Contoh Makalah Kedokteran :: Perkembangan Ilmu Pengobatan Islam

Renungan Tentang Sumbangsih Ilmuwan Muslim Terhadap Perkembangan Ilmu Kedokteran-Pengobatan

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi posting tentang Contoh Makalah Kedokteran dengan judul Perkembangan Ilmu Pengobatan Islam yang disusun oleh sobat dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD. Atau mungkin sobat ingin membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Makalah Kesehatan Tentang Peran dan Fungsi HDL dalam Tubuh". semoga bermanfaat.

contoh makalah, kedokteran, makalah kedokteran, ilmu kedokteran, pengobatan, ilmu pengobatan, makalah kesehatan, artikel kesehatan, kesehatan, contoh makalah kesehatan

PERKEMBANGAN ILMU PENGOBATAN ISLAM
SUATU RENUNGAN TENTANG SUMBANGSIH ILMUWAN MUSLIM
TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN-PENGOBATAN
(Disajikan pada Paper & Presentation Workshop ” Mengantar Muslim Muda Menuju Pengukir Karya” Ruang Kuliah Anatomi 6 Januari 2007)

Oleh : dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD
(Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

Pendahuluan

Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah utama dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Sejak manusia menempati muka bumi ini sudah ada penyakit dan upaya-upaya untuk mengobatinya. Keadaan sehat dan sakit merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Bagi makhluk hidup termasuk manusia mengobati suatu penyakit atau mengatasi suatu gangguan merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan eksistensinya.

Di dunia tumbuh-tumbuhan dikenal suatu produk metabolisme selain produk metabolisme utama yang disebut sebagai metabolit sekunder. Beberapa contoh metabolit sekunder misalnya : alkaloida, glikosida, terpenoid, flavonoid dan lain sebagainya merupakan racun bagi makhluk lainnya. Seekor binatang yang sehat tidak akan memakan daun oleander yang mengandung glikosida yang berbahaya bagi jantung, juga tidak akan ada yang memakan daun kecubung yang mengandung alkaloida golongan tropan yang bekerja sebagai antikolinergik/parasimpatolitik yang sangat beracun. Umumnya tumbuhan yang mengandung zat beracun tersebut tidak akan mendapat gangguan dari binatang, karena secara naluriah akan dihindarinya1.  Seekor hewan yang sakit secara naluriah akan mencari sesuatu dari alam sekelilingnya demi untuk mempertahankan hidupnya. Seekor anjing atau kucing mencari rerumputan atau daun-daunan tertentu; yang memiliki efek memabukkan atau membunuh cacing dan sekaligus mengeluarkan atau memuntahkannya dari saluran pencernaannya. Dengan demikian ia “mengobati dirinya sendiri” dengan mensuplai tubuhnya dengan bahan atau zat tertentu yang bersifat ”obat” untuk dirinya. Bagaimana keadaannya dengan manusia?Yang membedakan manusia dengan hewan adalah “akal”. Akan tetapi, manusia purba dan manusia yang masih hidup primitif (dimana akal masih kurang berkembang) eksistensinya hidupnya juga masih banyak dipengaruhi oleh nalurinya. Bagaimana keadaannya dengan manusia primitif yang sakit atau kekurangan akan suatu zat atau hara dalam sistem faalnya? Contoh berikut dapat memberikan suatu gambaran : suatu suku bangsa primitif mempunyai kebiasaan memakan tanah. Mulanya hal ini mengherankan, tetapi setelah diadakan penelitian lebih mendalam ternyata ada dua hal yang berkaitan : pertama, tanah yang dimakan banyak mengandung zat besi (Fe); kedua, diit sehari-hari suku tersebut kurang akan zat besi. Secara naluriah suku itu mencari zat besi dari tanah, sehingga mereka tidak akan menderita penyakit anemia karena kekurangan zat besi.

Sepanjang sejarah selalu ada upaya manusia baik sendiri atau berkelompok untuk mencegah dan mengobati penyakit. Berbagai macam cara digunakan untuk memulihkan kesehatan, mulai dari pengobatan dengan menggunakan tanaman, binatang dan mineral, hingga tindakan pembuangan bagian tubuh yang terinfeksi atau terkena penyakit. Upaya-upaya itu kemudian melahirkan berbagai disiplin ilmu yang kita kenal hingga saat ini sebagai ilmu kedokteran, farmasi, kedokteran gigi, keperawatan dan lain sebagainya.

Makalah ini akan berusaha untuk menguraikan sekelumit perkembangan (sejarah) ilmu pengobatan (kedokteran) sebelum masa Islam, masa Rasulullah SAW dan masa setelah Rasulullah SAW, terutama pada zaman kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, ketika Kekhalifahan Islam mencapai puncak kejayaan. Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan dan cambuk bagi kita semua.


Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Pengobatan

Terapi menurut kamus ilmiah populer adalah pengobatan, ilmu pengobatan, cara pengobatan. Sementara dalam kamus kedokteran istilah terapi diartikan sebagai pemberian pertolongan kepada orang yang sakit, usaha untuk mrenyembuhkan orang yang sakit atau bisa diartikan sebagai cara pengobatan. Dalam bahasa Arab, istilah terapi sepadan dengan kata istisyfa’, berasal dari akar kata syafa’-yasyfii-syifa, yang artinya menyembuhkan. Istilah ini menyangkut mencakup unsur preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), terhadap penyakit dan rehabilitasi (pemulihan) setelah sembuh dari penyakit.

Konsep-konsep terkait dengan ilmu kedokteran dan pengobatan serta ilmu pendukungnya berkembang pada tiap zaman sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat yang hidup di masa tersebut. Perkembangan ilmu kedokteran (pengobatan) dimulai sejak zaman pra-sejarah, zaman Babylonia-Assyria, zaman Mesir kuno, zaman Yunani Kuno, dan zaman pertengahan. Pada zaman pertengahan inilah ilmu pengobatan (kedokteran) Islam berkembang dengan pesat yang mendasari perkembangan ilmu kedokteran modern (masa kini).


I. Perkembangan Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Sebelum Zaman Rasulullah SAW

A. Perkembangan Ilmu Pengobatan (Kedokteran) Zaman Pra Sejarah

Diantara beberapa karakteristik yang unik dari Homo sapiens adalah kemampuannya untuk mengatasi penyakit, baik fisik maupun mental dengan menggunakan obat-obatan. Dari bukti arkeologi didapatkan bahwa pencarian terhadap obat-obatan setua pencarian manusia terhadap peralatan lain. Seperti halnya bebatuan yang digunakan untuk pisau dan kapak, obat-obatan pun jarang sekali tersedia dalam bentuk siap pakai. Bahan-bahan obat tersebut harus dikumpulkan, diproses dan disiapkan; kemudian digabungkan menjadi satu untuk digunakan dalam pengobatan Aktivitas ini, telah dilakukan jauh sebelum sejarah manusia dimulai dan sampai sekarang tetap menjadi fokus utama praktek kefarmasian.

Manusia purba belajar dari insting atau naluri, dengan melakukan pengamatan terhadap hewan. Pertama kali mereka menggunakan air dingin, sehelai daun, debu, bahkan lumpur untuk pengobatan6. Naluri untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut atau menutupinya dengan lumpur, hanya berdasarkan kepercayaan. Manusia purba belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain. Dari sinilah permulaan terapi dengan obat dimulai. Mereka menularkan pengetahuan ini kepada sesamanya. Walupun metode yang mereka gunakan masih kasar, akan tetapi banyak sekali obat-obatan yang ada saat ini diperoleh dari sumbernya dengan metode sederhana dan mendasar seperti yang telah mereka lakukan 

B. Zaman Babylonia-Assyiria
Bangsa Sumeria yang mendiami bagian selatan kerajaan Babylonia sekitar tahun 3000 SM telah meninggalkan catatan-catatan tentang pengobatan. Disamping itu bangsa Sumeria dan penerusnya bangsa Babylonia dan Assyiria telah meninggalkan ribuan tablet lempung dalam puing-puing peninggalan mereka sebagai salah satu peninggalan peradaban manusia yang paling berharga. Para ahli sejarah baru berhasil mengungkap ”bagian yang hilang” dari catatan kuno ini setelah berabad-abad kemudian. Bangsa-bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang besar dan telah melakukan observasi terhadap planet-planet dan bintang-bintang yang mendasari ilmu astronomi. Mereka menyakini bahwa kedudukan dan gerakan bintang mempengaruhi kejadian di bumi. Kepercayaan ini mempengaruhi sikap mereka terhadap penyakit.

Dari catatan-catatan kuno ini terungkap bahwa ada 3 aspek penting dalam ilmu pengobatan Babylonia-Assyiria yakni aspek ketuhanan (divination), pengusiran roh jahat/setan (excorcism) dan penggunaan obat-obatan. Ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Penyakit dianggap sebagai kutukan atau hukuman Tuhan dan pengaruh dari roh jahat/setan, sedangkan pengobatan adalah pembersihan/pensucian dari kedua hal di atas. Konsep ini dikenal sebagai konsep katarsis (Catharsis). Konsep ini menjelaskan makna asli kata ”pharmakon” (bhs. Yunani) yangmerupakan asal kata pharmacy(farmasi). Konsep pharmakon dijelaskan sebagai upaya penyembuhan atau pensucian dengan cara mengeluarkan atau membersihkan.

Para pendeta di masa itu berperan sebagai rohaniwan (diviner) dan pengusir setan, yang mendukung peran mereka sebagai penyembuh/dokter. Dalam literatur lain disebutkan bahwa terdapat pemisahan profesi penyembuh di antara bangsa Babylonia, yakni penyembuh empiris dan penyembuh yang spiritualis. Penyembuh spiritualis dikenal sebagai asipu, yang menekankan pada penggunaan mantra/doa-doa bersama dengan batu-batu bertuah/jimat-jimat dalam pengobatan. Pada salah satu tablet lempung tercatat adanya mantra/doa yang tertulis di awal dan di akhir suatu formula obat. Mantra/doa tersebut diharapkan memberi kekuatan menyembuhkan kepada obat-obatan yang telah dibuat. Fenomena ini mungkin masih sering dijumpai di berbagai pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif bangsa kita. Penyembuh empiris dikenal sebagai asu, yang menggunakan obat/ramuan tertentu dalam bentuk sediaan farmasi yang sekarang masih digunakan seperti : pil, supositoria, enema, bilasan, dan salep. Kedua penyembuh tersebut seringkali bekerjasama dalam menangani penyakit yang berat/sulit disembuhkan. Selain kedua penyembuh tersebut terdapat sekelompok orang yang juga meracik obat dan kosmetik yang disebut pasisu. Akan tetapi peranan dan kedudukan mereka dalam pengobatan belum diketahui secara pasti.

R. Campbell Thompson mendapatkan ratusan tablet lempung dari hasil penggalian perpustakaan raja Assurbanipal dari Assyria. Thompson telah berhasil mengidentifikasi 250 tanaman obat dan 120 obat-obat mineral, juga minuman beralkohol, lemak dan minyak, bagian tubuh hewan, madu, lilin, serta berbagai susu yang digunakan dalam pengobatan. Bahkan juga dikenal penggunaan kotoran (tinja) hewan atau manusia dalam salah satu metode pengobatan bangsa Babylonia-Assyria. Kotoran tersebut diharapkan dapat membuat jijik dan mengusir roh jahat yang merasuki tubuh pasien dengan segera. Tumbuhan obat yang dikenal saat itu misalnya pine turpentine, styrax, galbanum, hellebore, myrrh, asafoetida, calamus, ricinus, mentha, opium, glycyrrhyza, mandragora, cannabis, crocus serta thymus. Sebagian besar tumbuhan tersebut masih digunakan untuk pengobatan hingga saat ini.  Berbagai bentuk sediaan yang ada meliputi anggur obat, mikstura, salep, enema, tapel,  plester, losio, infusa dan fumigan. Pada catatan kefarmasian yang tertua (ditulis oleh bangsa Sumeria 4000 tahun yang lalu) terdapat berbagai macam formula obat, dimana komposisinya ditulis tidak kuantitatif sebagai berikut “Haluskan biji carpenter, gom resin markasi dan thymi; larutkan dalam bir untuk diminum”.

Jimat, mantra dan sihir menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Mesopotamia. Seperti yang telah diuraikan, pada salah satu formula obat terdapat tulisan mantra/doa yang memberikan kekuatan menyembuhkan kepada obat yang dibuat. Dewa Ea dan Gula adalah dewa-dewa bangsa Babylonia-Assyria yang paling sering disebut dalam mantra-mantra yang terdapat dalam formula-formula obat. Dewa pengobatan yakni Ninazu, adalah pelindung para penyembuh/pendeta. Sedangkan putranya yakni Ningischzida adalah nabi mereka. Suatu hal yang cukup menarik adalah simbol kedua dewa tersebut adalah tongkat dan ular, yang mengingatkan simbol ilmu kedokteran modern yang diadopsi dari bangsa Yunani ratusan tahun kemudian.

Bahan-bahan tertentu untuk membuat obat tersebut mungkin saja telah memiliki kekuatan menyembuhkan walaupun tanpa intervensi para pendeta melalui mantra atau doa-doa mereka yang sekarang kita kenal sebagai bahan yang aktif secara farmakologi. Namun demikian ada dua hal yang diwariskan kepada kita; yang pertama adalah pengetahuan tentang bahan-bahan tertentu yang memiliki kekuatan “supernatural” (terutama tumbuhan obat) dan yang kedua adalah konsep mempengaruhi fungsi tubuh dengan menggunakan bahan-bahan (obat) tersebut, yang sekarang dikenal sebagai farmakoterapi.

C. Zaman Mesir Kuno

Piramida yang masih berdiri dengan kokoh hingga saat ini merupakan bukti kekuatan dan kejayaan bangsa Mesir selain pembalseman mayat-mayat (mumi), lukisan dinding dan harta benda di kompleks-kompleks pemakaman. Bangsa Mesir mencatat kejadian-kejadian pada saat itu atau ide-ide mereka (misalnya sistem pengairan dan pertanian) dengan menulisnya di papyrus atau dalam bentuk hyeroglyph mulai tahun 3000 SM, sebelum mereka mengembangkan peradaban dengan teknologi metalurgi (penempaan logam) yang maju. Mereka berdagang dan kadang berperang dengan negeri-negeri sekitarnya di sebelah timur Mediterania dan Afrika.

Seperti halnya di Babylonia, pada catatan peninggalan Mesir menunjukkan hubungan yang dekat antara penyembuhan supranatural dengan penyembuhan empiris. Resep/formula obat biasanya diawali dengan doa atau mantra tertentu. Di dalam formula-formula tersebut disebutkan obat-obat yang lebih rumit, bentuk sediaan yang lebih banyak dan teknik pembuatan yang mendetil. Mungkin yang paling terkenal dari catatan yang ada adalah Ebers Papyrus, suatu kertas bertulisan yang panjangnya 60 kaki dan lebarnya satu kaki dari abad ke-16 SM. Dokumen ini sekarang berada di University of Leipzig, untuk mengingat seorang ahli tentang Mesir, berkebangsaan Jerman, bernama Georg Ebers, yang menemukan dokumen tersebut di kuburan suatu mumi dan menerjemahkannya sebagian, selama setengah dari akhir abad ke-19.

Sebagaian besar isi Papirus Ebers adalah formula-formula obat, yang menguraikan lebih dari 800 formula. Selain itu disebutkan juga sekitar 700 obat-obatan yang berbeda. Obat-obatan tersebut terutama berasal dari tumbuhan walupun tercatat juga obat-obatan yang berasal dari mineral dan hewan. Obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sampai sekarang masih dipakai, antara lain seperti akasia, biji jarak, adas, disebut bersama-sama dengan yang berasal dari mineral, seperti besi oksida, natrium bikarbonat, natrium klorida dan sulfur. Kotoran hewan juga digunakan dalam pengobatan seperti halnya di Babylonia. Dalam literatur lain disebutkan bahwa psyllium disebutkan dalam Papirus Ebers dan dikenal sebagai laksatif dan antidiare sekitar tahun 1500 SM. Saat ini psyllium lebih dikenal dengan nama dagang Metamucil yang sering dijumpai di apotek.

Bahan pembawa sediaan (vehiculum) yang dipakai adalah bir, anggur, susu dan madu. Madu dan lilin juga sering digunakan sebagai bahan pengikat (binders) dalam formula-formula tersebut. Mortir, penggiling tangan, ayakan dan timbangan biasa digunakan oleh orang Mesir dalam membuat supositoria, obat kumur, pil, obat hisap, troikisi, lotio, salep mata, plester dan enema; seperti halnya dalam peracikan obat-obatan (teknologi farmasi) saat ini.

Berbeda dengan formula-formula bangsa Babylonia yang ditulis secara kualitatif saja, formula-formula Mesir kuno ditulis secara kuantitatif. Dikenal satuan ro (1 ro = ± 15 ml). Selain itu juga ditulis lama pengobatan (terapi) empat hari yang merupakan lama pengobatan yang umum di Mesir saat itu, yang mungkin lebih menekankan aspek “sihir”nya dibanding hasil observasi klinis. Di bawah ini adalah salah satu contoh formula tersebut. Formula untuk membersihkan purulensi :
Hyoscyamus 20 ro     
Dates 4 ro
Wine 5  ro
Ass’s milk 20 ro
Di rebus, dipekatkan dan diminum selama empat hari

Salinan formula-formula obat disebarluaskan dari satu penyembuh ke penyembuh lainnya, juga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kadangkala sebagian obat diambil dari formula aslinya dan dikombinasikan begitu saja dengan obat-obat lain dari formula yang berbeda. Kemungkinan besar hal ini merupakan awal munculnya pengobatan yang disebut dengan “polifarmasi” (poli = banyak, farmasi = obat) yang kelak diketahui sebagai salah satu metode pengobatan yang tidak rasional.

Seperti halnya di Babylonia, bangsa Mesir juga mengenal dewa-dewa yang berpengaruh dalam pengobatan seperti Thoth, Osiris, Isis, Horus dan Imhotep. Salah satu simbol yang menghubungkan praktek kefarmasian saat ini dengan mitologi kuno adalah simbol Rx, yang dijumpai dalam penulisan resep di seluruh dunia. Sebagian besar pendapat menyatakan bahwa simbol tersebut berasal dari simbol mata Horus, dewa elang bangsa Mesir. Horus selalu mengawasi setiap proses pembuatan obat, sebagai simbol bahwa profesi farmasis selalu mendapat pengawasan dari Tuhan sehingga setiap pelaku profesi ini harus selalu bekerja dengan baik, cermat dan jujur karena Tuhan selalu melihat dan mengawasi mereka. Horus ditugaskan oleh Isis, ibunya sebagai penjaga balai pengobatan (house of medicine) para dewa.

D. Zaman Yunani Kuno

Pada milenium berikutnya, akar dari profesi kesehatan di dunia Barat muncul dan berkembang dari peradaban bangsa Yunani di kepulauan dan laut Aegea. Bangsa Yunani mendapatkan berbagai stimuli dan pengaruh dari luar yakni dari Mesopotamia dan Mesir.

Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama kali menguraikan secara sistematis fenomena di alam dan kedudukan manusia di dalamnya, yang sekarang dikenal sebagai filsafat. Istilah “philosopher” berasal dari bahasa Yunani philos (teman) dan sophia ( kebijaksanaan) yang berarti kebijaksanaan telah terdapat di dalam setiap orang yang berusaha mencarinya dan kebijaksanaan akan menjadi temannya. Sebagian besar para filsuf berusaha menjelaskan secara rasional tentang alam dan fenomena yang terjadi di dalamnya termasuk kaitannya dengan seni pengobatan. Masalah yang sering dihadapi oleh para filsuf tersebut adalah : penjelasan rasional apakah yang bisa didapatkan dari asal-usul dunia dimana manusia hidup di dalamnya dan asal-usul penyakit yang diderita oleh manusia.

Empedocles (504 SM) mengemukakan ide bahwa ada 4 unsur yang menjadi akar dari segala sesuatu termasuk tubuh hewan dan manusia yakni : air, udara, api dan tanah. Teori ini disebut sebagai teori 4 elemen. Menurut Empedocles dan para pengikutnya sehat merupakan keseimbangan dari keempat elemen tersebut, sedangkan sakit disebabkan karena ketidakseimbangan keempat elemen tersebut.

Hippocrates (460-370 SM) adalah seorang dokter Yunani yang dihargai karena memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dia menerangkan obat secara rasional, dan menyusun sistematika pengetahuan kedokteran serta meletakkan pekerjaan kedokteran pada suatu etik yang tinggi. Pemikirannya tentang etika dan ilmu kedokteran memenuhi tulisan-tulisan ilmu kedokteran, baik yang ditulisnya sendiri maupun penerusnya. Konsep dari pandangannya disusun dalam bentuk sumpah Hippocrates, yang merupakan tata cara dan perilaku untuk profesi kedokteran. Hasil pekerjaannya termasuk uraian dari ratusan obat-obatan. Sebagai pelopor dalam ilmu kedokteran dan ajarannya yang memberikan inspirasi serta falsafahnya yang sudah maju dan merupakan bagian dari ilmu kedokteran modern, Hippocrates diberi penghargaan yang tinggi dan disebut sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”

Di dalam korpus (corpus) atau kumpulan naskah Hippocrates terdapat konsep keseimbangan 4 cairan tubuh (humor) yang menggantikan konsep 4 elemen Empedocles sebagai faktor penyebab keadaan sehat atau sakit. Di dalam konsep ini disebutkan bahwa 4 elemen dalam alam seperti : tanah, udara, air dan api pararel dengan 4 cairan tubuh yang paling berpengaruh yakni : empedu hitam (black bile), darah (blood), cairan empedu (yellow bile) dan dahak (phlegm). Keseimbangan dan distribusi keempat cairan tubuh tersebut sangat penting bagi makhluk hidup.

Pengobatan yang utama menurut kaum Hippocratean (pengikut Hippocrates) adalah digunakannya bahan-bahan yang memiliki efek purgatif (pencahar kuat), sudorifik (meningkatkan pengeluaran keringat), emetik (memuntahkan) dan enema (cairan urus-urus, umumnya disemprotkan ke dalam anus). Pada intinya bahan-bahan tersebut digunakan untuk mengobati penyakit yang dipercaya pada saat itu, disebabkan oleh kelebihan cairan tubuh. Proses penyembuhan tersebut dikenal sebagai pembersihan, pemurnian atau penyucian tubuh (body catharsis). Konsep ini merubah makna kata pharmakon sebelumnya, yang mengacu kepada jimat atau guna-guna (baik menyembuhkan atau meracuni) menjadi bahan-bahan pembersih atau penyuci tubuh (purifying remedy).

Sejarah pengobatan zaman Yunani juga tidak lepas dari pengaruh mitologi. Dalam mitologi Yunani yang dikenal sebagai dewa pengobatan awalnya adalah Apollo, yang kemudian digantikan oleh Asklepios (Aesculapius), setelah Apollo dibunuh oleh Zeus, raja para dewa. Apollo mendapatkan pengetahuan tentang obat-obatan dari Chiron, bangsa Centaur (manusia dengan dua tangan dan berbadan kuda, lambang bintang Sagitarius). Dalam melakukan tugasnya, Asklepios dibantu oleh dua orang putrinya yakni Hygea dan Panacea. Pada masa itu didirikan balai pengobatan atau Sanctuary untuk memuja Asklepios dan kedua putrinya. Mereka yang telah lama mengalami penderitaan akibat penyakit pergi ke kuil dewa Asklepios, kemudian tidur dengan harapan akan dikunjungi oleh dewa atau putrinya Hygeia yang membawa ular dan semangkuk obat dalam mimpinya. Ular dan mangkok tersebut kemudian menjadi simbol farmasi, bahkan telah diadopsi menjadi simbol kesehatan. Tongkat Asklepios diadopsi menjadi simbol kedokteran di seluruh dunia. Selanjutnya, dikenal tumbuhan Panacea yang dianggap memiliki berbagai khasiat atau dapat menyembuhkan segala macam penyakit (obat dewa).

E. Zaman Abad Pertengahan

Pada permulaan era agama Kristen terdapat beberapa nama ilmuwan Yunani dan Romawi yang memberikan berpengaruh terhadap perkembangan ilmu kedokteran. Beberapa ilmuwan telah memberi warna terhadap perkembangan ilmu kedokteran

Theophrastus (370-285 SM), seorang murid dari Aristoteles telah melakukan penelitian besar-besaran terhadap tumbuh-tumbuhan, terutama yang berperan dalam pengobatan. Usaha Theophrastus diteruskan oleh Dioscorides (Th 65 SM), yang merupakan orang pertama yang menggunakan ilmu tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Ia mengarang buku de Materia Medica Libri Quinque, yang merupakan ensiklopedia obat standar selama ratusan tahun berikutnya. Ilmuwan lainnya adalah Pliny yang menulis ensiklopedia yang diterjemahkan sebagai Natural History dan largus yang menulis buku Compositiones.

Galen (131-201 M) seorang dokter Yunani yang berpraktek di Roma pada abad ke-2 Masehi menggunakan sistem pengobatan yang berdasarkan pada cairan tubuh. Galen menguraikan secar panjang lebar suatu sistem yang mengharuskna mempertahankan keseimbangan cairan di suatu individu yang sakit dengan menggunakan obat-obatan yang memiliki sifat berlawanan. Contohnya untuk mengobati radang atau inflamasi (in = di dalam dan flame=api, panas) digunakan mentimun yang bersifat dingin. Galen telah memberikan pedoman yang bersifat rasional dan sistematis dalam memilih obat (walaupun pada saat ini dianggap salah). Menurut Galen, masing-masing keempat cairan tubuh memiliki sifat tertentu, yakni : darah bersifat lembab dan hangat, dahak (yang dianggap berasal dari otak) bersifat lembab dan dingin, empedu (yang dianggap berasal dari hati) bersifat hangat dan kering, serta empedu hitam (yang dianggap berasal dari limpa dan lambung) bersifat dingin dan kering. Selain itu, keempat cairan tubuh tersebut mempengaruhi sistem metabolisme dan temperamen seseorang, seperti melankolis atau sanguinis. Galen mengaitkan antara penyakit dengan ketidakseimbangan cairan tubuh tertentu. Selain itu, Galen telah mengenalkan teknik “perdarahan”, yakni mengurangi volume darah yang dianggap banyak mengandung penyakit. Galen juga menyarankan penggunaan polifarmasi dengan argumen tubuh pasien akan mengeluarkan berbagai obat yang kompleks tersebut untuk menjaga keseimbangkan cairan tubuh. Galen telah menciptakan suatu sistem yang sempurna mengenai fisiologi, patologi dan pengobatan serta merumuskan doktrin yang diikuti selama 1500 tahun. Dia adalah pengarang yang memiliki karya paling banyak di jamannya maupun jaman lain dan telah mendapat penghargaan untuk 500 buku tentang kedokteran serta 250 buku lainnya tentang filsafat, hukum maupun tata bahasa.

Setelah itu sampai awal abad ke VI Masehi dunia kedokteran dan pengobatan tidak mengalami perkembangan. 


II.  Perkembangan Ilmu Pengobatan dan Ilmu Kedokteran Zaman Rasulullah SAW

Lahirnya Agama Islam di tanah Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah merubah wajah dunia dari zaman kebatilan dan kebodohan ke zaman yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan yang luhur.

Munculnya Islam juga telah membawa banyak perubahan dalam bidang ilmu pengetahuan termasuk Ilmu kedokteran dan pengobatan. Hal ini tidaklah mengherankan karena Rasulullah SAW telah bersabda: ”Aku diutus untuk membawa ungkapan-ungkapan yang singkat dan padat (jelas)” (HR. Bukhari dan Muslim). Mukjizat Alqur’an dan Hadist secara ilmiah adalah pemberitaan tentang suatu fakta yang kemudian dibenarkan ilmu empiris dan terbukti bahwa fakta itu tidak mungkin diketahui melalui peralatan manusia yang ada pada masa Rasulullah SAW.

Di dalam Al-Quran terdapat banyak fakta ilmiah yang baru terbukti setelah berlalu beberapa waktu. Allah SWT berfirman ” Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengtahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu” (QS Shad: 87-88). Di lain ayat Allah SWT juga berfirman ” Untuk tiap-tiap berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahuinya” (QS Al-An’am: 67).

Salah satu hadist Nabi yang baru bisa dibuktikan kebenarannya oleh para anatom beberapa waktu lalu adalah hadist yang berbunyi ”Sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada tiga ratus enam puluh persendian. Barangsiapa yang mampu membebaskan satu persendian dari api neraka, maka hendaklah ia kerjakan. Ada yang bertanya,”Bagaimana caranya, wahai Rasulullah ?”  Beliau menjawab yaitu seseorang mengucapkan lafal takbir atau mengucapkan lafal tasbih atau menyingkirkan duri dari jalan atau menyuruh kepada kebaikan, atau mencegah dari kemungkaran” (HR. Bukhari-Muslim).

Selintas hadis ini merupakan sebuah nasehat agar kita menjauhi api neraka serta memelihara anggota tubuh dar kobaran api neraka. Namun ternyata didalamnya termuat ilmu yang besar manfaatnya yaitu salah satu ciri utama mukjizat keilmiahan Al-Qur’an dan Suah. Meskipun ditunjang dengan kemajuan fasilitas diagnosis dan pemotretan laser sampai tahun 1996 ilmu modern masih menetapkan bahwa jumlah persendian manusia adalah 340 ditambah beberapa persendian yang menyatu menjadi suatu susunan. Beberapa ilmuwan anatomi kembali melakukan penelitian terhadap persendian yang menyatu menjadi satu susunan tersebut lalu memisah-misahkannya. Akhirnya mereka menemukan bahwa jumlah seluruh persendian tersebut adalah 360, bilangan yang tidak kurang dan tidak lebih sesuai dengan yang tercantum dalam hadis Rasulullah SAW. Subhanallah....Beliau adalah sosok Nabi yang tidak pandai membaca. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firmannya di surat Al-Ankabut ayat 48 ” Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” Kenyataan ini seyogyanya semakin menambah keimanan kita tentang kebenaran ajaran Rasulullah SAW. Manalah mungkin seorang yang tidak mengerti struktur tubuh manusia bisa menyatakan secara tegas tentang hal tersebut, bila tanpa petunjuk Allah SWT.

Ilmu kedokteran yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu
1.    Penyembuhan berbagai penyakit jasmani melalui penggunaan beberapa jenis rerumputan, tumbuhan, madu dan susu.
2.    Pengobatan berbagai penyakit rohani melalui pendekatan kejiwaan
3.    Pengobatan dengan cara pencegahan
4.    Ilmu-ilmu yang terkait dengan kedokteran terutama Anatomi-embriologi. 
Semasa Rasulullah upaya penyembuhan berbagai penyakit jasmani dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis rerumputan. Disamping itu Rasulullah SAW juga menggunakan madu, berbekam dan penyetrikaan untuk mengobati penyakit. Sabda Rasulullah SAW : ” Pengobatan itu terdapat pada tiga hal : minum madu, berbekam dan membakar dengan api. Dan saya melarang umatku melakukan pembakaran dengan api (HR. Bukhari).  Dilain hadis Rasulullah SAW berkata ” Gunakanlah selalu dua macam obat, yaitu madu dan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman ” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia (An-Nahl 69).

Untuk mengobati penyakit rohani dan kegelisahan hati Islam mengajarkan beberapa 
cara yaitu :

1. Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an disebut sebagai terapi pertama, sebab didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan hati manusia. Allah SWT berfirman ” Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim” (QS Al-Isro: 82)

2. Berzikir
Dzikir adalah bentuk ekspresi keagamaan yang tidak hanya memiliki dimensi ibadah antara manusia dengan Allah, tetapi juga mengandung unsur-unsur terapi terhadap penyakit. Manfaat ini tidak hanya dibenarkan oleh para agawan (ulama) yang selama ini menjadi penyambung lidah para nabi tetapi juga diyakini kebenarannya oleh para ilmuwan barat dan pakar kontemporer.

3. Berdoa
Doa adalah bentuk pengharapan (isti’anah) manusia kepada realitas di luar dirinya    (Allah), sebagai ungkapan ketidak berdayaan dalam menghadapi sesuatu. Ini adalah suatu yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Allah akan mengabulkan setiap doa yang datang kepada-Nya sebagai representasi dari sifatnya yang Maha Mengabulkan (Al-Mujib). Tidak dapat disangkal lagi pengaruh doa dalam upaya penyembuhan penyakit sangatlah efektif karena di dalam doa sendiri terkandung unsur terapeutik. Dr. Dale A. Matthew (1996) dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengatakan dalam pertemuan tahunan The American Psychiatric Association bahwa dari 212 studi yang dilakukan oleh para ahli, ternyata  75% menyatakan bahwa komitmen agama (doa) menunjukkan pengaruh positif pada pasien.

4. Sholat
Sholat yang dimaksud disini bukan sholat melainkan sholat sunnah seprti sholat tahajud, witir dan hajat. Sholat malam merupakan salah satu obat mujarab yang mampu menyembuhkan penyakit hati.  Firman Allah SWT “ dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS. Al-Isro 79).

Menjaga kesehatan dan kebersihan pribadi merupakan dasar dari tindakan pencegahan terhadap penyakit. Terjaganya kebersihan dan kesehatan individu akan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Kesehatan dan kebersihan pribadi tidak pernah mendapatkan perhatian yang lebih kecuali yang diperbuat oleh Rasulullah SAW. Rasulullah bukan hanya mengajak umatnya untuk selalu menjaga kebersihan tetapi juga telah mempraktekkan secara langsung. Rasulullah SAW bersabda bahwa ”Kebersihan adalah sebagian dari Iman”

Beberapa contoh ajaran Islam yang berperan dalam upaya menjaga kebersihan pribadi (higiene) dan kesehatan lingkungan adalah

1. Berwudhu
Islam telah menyuruh kepada umatnya untuk berwudhu setidaknya 5 kali dalam sehari semalam. Nabi bersabda ”Wudhu adalah sebagian dari iman” (HR. Turmudzi).  Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila seorang atau mukmin berwudhu, kemudian ia membasuh wajahnya, niscaya keluar dari wajahnya semua kesalahan yang ia lihat dengan matanya bersama air atau bersama tetesanair terakhir atau yang semisal. Jika ia membasuh kedua tangannya niscaya keluar semua dosa yang diperbuat dengan kedua tangannya bersama air atau bersama tetesan air terakhir sehingga ia selesai berwudhu dalam keadaan bersih dari dosa (HR. Ahmad). Jika seorang muslim senantiasa berwudhu, maka ia akan selalu berada dalam keadaan suci yang sempurna dan derajat kebersihan yang paling tinggi. Dr. Musthafa Syahatah, Dekan Fakultas THT Universitas Alexandria mengatakan bahwa berwudhu dapat melindungi seseorang dari kuman-kuman penyakit. Terbukti jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit daripada orang yang tidak berwudhu.

2. Bersiwak
Sebelum berwudhu disunahkan untuk bersiwak, sebagaimana sabda Rasulullah: Setiap kali bangun tidur, baik siang atau malam, Rasulullah SAW pasti bersiwak dulu sebelum wudhu” (HR. Abu Daud). Bersiwak merupakan tindakan penting dalam pencegahan penyakit yang menyerang mulut dan menjaga kesehatan gigi.

Dr. Faruq Mursyid dosen dan Kepala Bagian Penyakit Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Howard, Amerika Serikat mengingatkan bahwa menyikat gigi adalah satu-satunya cara untuk mencegah karies gigi.

3. Tindakan menjaga kebersihan tubuh lainnya seperti istinsyaq (memmenghirup air kedalam hidung), memotong kuku, mencuci ruas jari dan sela-selanya, khitan, mencukur bulu kemaluan, instinja dan berkumur.

Diriwayatkan dari Siti Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda “ Ada sepuiluh macam sunah fitrah: memendekkan kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, istinsyaq, memotong kuku, mencuci ruas jari dan sela-selanya mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja dan berkumur” ( HR. Turmudzi dan Nasa’i).

Dalam riwayat lainnya : Sunah fitrah ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis” (HR Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Imam Malik).

Nabi SAW bersabda “Apabila kamu buang air kecil, maka jangan memegang kemaluan dengan tangan kanannya dan jangan beristinja dengan tangan kanan” (HR. Bukhari).

4. Menjaga kebersihan peralatan keseharian
Ilmu kedokteran modern menegaskan pentingnya kebersihan peralatan yang digunakan untuk makan, minum dan peralatn pribadi. Peralatan yang tercemar akan memberikan kesempatan yang besar bagi kuman-kuman untuk berkembang biak dan menularkan penyakit dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Konsep tentang hal ini sudah ada di dalam ajaran Islam jauh sebelum Ilmu kedokteran modern menegaskan tentang hal ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW melarang minum dari semua bejana kecuali yang tertutup rapat (HR. Imam Ahmad).

Dilain hadis Rasulullah SAW melarang minum langsung dari botol, tetapi harus menuang minuman ke dalam gelas yang khusus untuk minum. Abu Sa’id Al Khudri berkata “ Rasulullah SAW melarang memecah mulut kendi dan semacamnya untuk minum daripadanya” (HR. Bukhari).

5. Menjaga sumber-sumber air
Air adalah asal kehidupan dan menjaga sumber-sumbernya adalah kewajiban karena air yang tercemar dapat menyebabkan tersebarnya berbagai macam penyakit.

Ibnu Abbas berkata “Aku mendeng Rasulullah SAW bersabda “ Jauhilah tiga hal terkutuk.” Ada yang bertanya “ Apa saja yang terkutuk itu ya Rasullah SAW ? “ Beliau menjawab “ duduk di tempat berteduhnya orang-orang yang dalam perjalanan, duduk-duduk di jalan, serta buang air kecil dan besar di air yang tidak mengalir “ (HR. Imam Ahmad).

Di lain hadis Rasulullah SAW bersabda “ Jangan sekali-kali kalian kencing di kolam yang airnya tidak mengalir, setelah itu kalian mandi dan wudhu di sana” (HR. Nasai’)

6. Menjaga Kebersihan Tempat-tempat Umum dan Tempat Ibadah
Jika tempat-tempat tersebut tidak bersih akan menjadi sumber penyakit yang berbahaya karena banyak dikunjungi orang secara silih berganti. Di anatara mereka ada beberapa orang yang membawa mikroba, bakteri atau jamur. Oleh karena itu penting untuk menjaga tempat-tempat terebut sama pentingnya dengan kebersihan rumah dan badan.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa seorang badui masuk masjid kemudian kencing disana, lalu orang-orang menangkapnya. Nabi SAW bersabda ” lepaskan dia dan siram kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk berlaku lemah lembut, bukan diutus untuk berlaku kasar” (HR. Bukhari).

Nabi Muhammad SAW bersabda ” Barangsiapa menebang pohon sidrah, maka Allah akan memasukkan kepalanya ke dalam neraka” (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Sidrah adalah sejenis tumbuhan berduri yang tumbuh di padang pasir, tahan terhadap kekeringan, dan berdahan cukup lebat, sehingga dapat digunakan untuk bernaung. Ketika Imam Abu daud ditanya tentang makna hadis ini, ia berkata dalam sunannya ”Barangsiapa memotong pohon sidrah di padang pasir yang menjadi tempat bernaung orang-orang dalam perjalanan dan binatang tanpa sebab yang jelas, maka Allah akan memasukkan kepalanya ke dalam neraka”

Jelaslah bahwa Nabi Muhammad SAW telah mendahului abad modern dan Green Peace serta pecinta lingkungan dalam menjaga lingkungan dan melarang memotong pepohonan hijau agar lingkungan menjadi bersih, sehat, segar dan indah.

7. Pencegahan penyakit menular
Sunah Nabawiyah telah menetapkan kaidah-kaidah untuk menjaga kesehatan dan memerintahkan agar orang-orang yang sehat tidak mendekati orang yang berpenyakit menular.

Nabi Muhammad SAW bersabda ” Unta-unta yang sakit jangan di campur dengan yang sehat” (HR Abu Daud) dan ” Larilah ari penyakit lepra sebagaimana kamu lari dari harimau” (HR Bukhari Muslim). Dilain Hadis Rasulullah SAW bersabda ” Apabila kamu mendengar ada wabah disuatu negeri maka kamu jangan pergi kesana dan jika ada wabah menimpa suatu negeri dan kamu berada didalamnya maka kamu jangan keluar menghindarinya (HR. Muslim). Dari Hadis ini dapat diambil simpulan sebagi berikut

1. Rasulullah SAW sangat menaruh perhatian agar wabah penyakit tidak menular
2. Rasulullah SAW telah menemukan sistem karantina melaksanakannya dan memerintahkannya.

8. Melakukan Olahraga
Islam merupakan agama yang konsen terhadap olahraga. Islam menganjurkan agar umatnya menjadi umat yang kuat dan berolahraga. Rasulullah SAW bersabda ” Bidiklah wahai Bani Ismail karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah pemanah” (HR Bukhari). Dilain Hadis Rasulullah SAW bersabda ” Segala sesuatu selain Zikir kepada Allah adalah sia-sia kecyali empat perkara berjalannya seseorang antara dua tujuan, melatih kudanya, mencumbu isterinya dan beajar berenang” (HR. Bazzar dan Thabrani)

Disamping upaya pengobatan penyakit jasmani dan penyakit rohani serta pencegahan penyakit dalam Alqur’an banyak sekali ayat-ayat yang mengandung ilmu pengetahuan yang merupakan bagian dari ilmu kedokteran terutama anatomi-embriologi yang kandungannya baru bisa diungkap dengan bukti empiris jauh setelah zaman Rasulullah. Disamping itu banyak pula hadis yang menyiratkan ilmu-ilmu kedokteran yang tidak bisa dibuktikan secara empiris saat saat itu karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Salah satu contoh tentang ilmu kedokteran yang terkandung dalam Al-Qur’an seperti apa yang dipahami oleh salah seorang dokter terhadap firman Allah SWT dalam surat An-Nisa 56 : ”Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab” (An-Nisaa ayat 56).

Dibalik ayat ini terdapat realitas ilmiah yang belum dikenal oleh manusia pada waktgu turunnya Al-Qur’an sehingga Al-Qur’an tidak boleh tidak harus merupakan Kalam Yang Maha Alim lagi Maha Mengetahui tentang jaringan-jaringan urat saraf yang rumit, yang ujung-ujungnya teratur di dalam lapisan-lapisan kulit. Dan urat saraf inilah yang menyerap rasa panas dan dingin, atau rasa sakit dan nikmat.

Dokter tersebut memahami ayat itu bahwa pembaharuan sakit yang terputus karena terbakarnya nulit tidak bisa terjadi kec uali dengan mengembalikan kulit itu pada waktu masih hidup, agar rasa sakitnya itu bisa terjadi berulang kali ketika kulit berganti pada setiap kali setelah terbakar.  Firman ini diturunkan pada beberapa abad silam kepada seorang Nabi yang tidak mempelajari ilmu kedokteran, sehingga ia menyakini bahwa ini adalah kalam yang mengutus Muhammad sebagai seorang Nabi. Dokter inipun mengimani dan akhirnya ia masuk Islam.

Rasulullah SAW menitik beratkan filsafat kedokteran dalam beberapa hal
1. Membersihkan kedokteran dari unsur-unsur khurafat dan sihir. Rasulullah SAW telah memerani unsur-unsur ini dengan sabdanya ” Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah menyekutukan Allah. Jampi-jampi (pelet), jimat, dan guna-guna merupakan unsur-unsur syirik.
2. Rasulullah merumuskan dasar-dasar pengobatan preventif, kebersihan lingkungan dan berusaha merealisasikannya sampai kepada derajat mewajibkannya.
3. Segera memberikan pengobatan pada saat dibutuhkan. Beliau mendorong umat Islam agar melakukan pengobatan ketika sakit. Rasulullah SAW sendiri yang menggunakan besi panas terhadap Sa’ad bin Mu’adz dan beliau menasehatkan kepada Sa’ad bin Abi Waqash agar segera pergi ke dokter bangsa arab ternama yaitu Haris bin Kaldah.

Rasulullah pernah ditanya seorang Arab Badui, ia berkata : ” Tidakkah kami (boleh) melakukan pengobatan ? Jawab Rasulullah : Ya, wahai hamba Allah, berobatlah! Karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali Dia telah menciptakan obatnya. Kecuali satu macam penyakit. Lalu ia berkata penyakit apa ya Rasulullah ?” Rasulullah berkata : menjadi tua (HR. At-Tirmidzi).

Islam sebagai agama samawi mengakui otoritas ilmu pengobatan dan kedokteran maka selain menganjurkan pengobatan dengan menggunakan pendekatan doa , Islam juga menganjurkan pemeluknya untuk melakukan upaya ikhtiar kepada para ahli terutama kepada thobib (dokter) dalam pengobatan dan kesehatan pasien, sebagaimana dinyatakan dalam hadis di atas.

Berkata Imam Syafii : ” Setelah Ilmu tentang membedakan sesuatu yang halal dan yang haram saya tidak mengetahui ilmu yang lebih mulia, ketimbang ilmu pengobatan. Namun sayangnya mereka telah mengabaikannya dan membiarkan pengetahuan ini jatuh ke tangan kaum Yahudi dan Nasrani.

Rasul mengajak dan menyuruh kita kepada sesuatu yang menjadikan kebaikan untuk kita dan membahagiakan kita, serta menjauhkan kita dari derita kesakitan di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu sudah semestinya kita tunduk dan patuh kepadanya, sebagaimana firman Allah ” Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarang maka tinggalkanlah (QS Al-Hasr : 7).

Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang mengajak kita untuk berpikir tentang penciptaan alam alam ini dan hal-hal yang terjadi karena dibalik itu tersimpan rahasia dan tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir. Disamping itu Rasul juga mengajak kita untuk selalu menuntut ilmu walaupun hingga ke negeri Cina. Allah memuliakan orang-orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi. Allah SWT juga mengajak kita untuk berlomba-lomba dan bertolong-tolongan dalam kebaikan. Hal-hal inilah yang memompa semangat para Ilmuwan Muslim yang hidup setelah zaman  Rasulullah untuk mau belajar, merenung dan bekerja serta meneliti rahasia-rahasia yang ada dibalik fenomena alam dan kandungan ilmu pengetahuan baik yang tersirat maupun tersurat dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi. Hal inilah yang mendorong kaum dan ilmuwan muslimin mencapai puncak kejayaan di abad pertengah sepeninggal Rasulluah yaitu pada masa kekhalifahan Abbasiyah di belahan dunia timur dan kekhalifahan Umayah dibelahan dunia barat.

III. Perkembangan Ilmu Pengobatan&Kedokteran Setelah Zaman Rasulullah SAW

Sebelum kedatangan ilmu kedokteran dan pengobatan muslim, tidak ada ilmu kedokteran dan pengobatan yang bernilai yang dipraktikkan di Eropah. Adalah diakui oleh semua ahli sejarah moden bahwa perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan Barat dipengaruhi oleh ilmu kedokteran dan pengobatan muslim. Di Eropah pada abad ke-14 hingga ke-17 Masehi ilmu kedokteran dan pengobatan muslim telah dikaji dengan bersungguh-sungguh oleh penuntut-penuntut di Eropah dan baru dalam abad ke-19 Masihi Ilmu Kedokteran dan Pengobatan Muslim dihapuskan dari kurikulum institusi pelajaran di sekolah dunia barat.

Ahli kedokteran Muslim yang pertama adalah salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yaitu Harids ibn-Kaladah. Namun meski ada kontak yang demikian awal antara Islam dengan ilmu kedokteran, umat Arab Muslim pada awalnya tidak menekuni bidang ilmu ini dan hampir semua tabib awal adalah dari umat Kristiani, Yahudi atau Parsi. Baru setelah penerapan bahasa Arab sebagai bahasa utama ilmu kedokteran serta penetrasi ilmu ini berikut pengetahuannya ke dalam jaringan kehidupan sehari-hari maka umat Arab Muslim secara berangsur tertarik kepada subyek ini.

Pada awalnya yang menjadi sasaran utama dari para cendekiawan Muslim adalah ibukota Baghdad. Pada saat itu yang memerintah adalah Khalifah Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 – 833 dan ia menciptakan lembaga “Balai Kearifan” (House of Wisdom) yaitu suatu sentra pendidikan terkenal yang lengkap dengan perpustakaan, biro penterjemah dan sebuah sekolah. Dalam jangka waktu tujuh puluh lima tahun sejak didirikannya lembaga tersebut, banyak sekali karya Yunani dan bangsa lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan tersebut mencakup kitab-kitab utama filsafat dari Aristoteles, beberapa karya Plato, hasil telaah Euclid, Ptolemius, Archimedes serta ahli ketabiban Yunani yang kondang yaitu Hipokrates, Dioscorides dan Galen, disamping juga banyak karya ilmiah Parsi dan India.

Salah seorang ilmuwan terkemuka dari Balai Kearifan tersebut adalah Hunayn ibn-Ishaq. Hunayn belajar ilmu kedokteran di Baghdad di bawah bimbingan seorang tabib yang memperoleh pendidikannya di sekolah kedokteran Parsi termashur di Jundishapur. Ia kemudian memiliki pengaruh besar pada perkembangan ilmu kedokteran Islamiah. Di kemudian hari Hunayn ditunjuk oleh Khalifah sebagai rector dari Balai Kearifan dimana ia menangani penyeliaan semua karya penterjemahan. Disamping itu Hunayn menghasilkan banyak karya ilmu kedokteran, di antaranya adalah textbook paling awal tentang kedokteran mata (ophtalmology). Hunayn bersama para koleganya berhasil menyelesaikan kompilasi akbar dan penterjemahan ilmu pengetahuan, yang kemudian menjadi kerangka kerja dari pengetahuan modern, khususnya di bidang kedokteran, ketika hasil kinerja mereka ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan masuk ke dunia Barat melalui Sisilia dan Spanyol.

Salah seorang yang paling kondang dari para tabib Timur ini adalah al-Razi yang hidup 865 – 925 M. Ia adalah dokter terbaik di zamannya dimana ia disejajarkan dengan Hipokrates dalam orisinalitas deskripsi suatu penyakit. Razi (dalam bahasa Latin – Rhazes) dikatakan telah menulis lebih dari dua ratus kitab dengan subyek menyangkut dari kedokteran sampai kimia, theologi dan astronomi. Sekitar separuh dari kitab-kitab itu berkenaan dengan kedokteran, termasuk di antaranya yang terkenal tentang penanganan penyakit cacar. Dalam telaahnya tentang penyakit cacar itu, adalah Razi yang menjadi orang pertama yang membedakannya sebagai suatu penyakit khusus dari antara demikian banyak demam eruptif yang menjangkiti manusia. Dengan memberikan simptomatis klinikal dari penyakit cacar, ia membekali para tabib dengan pengetahuan untuk mendiagnosanya secara tepat dan memprediksi perjalanan penyakit. Ia juga memberikan saran pengobatan atas penyakit tersebut. Ia menekankan pengobatan dengan cara yang halus, diet makanan yang baik, perawatan yang teliti yang sepertinya sama seperti yang diterapkan di masa kini yaitu istirahat, lingkungan bersih dan menjaga pasien tetap nyaman. Meski Razi tidak tahu apa-apa tentang bakteria (yang baru ditemukan di awal abad ke 17), ia memiliki naluri intuitif mengenai prinsip-prinsip higiene, jauh melampaui standar abad pertengahan . Suatu ketika ia pernah ditanya tentang pemilihan lokasi dari suatu rumah sakit baru di Baghdad. Untuk menelitinya ia lalu menggantungkan irisan-irisan daging di beberapa tempat di kota tersebut. Ia menyarankan pendirian rumah sakit di lokasi yang gantungan dagingnya paling lambat membusuk.

Abad 10 dan 11 merupakan periode dari ahli-ahli medikal dengan peringkat tertinggi. Al-Majusi mendominasi bidang medical internal di Timur, sementara di belahan barat di kekhalifahan Umayyah di Andalusia muncul salah seorang sosok medical akbar yaitu Al-Fahrawi. Ia adalah salah seorang ahli bedah Muslim terbesar dan buku karangannya Kitabul Tarif yang merupakan ensiklopedia kedokteran merupakan pedoman definitive bagi para ahli bedah selama berabad-abad. Periode in i juga merupakan masa berkembangnya karya-karya akbar di bidang ophtalmologi (mata). Ali ibn Isa adalah orang pertama yang mengusulkan penggunaan bius (anastesia) dalam pembedahan.

Sosok yang paling mencolok dan merupakan dokter Muslim yang paling terkenal adalah Ibnu Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika, dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam. Kemampuannya dalam bidang pengobatan sudah begitu mumpuni di usianya yang masih belia. Bahkan ketika usianya baru tujuhbelas tahun, dia sudah berhasil menyembuhkan penguasa Bukhara, Nun Ibn Manshur. Padahal sebelumnya para pakar kesehatan kerajaan sudah menyerah, tak satu pun yang mampu mengatasi penyakit sang raja. Atas jasanya itu, Manshur bermaksud memberinya hadiah. Namun Ibnu Sina justru lebih memilih izin dari sang raja untuk diperkenankan meggunakan perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki koleksi buku-buku yang unik. Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina merantau ke Jurjan, dan bertemu dengan Abu Raihan al-Biruni, yang kala itu sangat termashur. Setelah itu dia pindah ke Rayy, dan melanjutkan perjalanan ke Hamadan, tempat yang memberinya inspirasi untuk bukunya yang terkenal, Al Qanun 11 al-Tibb.

Sampai kini ilmunya yang ditulis dalam buku "Al Qanun Fi al-Tib" tetap menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan dunia. Karena itu Ibnu Sina menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran dunia. Bukunya "Al Qanun" "diterjemahkan" menjadi "The Cannon" oleh pihak Barat, yang kemudian menjadi rujukan banyak ilmuwan abad pertengahan. Buku itu diantaranya berisi eksiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis dan dijadikan rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke-17). Kitab ini menjadi karya paling berpengaruh dalam sejarah kedokteran dunia, bahkan termasuk karya Hipokrates dan Galen . Ensiklopedia itu terdiri atas lima buku yang berisi:
  • prinsip-prinsip dasar pengobatan.
  • obat-obat sederhana.
  • kekacauan organ internal dan eksternal tubuh.
  • penyakit yang mempengaruhi tubuh secara umum.
  • komposisi obat-obatan.
Dari abad 12 sampai ke 17, kitab Kanun tersebut menjadi pegangan utama di fakultas kedokteran dari berbagai universitas Eropah. Ibnu Sina diakui sebagai yang pertama mengenali sifat menular dari penyakit paru-paru (tuberkulosa) serta mendeskripsikan beberapa penyakit kulit dan gangguan kejiwaan. Para ahli sejarah Barat menganggap Ibnu Sina sebagai pemikir akbar yang telah membawa warisan Yunani ke Barat.

Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073, saat kembali di kota yang disukainya, Hamadan. Walau ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia.  Potret Ibnu Sina, hingga kini menjadi salah satu pajangan dinding besar gedung Fakultas Kedokteran Universitas Paris.

Setelah masa Ibnu Sina, kedokteran Islam secara gradual berkembang secara regional walau masih mempertahankan kesatuan dasar. Di Irak, Syria dan negeri-negeri berdekatan, kota-kota besar seperti Kairo dan Damaskus menjadi sentra daya tarik berbagai dokter dengan dibangunnya rumah-rumah sakit baru di abad 12. Ibnu Nafis, seorang filosof, theolog dan dokter, disebut sebagai Ibnu Sina kedua, dimana ia bekerja di Kairo dan Damaskus. Ibnu Naf i s telah menjelaskan dengan tepat sirkulasi peredaran darah dalam tubuh. Hal ini merupakan temuan terpenting dalam sejarah kedokteran yang menjadikan nama Ibnu Nafis sebagai penggagas awal sebelum William Harvey (bukan Columbo atau Servitus) sebagai penemu sirkulasi darah minor.

Di negeri Maghribi, antara abad 11 dan 12 terdapat sosok Ibnu Zuhr (di Barat – Avenzoar) yang menyusun Kitab Tentang Telaah Terapi dan Diet (Taysir fi al-mudawat wa al-tadbir), yang kemudian menjadi salah satu karya akbar dari kedokteran Islam di Andalusia. Ibn Zuhr dilahirkan di Sevilla, Spanyol, pada 1091 dari keluarga para dokter. Pengetahuan tentang pengobatan selain dari kalangan keluarganya ia peroleh dari Cordoba Medical University. Setelah menyelesaikan studinya di universitas tersebut ia menetap untuk beberapa lama di Baghdad, Irak dan Kairo, Mesir. Menurut sejumlah sejarawan sains, Ibn Zuhr merupakan saintis yang berbeda dibandingkan saintis Muslim pada umumnya. Sebab biasanya saintis Muslim menguasai sejumlah bidang pengatahuan namun ia hanya memfokuskan diri pada bidang pengobatan. Tak heran jika pada masanya ia banyak membuat berbagai penemuan dan terobosan di bidang pengobatan. Misalnya, ia adalah orang pertama yang mengujikan obat-obatan pada binatang sebelum obat tersebut digunakan secara umum oleh manusia. Dia pula yang menjadi pelopor dalam melakukan pembahasan secara detail mengenai penyakit gatal-gatal oleh karenanya di kemudian hari ia disebut sebagai Bapak Parasitologi. Prestasinya terus melaju. Ia kemudian dinobatkan sebagai orang yang pertama kali memberikan pemaparan secara lengkap tentang operasi tracheotomy dan mempraktikkan direct feeding atau pemberian makan secara langsung melalui gullet di mana seorang pasien tak mampu menyalurkan makanan yang ia konsumsi melalui tenggorokannya. Sejumlah penemuan dan terobosannya ini memang dihasilkan dari keuletannya melakukan eksperimen. Seperti yang dilakukan ilmuwan lainnya, ia pun menuliskan semua pemikirannya ke dalam sebuah buku. Sayangnya, dari banyak buku yang ia tulis hanya tiga buku saja yang masih ada. Buku-bukunya itu yang pada masa selanjutnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin menjadi rujukan dokter-dokter di Timur maupun Barat hingga akhir abad kedelapanbelas.Salah satu bukunya, berjudul al-Taisir fi al-Mudawat wa al-Tadbir. Buku yang membahas tentang therapeutik dan diet ini ditulis atas permintaan Ibn Rush. Buku ini merupakan salah satu karya yang penting dalam dunia pengobatan dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan dunia pengobatan di kemudian hari, tak hanya di Timur tetapi juga di Barat. Terbukti salinan karya ini selalu terdapat di setiap perpustakaan dokter-dokter Nasrani sebagai rujukan. Ada beberapa salinan manuskrip dari buku ini, salah satunya ditemukan di Bibliotheque Nationale de Paris. Salinan ini diselesaikan di Barcelona pada 1165. Sedangkan salinan lainnya ditemukan di Bodleian Library of Oxford, namun tak diketahui angka tahun kapan salinan tersebut diselesaikan. Sedangkan salinan manuskrip berada di Biblioteca Medicea-Laurenziana, Florens, Italia. Dan salinan terakhir yang sebelumnya berada di al-Maktabe al-Abdaliya di Tunisia, hilang dan hingga kini belum diketahui jejaknya. Buku keduanya berjudul al-Iqtisad fi Islah al-Anfus wa al-Ajsad. Dalam karyanya itu ia membahas tentang hubungan jiwa dan tubuh. Ini merupakan sebuah pembahasan awal yang melibatkan psikologi di dalam ilmu kedokteran. Di dalamnya juga membahas mengenai beragam penyakit, therapeutik dan higienitas. Buku tersebut ditulis dengan format yang mudah dicerna karena Ibn Zuhr lebih memperuntukkan buku tersebut bagi masyarakat awam. Dan buku terakhir yang masih tersisa berjudul al-Aghziya yang berisi bahasan tentang obat-obatan dan pentingnya makanan yang sehat dan nutrisi bagi tubuh.Setelah Ibn Zuhr kembali dari perantauan ke tanah kelahirannya, ia menghabiskan waktunya hanya di tanah kelahirannya. Ia menjalani profesinya sebagai dokter, melakukan eksperimen dan juga menuliskan buku-buku kedokteran hingga ia menjadi dokter terkenal di seantero dunia. Ia meninggal dunia di Sevilla pada 1161.

Karya Abu Marwan Abdul al-Malik Ibn Zuhr
1.Kitab al-Taysir fil-Mudawa wal-Tadbir.
2.Kitab al-Iqtisad fi Islah al-Anfus wal-Ajsad.
3.Kitab al-Aghdiya wal-Adwiya
4.Kitab al-Sina
5.Kitab al-Jamic fil-Ashriba wal-Maajin.
6.Kitab Mukhtasar Hilat al-bur' li-Jalinus.
7.Risala fi Tafdil al-Asal alal-Sukkar.
8.Kitab al-Tadhkira fil-Dawa' al-Mushil
9.Kitab Maqala fi Ilal al-Kula and Risala fil-Baras.
Seorang dokter Spanyol bernama Ibnu Rushd (Latin – Averroes) menulis tentang kedokteran, filsafat, hukum dan astronomi. Talentanya beraneka sehingga ia tidak saja diangkat sebagai tabib utama tetapi juga hakim di Sevila dan Kordoba. Selain itu Ibnu Rushd adalah juga penterjemah terkemuka dari karyakarya Aristoteles. Dokter Spanyol keturunan Yahudi yang juga mempengaruhi cara berfikir Barat adalah Ibnu Maymum yang menjabat sebagai tabib istana dari Sultan Mesir dan Syria di abad 12. Karyanya di bidang kedokteran mencakup antara lain penafsiran karya-karya Galen dan Hipokrates, disamping karyanya sendiri tentang diet dan kebersihan personal.

Setelah jatuhnya Cordoba dan berakhirnya kekhaifahan Bani Umayah di Barat dan berakhirnya kekhalifahan Bani Abbasiyah di Timur dunia pengobatan dan kedokteran Islam mengalami kemunduran.

PENUTUP
Telah diuraikan tentang sejarah Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Islam yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam sejarah ilmu pengobatan dan kedokteran modern. Ilmuwan Muslim sejak zaman Rasulullah hingga akhir abad pertengahan, abad ke 13 telah mencapai kejayaannya dan sangat berperan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnys ilmu kedokteran dan pengobatan. Bahkan hingga akhir abad ke 19, ilmu kedokteran dan pengobatan yang berasal dari buku-buku yang dikarang oleh ilmuwan Muslim masih menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dokter di Eropa. Semoga tulisan ini dapat membangkitkan kembali semangat kita untuk mengembalikan masa keemasan dan kejayaan ilmuwan Muslim, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf , mencegah kemungkaran dan kamu sekalian percaya kepada Allah “ (QS. Ali Imran: 110).

itulah tadi posting tentang Contoh Makalah Perkembangan Ilmu Pengobatan Islam. terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog kumpulan ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. he he he. wassalam.