keluarga
  13. Mengarahkan tanpa menggurui anak
E. Cara mengajarkan anak tentang masalah narkoba
Pada umumnya anak dan remaja menerima informasi tentang narkoba dari luar rumah; sebagaian besar dari teman-teman sebayanya. Sangat sedikit yang memperoleh informasi itu dari rumah. Orang tua gagal mengajarkan masalah narkoba kepada anak, karena memang mengabaikannya; karena takut, jika membahas masalah itu anak malah justru menyalahgunakannya; atau karena orang tua merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Salah satu alasan mengapa remaja mencoba memakai nerkoba adalah karena narkoba membuat mereka merasa nyaman atau nikmat. Remaja tidak percaya, bahwa pada tahap jangka panjang, mereka akan sengsara. Oleh karena itu, penjelasan kapada anak harus dapat diterima oleh akal sehat, bukan dengan cara menakut-nakuti bahayanya, dengan tanpa alasan.

Orang tua yang tidak memahami secara jelas pengaruh narkoba cenderung membuat pernyataan seperti ; narkoba akan menggoreng otakmu. Pernyataan seperti ini tidak ada maknanya, karena tidak memiliki dasar ilmiah. Hal ini justru akan mengganggu kredibilitas orang tua.

Ada beberapa kunci cara mengajarkan masalah narkoba kepada anak.
Pertama, jangan memberi ceramah, sebab hal itu menyebabkan anak menjauhi orang tua.

Kedua, jangan menjadikan acara itu seperti pengajaran formal. Sebaliknya, ajaran pada berbagai kesempatan setiap minggunya; ketika menonton televisi bersama, mendengarkan radio membaca, pergi bersama, atau makan bersama. Saat-saat itu adalah saat yang memungkinkan anak menerima pengajaran dengan baik. Jangan terlalu banyak memberi informasi pada suatu waktu.

Ketiga, gunakan gambar-gambar dari buku untuk menjelaskan berbagai jenis narkoba, sehingga mereka mengenalnya ketika ditawarkan salah satu jenis narkoba olh teman sebayanya. Jangan abaikan fakta bahwa narkoba memberikan rasa nikmat atau menyenangkan pada awal pemakaian. Sedangkan oranga yang telah ketergantungan, meu tidak mau harus memakai narkoba, agar menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman, jika tidak memakai narkoba.

Keempat, jelaskan bahwa jika seseorang memakai narkoba untuk menghindari persoalan, menghilangkan rasa sakit dan stres, maka pengaruh itu hanya sementara. Sebab setelah itu, rasa sakit, stres, dan penderitaan itu akan muncul kembali, bahkan lebih buruk, kerena tidak ada tindakan apa pun untuk mengatasinya. Dengan pemakaian berulang, persoalan-persoalan lain akan segera muncul.

Selain dengan memberi tahu kunci cara mengajarkan masalah narkoba kepada anak. Dalam hal ini maka usaha pencegahan menjadi sangat penting sekali. Usaha pencegahan yang dikenal dengan ”prevensi primer”, yaitu pencegahan yang dilakukanpada saat penyalahgunaan belum terjadi. Usaha ini antara lain:
  1. Pembinaan kehidupan beragama, baik disekolah, keluarga dan lingkungan.
  2. Adanya komunikasi yang harmonis antara remaja dengan orang tua dan guru serta lingkungannya.
  3. Selalu berperilaku positif dengan melakukan aktivitas fisik dalam penyalahgunaan energi remaja yang tinggi seperti berolahraga.
  4. Perlunya pengembangan diri dengan berbagai program/ hobi di sekolah maupn di rumah dan lingkungan sekitar.
  5. Mengetahui secara pasti gaya hidup sehat sehingga mampu menangkal pengaruh atau bujukan memakai obat terlarang.
  6. Saling menghargai sesama remaja dananggota keluarga.
  7. Penyelesaian berbagai masalah di kalangan remaja/ pelajar secara positif dan konstruktif.
Selain itu, pencegahan dengan mengurangi faktor resiko penyalahgunaan Narkoba secara komprehensif dan terpadu dapat dilakukan dengan beberapa usaha dan upaya dari berbagai pihak terkait.

Secara singkat, beberapa upaya tersebut antara lain:
1. Individu
Latihlah keterampilan psiko-sosial (komunikasi, kelola stres), latihan daya tangkal (berkata ”TIDAK”), dan konseling.

2. Keluarga
Pendidikan dan keteladanan orang tua (role model).

3. Kelompok Sebaya
Latihan mengubah pola pikir dan perilaku, mengenal gejala dini, konseling, dan merujuk kasus.

4. Sekolah
Latih guru mengenal kelompok resiko tinggi, libatkan orang tua, kebijakan sekolah bebas Narkoba, pendidikan pencegahan siswa, konseling siswa bermasalah.

5. Perguruan Tinggi/ Akademi/ Universitas
Cegah/ berantas peredaran Narkoba, kampus bebas Narkoba, pemeriksaan ketat, test urine, bimbingan, rujukan, dan pembentukan kelompok mahasiswa anti Narkoba.

6. RW/ Kelurahan
Cegah/ berantas peredaran Narkoba, terapi/ rehabilitasi pecandu Narkoba berbasis masyarakat, dan penyuluhan oleh aparat.

7. Tempat Kerja
Program bimbingan karyawan, kebijakan tempat kerja bebas Narkoba, pemerikasaan urine secara berkala.

8. Masyarakat
Kampanye melalui media, penanggulangan berbasis masyarakat, pendidikan dan pencegahan, penegakan hukum, dan rujukan.

2.3 PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG BAHAYA NARKOBA

Dalam rangka pencegahan dini dari penyalahgunaan narkoba bagi anak-anak, maka para orang tua perlu tahu KNOW HOW nya tentang narkoba sehingga mampu mendukung bagi pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak dini. Jangan anggap enteng kebiasaan anak untuk mencoba merokok. Hasil survei menunjukkan bahwa merokok pada anak atau remaja merupakan pintu gerbang untuk masuk pada pemakaian narkoba.

A. Apakah narkoba itu?
Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Narkba adalah obat, bahan, atau zat dan bukan tergolong makanan jika diminum, diisap, dihirup, ditelan, atau disuntikkan, berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan saraf pusat), dan sering menyebabkan ketergantungan. Akibatnya, kerja otak berubah (meningkat atau menurun); demikian pula fungsi vital organ tubuh lain (jantung, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain).

Narkoba yang ditelan akan masuk lambung, kemudian ke pembuluh darah. Jika diisap atau dihirup, zat diserap masuk ke dalam pembuluh darah melalui saluran hidung dan paru-paru. Jika disuntikkan zat langsung masuk ke aliran darah. Darah membawa zat itu ke otak.

Narkoba tergolong racun bagi tubuh, jika digunakan tidak sebagaimana mestinya. Racun adalah bahan atau zat, bukan makanan atau minuman, yang berbahaya bagi manusia. Contoh racun adalah obat anti serangga atau anti hama. Sedangkan obat adalah bahan atau zat, baik sintesis, semisintesis, atau alami yang berkhasiat menyembuhkan. Akan tetapi penggunaannya harus mengikuti aturan pakai, jika tidak, dapat berbahaya dan berubah jadi racun.

Narkotika yang sama sekali tidak boleh digunakan pada pengobatan adalah Narkotika Golongan I (heroin, kokain, ganja) dan Psikotropika Golongan I (LSD, ekstasi), karena bukan tergolong obat, dan potensi menyebabkan ketergantungannya sangat tinggi.

B. Cara kerja narkoba dan pengaruhnya pada tubuh manusia dan lingkungan
Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan, yang disebut sistem limbus: Hipotalamus – pusat kenikmatan pada otak – adalah bagian dari sistem limbus. Narkoba menghasilkan perasaan ’high’ dengan mengubah susunan biokimia molekul pada sel otak yang disebut neuro-transmitter.

Berdasarkan data yang terdapat pada organisasi kesehatan dunia WHO pada tahun 1992, disebutkan bahwa di antara jenis Narkoba atau NAPZA yang banyak disalahgunakan adalah:
  1. Alkohol,
  2. Opioida (heroin, morfin, pethidin, candu atau opium),
  3. Sedativa,
  4. Hipnotika (termasuk di dalamnya obat penenang atau obat tidur),
  5. Kokain (daun koka, serbuk kokain dan crack),
  6. Stimulansia (termasuk di dalamnya kafein, ekstasi, dan shabu-shabu)
  7. Halusinogenka (LSD, mushroom dan mescalin),
  8. Tembakau (karena kandungan nikotin),
  9. Pelarut yang mudah menguap seperti aseton, glue, dan lem,
  10. Kombinasi beberapa zat, seperti heroin dengan shabu-shabu atau alcohol dengan obat tidur, dan sebagiannya.
Dari kesepuluh jenis Narkoba dan NAPZA tersebut, ternyata memiliki efek negative yang sangat berbahaya dapat ditimbulkan setelah mengkonsumsinya. Selain itu Narkoba atau NAPZA merupakan obat atau zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik, psikis, dan sosial bagi yang menggunakannya atau orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Jika penggunaan obat tersebut disalahgunakan, maka akan dapat merusak sistem saraf yang pada akhirnya akan memunculkan efek negatif pada fisik dan jiwa bagi pengguna Narkoba.

Secara umum pengaruh penyalahgunaan Narkoba pada tubuh manusia dan lingkungannya sebagai berikut:
1. Komplikasi medik
Biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruh atau gangguan tang terjadi adalah:
a) Otak dan susunan saraf:
  • Gangguan daya ingat.
  • Gangguan konsentrasi.
  • Gangguan bertindak rasional.
  • Gangguan persepsi sehingga menimbulkan halusinasi.
  • Gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja.
  • Gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
b) Saluran napas
  • Terjadi radang paru (bronchopneminia).
  • Pembengkakan paru (oedema paru).
c) Jantung
  • Peradangan otot jantung.
  • Penyempitan pembuluh darah pada jantung.
d) Hati
  • Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual.
e) PMS (Penyakit Menular Seksual) dan HIV/ AIDS
Para pengguna Narkoba dikenal dengan perilaku seks beresiko tinggi, hal ini karena mereka melakukan hubungan seks bebas demi mendapatkan Narkoba. Penyakit menular yang bakalan terjadi adalah kencing nanah (GO), raja singa (siphilis), dan lain-lain. Sedangkan pengguna Narkoba yang memakai jarum suntik secara bersama-sama akan sangat mudah terkena penularan HIV/AIDS.
f) Sistem reproduksi
  • Akan terjadi kemandulan atau impotensi.
g) Kulit
  • Terjadi kerusakan (kanker) kulit akibat jarum suntik.
h) Komplikasi pada kehamilan
  • Ibu: terkena anemia, infeksivagina, hepatitis, dan AIDS.
  • Kandungan: abortus, keracunan kehamilan bayi lahir mati.
  • Janin: pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak sosial
a. Di lingkungan keluarga
  • Suasana nyaman dan tenteram akan terganggu, karena akan mudah terjadi ketersinggungan (emosi, yang tidak stabil) sehingga memicu pertengkaran.
  • Barang hilang
  • Terjadi perilaku menyimpang/ asosiasi anak (berbohong, mencuri, tidak disiplin, hidup bebas) dan menjadi aib bagi keluarga.
  • Putus sekolah dan menjadi pengangguran akibat dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan.
  • Keluarga jadi putus asa dan bangkrut (miskin) karena pengeluaran biaya yang meningkat untuk pengobatan dan rehabilitas.
b. Di lingkungan sekolah
  • Merusak disiplin dan motivasi belajar
  • Meningkatkan tindak kenakalan, bolos, dan tawuran.
  • Mempengaruhi peningkatan penyalahgunaan obat-obatan di antara sesama teman sabaya.
c. Di lingkungan masyarakat
  • Terciptanya pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna/ mangsanya.
  • Pengedaran atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang ketagihan.
  • Meningkatnya kejahatan ditengah-tengah masyarakat, seperti perampokan, dan pembunuhan, pencurian, dan lain sebagainya.
  • Meningkatnya angka kecelakaan
C. Bagaimana narkoba disalahgunakan?
Karena pengaruh yang akan menimbulkan rasa nikmat dan nyaman itulah penyebab narkoba disalahgunakan. Akan tetapi, pengaruhnya itu sementara, sebab setelah itu timbul rasa tidak enak ia menggunakan narkoba lagi. Oleh karena itu, narkoba mendorongnya memakainya lagi.

Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan narkoba yang dilakukan tidak untuk maksud pengobatan, tetapi karena ingin menikmati pengaruhnya, dalam jumlah berlebih, secara lebih kurang teratur, dan berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosialnya.

D.    Akibat penyalahgunaan narkoba
1.    Bagi Diri Sendiri
a)    Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja:
  1. Daya ingat, sehingga mudah lupa;
  2. Perhatian, sehingga sulit berkonsentrasi;
  3. Perasaan, sehingga tidak dapat bertindak rasional, impulsif;
  4. Persepsi, sehingga memberi perasaan semu/ khayal;
  5. Motivasi, sehingga keinginan dan kemampuan belajar merosot, persahabatan rusak, serta minat dan cita-cita semula padam.
Oleh kaena itu, narkoba menyebabkan perkembangan mental-emosionaldan sosial remaja terhambat. Bahkan, ia mengalami kemunduran perkembangan.

b) Intoksikasi (keracunan): gejala yang timbul akibat pemakaian narkoba dalam jumlah yang cukup berpengaruh pada tubuh dan perilakunya. Gejalanya tergantung pada jenis, jumlah, dan cara penggunaan. Istilah yang sering dipakai pecandu adalah pedauw, fly, mabuk, teler, dan high.

c) Overdosis (OD): dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan (heroin) atau peredaran otak (amfetamin, sabu). OD terjadi karena toleransi, maka perlu dosis yang lebih besar, atau karena sudah lama berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang dahulu digunakan.

d) Gejala Putus Zat: gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan pemakaiannya. Berat ringan gejala tergantungan pada jenis zat, dosis, dan lama pemakaian.

e) Berulang kali kambuh: Ketergantungan menyebabkan craving (rasa rindu pada narkoba), walaupun telah berhenti pakai. Narkoba dan perangkatnya, kawan-kawan, suasana, dan tempat-tempat penggunaannya dahulu mendorongnya untuk memakai narkoba kembali. Itu sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh.

f) Gangguan perilaku/ mental-sosial: sikap acuh tak acuh, sulit mengendalikan diri, mudah tersinggung, marah menarik diri dari pergaulan, hubungan dengan keluarga dan sesama terganggu. Terjadi perubahan mental: gangguan pemusatan perhatian, motivasi belajar/ bekerja lemah, ide paranoid, dan gejala Parkinson.

g) Gangguan kesehatan: kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh, seperti hati, jantung, paru ginjal, kelenjar endokrin, alat reproduksi, infeksi {hepatitis B/ C (80%), HIV/ AIDS (40-50%)}, penyakit kulit dan kelamin, kurang gizi, penyakit kulit, dan gigi berlubang.

h) Kendornya nilai-nilai: mengendornya nilai-nilai kehidupan agama-sosial-budaya, seperti perilaku seks bebas dengan segala akibatnya (penyakit kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan). Sopan santun hilang. Ia menjadi asosial, mementingkan diri dan tidak memperdulikan kepentingan orang lain.

i) Masalah keuangan dan Hukum: Akibat keperluannya memenuhi kebutuhannya akan narkoba, ia mencuri, menipu, dan menjual barang-barang milik sendiri atau orang lain. Jika masih sekolah, uang sekolah digunakan untuk membeli narkoba, sehingga ia terancam putus sekolah, di samping nilai-nilai rapot yang merosot. Akibat lain adalah ditangkap polisi, ditahan, dan dihukum penjara, atau dihakimi oleh masyarakat setempat.

2. Bagi Keluarga
Suasana nyaman dan tentram terganggu. Keluarga resah karena barang-barang berharga di rumah hilang. Anak berbohong, mencuri, menipu, bersikap kasar, acuh tak acuh dengan urusan keluarga, tak bertanggung jawab, hidup semaunya, dan asosial.

Orang tua merasa malu, karena memiliki anak pecandu. Mereka juga merasa bersalah, tetapi juga sedih dan marah. Perilaku orang tua ikut berubah, sehingga fungsi keluarga, menjadi terganggu. Mereka berusaha menutupi perbuatan anak, agar hal itu tidak diketahui oleh orang luar. Orang tua juga putus asa. Masa depan anak tidak jelas. Anak putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan oleh sekolah atau pekerjaan. Stres meningkat. Kehidupan ekonomi morat-marit. Keluarga harus menanggung beban sosial-ekonomi ini.

3. Bagi Sekolah
Narkoba merusak disiplin dan motivasi yang sangat penting bagi proses belajar. Siswa penyalahguna mengganggu suasana belajar-mengajar. Prestasi belajar turun drastis. Penyalahgunaan membolos lebih besar daripada siswa lain.

Penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kejahatan dan perilaku asosial lain yang mengganggu suasana tertib dan aman, perusakan barang-barang milik sekolah, dan meningkatnya perkelahian. Mereka juga menciptakan iklim acuh tak acuh dan tidak menghormati pihak lain. Banyak di antara mereka menjadi pengedar atau mencuri barang milik teman atau karyawan sekolah.

4. Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara
Mafia perdagangan gelap selalu berusaha memasok narkoba. Terjalin hubungan antara pengedar atau bandar dan korban sehingga tercipta pasar gelap. Oleh karena itu, sekali pasar terbentuk, sulit untuk memutus mata rantai peredarannya.

Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan, sehingga kesinambungan pembangunan terancam. Negara menderita kerugian, karena masyarakatnya tidak produktif dan tingkat kejahatan meningka; belum lagi sarana dan prasarana yang harus disediakan, disamping itu rusaknya generasi penerus bangsa.

E. Jenis-jenis narkoba yang sering disalahgunakan
  1. Opioida
  2. Ganja (marijuana, cimeng, gelek, hasis)
  3. Kokain (kokain, daun koka, crack, pasta koka)
  4. Golongan Amfetamin
  5. Alkohol
  6. Halusinogen
  7. Sedativa dan Hipnotika (obat penenang, obat tidur)
  8. Solven dan Inhalansia
  9. Nikotin

2.4 PENDIDIKAN PENCEGAHAN PADA BUAH HATI
Pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan oleh orang tua sejak dini melalui pesan-pesan efektif dan tingkat pengetahuan orang tua yang cukup tentang narkoba. Pesan-pesan dapat menjadi lebih efektif, jika disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan kesiapan mereka mempelajari informasi baru pada berbagai kelompok usia.

Usia balita adalah usia yang sangat menentukan dalam perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan kepada anak usia balita, terutama dengan pemberian kasih sayang, perhatian, dan bimbingan kepada anak. Selanjutnya, pendidikan pencegahan dilakukan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak, minat, daya tangkap dan potensinya.

2.5 MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK

Kesulitan mengembangkan kepribadian akan menyebabkan anak rentan pada penyalahgunaan narkoba.
A. Mengapa anak mengalami kesulitan mengembangkan kepribadian?
Untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan dalam mengembangkan kepribadian yang mantap, maka terlebih dahulu harus diketahui bagaimana proses pematangan kepribadian anak itu terbentuk.

1. Kepribadian
Kepribadian dapat diartikan sebagai ciri-ciri watak seseorang yang konsisten dan menggambarkan suatu identitas sebagai pribadi atau individu yang khusus. Dengan kata lain, orang yang memiliki kepribadian adalah orang yang mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara lahir, konsisten dan konsekuen dalam tingkah lakunya, sehingga tampak seseorang tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan orang lain.

Untuk mudahnya memahami apa itu kepribadian (personality), maka kita perlu mengetahui arti dari kepribadian itu sendiri yaitu: susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri suatu individu yang menentukan penyesuaian individu yang unik terhadap lingkungan.

Arti susunan di atas mengandung makna bahwa kepribadian dibangun atas perpaduan atau keterkaitan ciri-ciri.

2. Unsur-unsur yang membentuk kepribadian
Secara garis besar unsur pembentuk pola kepribadian yang utama adalah konsep diri dan sifat-sifat. Konsep diri ini merupakan bagian penting atau inti kepribadian yang menentukan atau mempengaruhi sistem-sistem psikofisik membentuk kepribadian. Sementara, sifat-sifat menunjukkan gambaran kualitas perilaku atau pola penyesuaian yang spesifik yang dipengaruhi oleh onsep diri.

Konsep diri sebenarnya adalah keyakinan anak tentang pendapat orang yang penting baginya mengenai dirinya. Dengan demikian, konsep diri ini merupakan bayangan cermin yang memperlihatkan atau menunjukkan takaran maupun ukuran mengenai keberanian, keyakinan, gambaran, pandangan, pemikiran, perasaan terhadap apa yang dimiliki anak tentang dirinya sendiri yang dipengaruhi dan ditentukan oleh peran dan hubungan denga orang lain, serta bagaimana reaksi orang lain terhadap dirinya.

Perkembangan konsep diri anak ini sangat tergantung dari pemantangan pengalaman dan pengetahuannya. Apabila hal ini dimiliki si anak, maka persepsi dan konsep dirinya akan berkembang ke arah yang positif dan produktif. Dalam perkembangan yang dikenal juga konsep diri yang ideal, yaitu gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakan atau diimpikannya.

Stabilitas konsep diri positif memegang peran penting dalam susunan pola kepribadian. Kekurangan stabilitas dalam konsep diri dapat mempengaruhi perkembangan pola kepribadian seseorang. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh berbagai hal, antara lain:
  • Konsep diri yang bertentangan akibat anak diperlakukan berbeda oleh orang-orang yang penting dalam hidupnya. Misalnya, orang tua memperlakukan anak dengan cara otoriter, sehinga anak bersifat kaku dan tertutup. Sementara, teman sebayanya mengharapkan sikap terbuka dan aktif. Hal ini menyebabkan anak mengalami kesulitan melakukan penyesuaian diri.
  • Terdapat kesenjangan antara konsep diri anak yang sebenarnya dengan konsep diri yang ideal menurut umum. Misalnya, anak menganggap dirinya pandai bermain olahraga. Akan tetapi kenyataannya permainan dia sangat buruk dan orang lain pun menilai tak layak untuk bergabung karena permainannya jauh di bawah standar. Keadaan ini membuat si anak sulit untuk mempertahankan konsep diri yang stabil. Sifat kepribadian anak diperoleh dari hasil belajar, walaupun faktor bawaan juga menentukan kepribadian. Sifat terbentuk terutama oleh pendidikan anak di rumah da di sekolah maupun meniru figur contoh yang menjadi tokoh identifikasinya. Maka akan ada anak periang, ekstrovert, agresif, inferior, dan sebagainnya.
3. Perkembangan pola kepribadian
Dari hasil penelitian para ahli psikologi menyimpulkan perkembangan pola kepribadian sangat dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
  • Faktor bawaan,
  • Faktor pengalaman awal dalam lingkungan keluarga,
  • Faktor pengalaman-pengalaman dalam kehidupan selanjutnya.
4. Perkembangan konsep diri
Timbulnya konsep diri pada anak sebagai akibat terjalinnya hubungan anak dengan orang lain. Cara orang memperlakukan anal, apa yang dikatakan orang padanya dan status anak di dalam kelompok serta tempat anak mengidentifikasi diri akan membentuk konsep diri. Pola interaksi yang terbangun dalam keluarga memberi pengaruh sebagai pengalaman awal pada perkembangan konsep diri anak yang dominan sekali. Selanjutnya, peran teman sebaya dan para guru akan berarti bagi kehidupan anak.

Konsep diri semakin kokoh bentuknya ketika memasuki masa remaja. Walaupun kelak akan ditinjau kembali seiring dengan adanya pengalaman sosial dan pribadi yang baru.

5. Perkembangan kepribadian yang buruk
Seperti dikemukakan di atas bahwa faktor lingkungan memberi pengaruh sangat dominan dalam pembentukan kepribadian maupun perilaku anak. Maka, jika anak bermasalah dengan perkembangan kepribadiannya, itu berarti faktor lingkungan juga yang tidak kondusif untuk perkembangan kepribadian yang baik. Faktor-faktor penyebab perkembangan kepribadian anak yang bermasalah itu, diantaranya:
  • Pola interaksi yang buruk (otoriter)
  • Anak terlalu manja
  • Anak suka diremehkan atau dicemoohkan
  • Anak kurang mendapat perhatian
  • Hubungan antar saudara yang tidak harmonis
  • Efek dari ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga
  • Anak kurang bersosialisasi atau bergaul
  • Pengaruh pergaulan yang buruk
  • Anak mengalami kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah
B. Bagaimana mengembangkan kepribadian yang baik pada anak?
Untuk mengembangkan pola kepribadian yang baik pada anak, kita harus membenahi, mengarahkan dan mengembangkan pembentukkan konsep diri positif pada anak. Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas, perlu diteliti apa saja yang masih kurang dari sikap oarng tua dan apa yang salah pada anak.

Untuk membenahi, mengarahkan dan mengmbangkan konsep diri positif pada anak, dapat dilakukan cara-cara sebagai berikut:
  1. Jangan terlalu memanjakan anak
  2. Hindarilah perlakuan dan ucapan kasar pada anak
  3. Kontrol emosi
  4. Jangan pilih kasih di antara anak
C. Bagaimana cara menghadapi agresivitas anak?
Memarahi anak saat mereka melakukan penyimpangan perilaku adalah sesuatu yang tidak efektif. Lebih baik cari penyebabnya dan cobalah mengerti serta pahami perasaan anak. Dapat saja, sikapnya itu muncul karena merasa terabaikan atau kurang diperhatikan.
Untuk meredakan agresivitas anak, antara lain:

1. Memanfaatkan bahasa non verbal
Memberi sentuhan, pelukan, menatapnya, memberi senyuman manis dan meletakkan tangan di bahu anak akan membantu menyejukan hati anak. Bahasa non verbal ini sangat ampuh untuk meredakan amarah, karena memiliki sugesti langsung menyentuh perasaan anak. Bahasa non verbal ini menciptakan rasa aman dan nyaman pada anak. Biasanya amarah anak akan meluruh (mereda) dan si anak akan siap untuk diajak bicara.

2. Menggali penyebab  agresivitas anak
Setelah anak tidak lagi dikuasai oleh ledakan-ledakan emosional dan perasaannya telah tenang, mintalah anak untuk mengutarakan masalahnya atau tuntutannya. Apa yang membuat dirinya begitu marah atau kesal, sehingga dirinya mengamuk. Kemudian dengarkanlah anak dengan penuh perhatian, cobalah pahami perasaannya.

Orang tua perlu mengetahui:
  • Apa yang dirasakan anak saat itu, sehingga dirinya marah besar?
  • Apa yang mendorongan atau menyebabkan dirinya marah besar?
  • Apa yang diinginkan anak sesungguhnya?
Untuk menggali penyebab penyimpangan perilaku anak, janganlah dengan cara memaksa, mendesak, atau menekan anak. Usahakanlah agar anak merasa nyaman dan santai untuk mengutarakan ganjalan-ganjalan yang ada dihatinya itu. Kita dapat memberi dukungan emosional dengan menyentuh atau memeluknya, agar anak merasa diperhatikan dan menurunkan gejolak emosional yang dihayatinya. Dukungan emosional juga dapat menepis atau menghilangkan pengalaman traumatis anak akibat perlakuan kasar dari orang lain.

3. Membantu anak memahami permasalahannya
Setelah anak dapat mengungkapkan seluruh ganjalan yang ada dihatinya, maka kita dapat mengajak anak untuk melihat dan menilai secara rasional begaimana perasaannya saat itu, menilai tentang berlebihannya apa yang sudah dilakukannya itu atau apa akibat dari perilaku yang berlebihan itu. Akhirnya anak dapat melihat kejadian dengan pikiran lebih jernih dan dapat merasakan kerugian-kerugian akibat perilakunya tersebut.

Dari kerugian-kerugian tersebut, dapat kita memberikan umpan balik pada anak. Kita mendidiknya untuk menghadapi masalah apapun dengan cara mengedepankan sikap yang rasional. Anak tidak terbelenggu oleh sikap yang emosioal. Akhirnya ia terbiasa untuk mencari jalan keluar dari masalah dan terbebas dari perasaan yang tidak nyaman.

D. Bagaimana cara membantu menghilangkan rasa keterpurukan anak?
  1. Membantu anak memberi penghargaan pada dirinya sendiri
  2. Membantu anak mengatasi kesulitannya dalam kelompoknya
E.    Bagaimana cara membangun komunikasi secara berkelanjutan dengan anak?
Untuk mengubah perilaku anak yang terlanjur menyimpang membutuhkan proses yang dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit dan berulang-ulang. Oleh karena itu, kita jangan terlalu berharap dan beranggapan sekali ucapan atau ajarkan pada anak, lantas semuanya menjadi beres dan berlangsung sesuai dengan yang kita harapkan.

Merubah perilaku anak ke arah yang positif membutuhkan kesabaran dan proses yang berkelanjutan. Apalagi, anak juga mendapatkan benturan-benturan nilai atau rangsangan-rangsangan dari luar. Proses imitasi atas peniruan mudah terjadi terhadap anak, baik yang positif maupun yang negatif. Proses  ini dapat terjadi tanpa sadar.

Disinilah peranan orang tua untuk selalu dapat membangun dan mengembangkan komunikasi intensif dengan anak. Orang tua harus senantiasa menjaga dan memelihara kedekatan secara emosional dengan anaknya untuk menangkal munculnya perilaku yang tidak baik pada anak. Kita perlu menaruh perhatian pada sumber masalah yang kerap kali menjadi faktor penyebab bagi perilaku buruk mereka.

1. Tanamkan sikap optimisme pada anak
Untuk membentuk konsepdiri positif pada anak, maka kita perlu mengingatkan anak bahwa mereka harus:
  • Membiasakan diri berpikir positif  (positive thinking)
  • Mampu berbuat sesuatu, sebagaimana orang lain mampu berbuat
  • Semangat untuk mencoba kegiatan positif
  • Melupakan pendapat orang lain yang merugikan konsep lain
  • Menjauhkan diri dari kebiasaan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain
  • Besikap ramah pada setiap orang
  • Membuang sikap murung dan songsonglah hidup ini dengan senyuman manis dan sikap optimis
2.    Mengembangkan sikap terbuka anak
Kita perlu membantu anak menghilangkan persaan takut, sungkan atau ragu-ragu dalam pergaulan. Anak harus dapat mengmbangkan sikap terbuka dan menerima siapa saja yang ingin bergaul dengannya. Biasaka sikap positive thinking pada anak dan tidak berprasangka buruk, curiga dan tak suka terhadap orang lain.

Mengajarkan anak peka terhadap kepentingan orang lain ini, dapat kita lakukan dengan memberi teladan melalui perlakuan kita pada anak.

3. Ajarkan tata krama pada anak
Agar anak memiliki kepribadian menarik, dikagumi dan disenangi orang, maka mungkin diajarkanlah tata krama dalam bergaul dengan orang lain. Biasakanlah anak menyapa kepada siapapun yang ditemuinya dengan ramah. Meminta izin, ketika melintas dihadapan orang atau ditengah-tengah orang banyak. Jika anak menginginkan sesuatu atau menyampaikan sesuatu, ajarkan anak untuk berlaku hormat dan menghargai orang lain.

F. Bagaimana meningkatkan kecakapan anak di sekolah?
Untuk mengatasi hambatan-hambatan belajar dan masalah anak di sekolah, kita perlu mengubah pola belajar anak yang mungkin selama ini bersifat pasif danmenerima serta menunggu begitu saja apa yang diberikan guru, menjadi pola belajar aktif, berpikir dan bersikap kritis.

Anak perlu dimotivasi dan diarahkan agar berani mengungkapkan ketidaktahuannya pada guru dengan mengajukan pertanyaan yang bersanngkutan paut dengan bahan yang diajarkan.

Agar kemampuan anak meningkat, perlu dibimbing ketika mereka hendak belajar di sekolah janganlah dengan pikiran kosong. Sebelum pelajaran dimulai di sekolah hendaknya dipelajari dahulu di rumah.

Untuk menunjang kemampuan anak lebih berdaya guna lagi, maka anak perlu dibiasakan berpikir dan bersikap krisis. Berpikir dan bersikap krisis di sini bukan dimaksud membiasakan diri melakukan perdebatan. Namun, lebih dimaksud untuk menggali suatu pemahaman yang utuh.

CARA MENUMBUHKAN PERCAYA DIRI ANAK

Fakta berbicara bahwa anak yang memiliki masalah dengan percaya diri dan sulit mencapai prestasi. Dia akan sering mengeluh dan mudah menyerah. Jika diminta unuk melakukan sesuatu, dia akan takut secara berlebihan dan merasa tak yakin dapat melakukannya. Mereka tidak memiliki keberanian berkomunikasi dengan orang lain dan kurang memiliki keinginan maupun kebutuhan untuk mencapai sesuatu.

Masalah yang terjadi pada sebagian anak adalah kesulitan untuk mencoba sesuatu yang baru. Kesulitannya bukan soal keberanian untuk berbuat atau mencoba, tetapi lebih kepada proses bagaimana memulainya. Untuk sebagian anak, hal ini tidak menjadi masalah dan dengan mudah mereka malakukan berbagai prestasi, karena mereka tahu bagaimana harus berbuat. Anak yang punya masalah dengan keberanian ditambah dengan ketidaktahuan untuk melakukannya akan semakin tambah berat untuk memulai suatu kegiatan.

Anak yang tidak memiliki percaya diri akan menghambat perkembangan prestasi intelektual, keterampilan dan kemandirian anak serta membuat anak tidak cakap bersosialisasi. Bahkan anak menjadi tidak cakao dalam segala hal. Dia tidak punya keberanian untuk mengaktualisasikan segenap kemampuan yang dimilikinya.

A. Mengapa anak sulit mengembangkan percaya dirinya?
Munculnya gejala tidak percaya diri pada anak terkait erat dengan persepsidiri anak terhadap keyakinan dirinya sendiri. Bagaimana anak berpikir menilai dirinya akan menentukan sikapnya. Bagaimana anak menguur kemungkinan atau kesanggupan anak terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan segala sesuatu.

Tidak percaya diri adalah ungkapan dari ketidakmampuan anak untuk melaksanakan atau mengerjakan sesuatu. Anak berpikir dan menilai segatif dirinya sendiri, sehingga timbul perasaan yang menekan dirinya, ada rasa yang tidak menyenangkan serta dorongan/ kecenderungan untuk segara menghindari apa yang hendak dikerjakannya.

Percaya diri adalah gambaran keyakinan, keberanian, cara pandang, kemampuan intelektual, sikap, perasaan, kekuatan fisik dan penampilan diri. Percaya diri sangat dipengaruhi oleh keyakinan, karakteristik fisik, psikologis, sosial, aspirasi, prestasi dan bobot emosional seseorang. Melalui percaya diri ini orang akan bercermin untuk melakukan proses menilai, mengukur atau menakar atas apa yang dimilikinya.

Untuk mengarahkan pematangan diri anak, pertama kita harus mengnal unsur-unsur gabungan dari karakteristik citra fisik, citra psikologis, citra sosial, aspirasi, prestasi dan emosional yang membentuk percaya diri yang disebut faktor psikis.

Unsur membentuk percaya diri ini meliputi perpaduan lima unsur, yaitu:
  1. Self control
  2. Suasana hati yang sedang diyahayati
  3. Citra fisik
  4. Citra sosial
  5. Citra diri (self image)
B. Bagaimana cara mengmbangkanpercaya diri pada anak
Dengan memperhatikan unsur-unsur pembentukan percaya diri di atas, kita pun dapat menelaah apa yang kurang dan apa yang salah pada anak. Untuk merubah, mengarahkan dan mengembangkan percaya diri anak berdasarkan faktor psikis di atas, maka dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
  1. Jangan bertindak kasar atau memaksakan pemikiran atau kehendak
  2. Lakukan pendekatan kasih sayang pada anak
  3. Sentuhalah titik peka anak
  4. Tanamkan sikap optimisme pada anak
C. Bagaimana anak mampu memberi penghargaan pada dirinya sendiri?
Setelah anak tidak lagi disibukkan oleh kekurangannya, maka fokuskan dia untuk menggalai potensi dirinya sendiri anak. Bantulah anak menemukan potensi yang mendukung citra dirinya. Siasati kekurangan yang dimiliki anak dengan mengembangkan keahlian atau keterampilan khusus. Jika citra anak berhasil dimunculkan, maka akan memancar positif, sehingga kekurangan yang dimilikinya tidak menjadi kendala bagi kebangsaan dirinya.

1. Faktor Keterampilan Teknis Anak
Bagi anak yang mengalami kesulitan untuk memulai berbuat sesuatu yang disebabkan anak tidak tahu cara menyususn jalan pikirannya. Dia tidak tahu cara melakukan serangkaian proses kegiatan yang hendak dilakukan tersebut. Anak belum mampu menyusun tahapaan untuk melakukan suatu kegiatan hingga dapat diwujudkan dan diselesaikan. Disinilah pentingnya aspek keterampilan teknis, yaitu kemampuan menyusun kerangka berpikir dan berbuat secara terfokus, terarah dan terukur, step by step untuk melakukan proses kegiatan.

Aspek keterampilan teknis tersebut meliputi pengetahuan taktis, metodis dan imajinatif.
a) Taksis
Taksis mengandung arti mengarahkan proses berpikir, bertindak cepat dan efektif secara terukur dan terarah langsung menuju objek sasaran usaha. Taktis ini menunjukan kecekatan dan keterampilan mengelola pemikiran untuk bertindak cepat dan tepat dalam memproses suatu rangsangan yang dihadapi.

Proses perangsangan dan pembiasan bernalar ini akan menggiring anak untuk mengembangkan hasrat ingin tahu akan segala sesuatu dengan mempergunakan daya pikiran secara aktif dan terarah.

b) Metodis
Metodis adalah prosedur tentang bagaimana cara menggerakkan proses penalaran dan tindakan efektif dalam memproses pokok masalah, sehingga dapat mengurangi, menyusu, menimbang dan memecakkan pokok permasalah dalam bentuk pola tindakan atau prakarsa.

Metodis ini menyangkut analisis, sintesis, dan evaluasi. Analisis artinya menguraikan unsur yang ada sambil mencari bentuk hubungan antar unsur. Sintesis ialah menyusun kembali rangkaian antar unsur  pendukung menjadi bentuk operasional dari pokok masalah. Evaluasi ialah proses menilai atau menimbang suatu tindakan atau mengukur unsur-unsur yang membangun suatu tindakan atau mengukur unsur-unsur yang membangun suatu soal (masalah).

c) Imajinatif
Imajinatif adalah cara berpikir kreatif dalam menelaah dan memecahkan pokok permasalahan dengan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dimunculkan untuk mengatasi pokok permasalahan.

Agar anak mudah berpikr kreatif dalam mengobservasi atau pengamatan adalah dengan cara membayangkan gambaran bentuk permasalahan (objek masalah) dan pikiran unsur-unsur penting yang membentuk gambaran tersebut dapat dibiarkan menggantung di benak pikiran anak. Tetapi akan lebih baik, jika anak mampu melukiskan, mejabarkan dan memindahkan gambaran yang ada dalam benak pikirannya ke atas kertas.

Ingatlah para tokoh yang sukses menggambarkan hasrat ingin tahunya untuk memecahkan masalah, bertitik tolak dari imajinasi ketika berpikir dan berimajinasi dalam mengamati apa yang menjadi objek pikiran dan penelaahannya. Mereka mengembangkan uji coba atau percobaan berdasarkan imajinasinya, hingga ditemukan berbagai penemuan baru yang membawa perubahan kemajuan hidup yang radikal bagi seluruh umat manusia.  

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masalah pencegahan penyalahgunaan narkoba ialah mejadi tanggung jawab kita semua. Narkoba merupakan segolongan obat, bahan, atau zat, yang jika masuk ke dalam tubuh berpengaruh terutama pada fungsi otak (susunan saraf pusat) dan sering menimbulkan ketergantungan (adiktif). Terjadi perubahan pada kesadaran, pikiran, perasaan, dan perilaku pemakainya. Zat yang ditelan, masuk ke dalam lambung, lalu pembuluh darah. Jika dihisap atau dihirup, zat masuk ke dalam pembuluh darah melalui hudung dan paru-paru. Jika disuntikkan, zat langsung masuk ke darah. Darah membawa zat itu ke dalam otak. Otak adalah pusat kendali tubuh. Jika kerja berubah, seluruh organ tubuh pun ikut berpengaruh.

Kepedulian adalah sebuah bentuk dari cinta dan kasih sayang kita sebagai manusia sosial yang berbudaya. Setiap kita adalah nasihat bagi orang lain, dan begitupula sebaliknya. Kita semua mengakui bahwa setiap orang tidak ada yang mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu dengan sikap kepedulian itu akan membentuk kesempurnaan dengan cara saling melengkapi satu sama lain.

Melalui sikap kepedulian, pencegahan berbagai tindak kriminal, kenakalan remaja, keamanan, kedamaian, keharmonisan, akan mudah diciptakan. Dengan sikap kepedulian ini, maka motto bahwa, ”Pencegahan lebih baik dari mengobati”, akan benar-benar terbukti dalam kasus pemakaian obat-obat terlarang.

 Pada tahap awal kehidupan manusia agen sosialisasi pertama adalah keluarga. Oleh karena itu, orang tua merupakan orang penting (significant other) dalam sosialisasi.

Guna mencegah terjerumusnya para penerus bangsa tersebut ke dunia Narkoba, maka campur tangan dan tanggung jawab orang tua memegang peranan penting di sini. Karena baik atau buruknya perilaku anak sangat bergantung bagaimana orang tua menjadi teladan bagi putra-putrinya.

3.2 Saran
  • Pembaca diharapkan mengerti, memahami dan menghayati makalah yang disampaikan
  • Penulis diharapkan lebih baik lagi dalam menulis makalah
  • Penulis diharapkan mengkaji lebih dalam hal yang berkaitan dengan judul makalah
  • Semoga bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi penulis.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Effendi, Luqman, 2008. Modul Dasar-Dasar Sosiologi&Sosiologi KesehatanI. Jakarta: PSKM FKK UMJ.
  2. Kartono, Kartini, 1992. Patologi II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.
  3. Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo, Arief Sumarwoto, dan Ulani Yunus, 2007. pecegahan Narkoba Sejak Usia Dini. Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.
  4. Shadily, Hassan, 1993. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
  5. Soekanto, Suryono, 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persuda
  6. Sofyan, Ahmadi, 2007. Narkoba Mengincar Anak Anda Panduan bagi Orang tua, Guru, dan Badan Narkotika dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba di Kalangan Remaja. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
  7. Sudarman, Momon, 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
  8. Syani, Abdul, 1995.  Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. PT DUNIA PUSTAKA JAYA.
itulah tadi posting tentang Contoh Makalah Kesehatan. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. he he he. wassalam.