.

Contoh Makalah Pendidikan Multikultural dan Paket Multikultural

Pendidikan Multikultural dan Paket Multikultural

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Melanjutkan publikasi bertema seputar Pendidikan, pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan berbagi posting singkat tentang Pendidikan Multikultural & Paket Multikultural yang disusun oleh Dr.James D.Adam,SE.MBA (Dosen UKAW Kupang dan United Board Fellow at Macquarie University Sydney-Australia). Atau mungkin sobat ingin sekedar menengok posting sebelumnya, tentang "Peran Pendidikan Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa".

Pendidikan Multikultural dan Paket Multikultural

Oleh: Dr.James D.Adam,SE.MBA
(Dosen UKAW Kupang dan United Board Fellow at Macquarie University Sydney-Australia)

Pengantar
Wacana mengenai multi kultural telah memasuki babak baru. Indikasinya, diskusi mengenai multi kultural tidak saja terjadi di lingkungan tradisi akademis,  melainkan telah menjadi bagian dari wacana dan kebijakan publik. Diskursus mengenai multi kultural telah menjadi materi pendidikan, pelatihan, malahan kursus singkat yang amat praktis. Dorongan untuk mengangkat judul ini seluas mungkin ke dalam ranah diskursus disebabkan oleh anggapan bahwa pemahaman terhadap fenomena multi kultural adalah suatu keharusan, karena tidak ada satu wilayah, etnis, agama yang terbebas sama sekali dari komunikasi dan interaksi dengan etnis, agama, serta antar golongan lainnya.  Isu ini menjadi semakin menarik bersamaan dengan adanya fakta desintegrasi yang diakibatkan oleh realitas multikultur yang membawa korban manusia. Karena itu, persoalan multi budaya dan akibatnya bukan hanya menjadi kepentingan sekelompok orang, tetapi menjadi bagian dari persoalan pemerintah, negara, agama, dan malahan partai politik.

Pengertian Multi Budaya
Secara sederhana multi kultural dapat dipahami sebagai keragaman budaya dalam satu komunitas. Di dalamnya terdapat interaksi, toleransi, dan bahkan integrasi-desintegrasi. Singkat kata, multibudaya merupakan suatu fakta yang harus diterima dan diolah secara positif demi perkembangan kebudayaan. Konsep masyarakat multi budaya diperkenalkan untuk membedakan dengan pengertian masyarakat mono kultur (mono budaya). Masyarakat mono kultur adalah masyarakat  asli (archais) atau etnis yang semua anggotanya begitu baik tanpa pengecualian terikat secara paksa berdasarkan nilai-nilai yang dominan dan kuat dalam struktur masyarakatnya. Sedangkan masyarakat multi budaya adalah masyarakat yang terdiri atas etnis dan kebudayaan yang beranekaragam namun hidup berdampingan. Kehidupan komunitas  mereka tidak diatur oleh sistem budaya tunggal dan tertutup, melainkan terdiri atas sistem nilai yang beragam. Postulat terbentuknya masyarakat multi kultural tidak terlepas dari migrasi penduduk baru secara besar-besaran.

Pengertian masyarakat multi budaya dan multi kulturalisme diperkenalkan pertama kali  tahun 1964 di Winnipeg/Manitoba Kanada oleh sosiolog Charles Hobart pada Konferensi Dewan Kanada tentang Kristen dan Yesus. Kedua pengertian itu merujuk pada suatu fenomena migrasi multietnis dan masyarakat dengan lingkup ruang yang besar. Meskipun konsep masyarakat multi budaya masih problematik, secara umum masyarakat multi budaya dinyatakan sebagai sebuah kumpulan beraneka ragam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang eksis satu sama lain di atas suatu wilayah. Misalnya Hoffman-Nowotny menekankan dalam suatu masyarakat multi budaya terdapat dua atau lebih kelompok masyarakat yang terpisah dari kelompok mayoritas. Sekalipun demikian, diantara mereka lahir kesadaran akan perasaan kebersamaan dan identitas menyeluruh kehidupan bersama untuk membentuk perasaan bersama akan ketentraman dan keamanan.

Fenomena Multi Kultural
Dalam suara yang serempak beberapa cendekiawan atau pengamat berpendapat bahwa di satu sisi multibudaya menjadi sumber perekat keragaman etnis, tetapi secara bersamaan keberagaman ini juga merupakan potensi konflik yang sewaktu-waktu manifest saat semangat primordialisme tidak mampu dikelola dan dikendalikan secara bijaksana. Dalam lintasan sejarahnya, konflik yang ditimbulkan karena kondisi faktual multi budaya selalu beragam antar satu daerah dengan daerah lain dan dapat merembes kedalam proses politik Indonesia(contoh pilkada dibeberapa daerah). Akan tetapi, bersamaan dengan terjadinya kerusuhan di berbagai daerah di nusantara, tingkat migrasi ke daerah yang relatif aman menjadi semakin tinggi, sehingga sangat beralasan bila fenomena ini perlu diantisipasi secara positif. Pada titik inilah diperlukan strategi pemberdayaan masyarakat dalam dinamika multikultural.

Satu alasan yang sering dikemukakan sehubungan dengan ketiadaan konflik horizontal yang diakibatkan oleh multibudaya adalah kadar toleransi yang tinggi yang dianut oleh masyarakat. Di samping itu, adanya ikatan adat yang begitu kuat,sehingga konflik horisontal bisa diantisipasi sedini mungkin. Bila ditelusuri lebih jauh jawaban ini, maka akan didapatkan jawaban tentang mengapa kadar toleransi orang dalam etnis tertentu begitu kuat?.

Spiritualitas yang dianut masyarakat etnis tertentu mengakomodasikan perbedaan dan berbarengan dengan itu menciptakan visi kesejahteraan umat manusia secara bersama. Akar pandangan ini terdapat dalam semangat toleransi yang tinggi secara implisit dalam perilaku beragama, terutama tentang hubungan manusia dengan Tuhan.  Radhakrishnan dalam buku Indian Philosophy menyebutkan bahwa terdapat keselarasan yang seimbang antara Tuhan dan manusia dan manusia adalah ciptaan Tuhan. Dunia seluruhnya tercipta karena pengorbanan Tuhan. Didalam uraian itu seluruh dunia digambarkan sebagai ada yang tunggal dengan keleluasaan dan keagunggan tak terbandingkan, dihidupkan oleh satu roh dan segala bentuk kehidupan terangkul dalam substansinya. Dengan nada dasar yang sama Harold Coward mengajukan postulat yang bersifat historik dan metafisik dalam menujukkan fenomena pluralisme.

Paham spiritualitas merupakan perkembangan lebih lanjut dari perkembangan multi budaya di Indonesia. Spiritualitas mengalami integrasi di saat masuknya kebudayaan lain sejak era Majapahit. Pada periode inilah bisa dikatakan mengalami peralihan dari masyarakat mono culture menjadi multi-culture. Artinya integrasi yang menjadikan multi budaya adalah terjadinya integrasi yang berada pada wilayah paling dasar dalam diri manusia yaitu spiritualitas.

Pendidikan Multi Kultural
Fenomena multi kultural di Indonesia telah cukup memberikan gambaran bahwa untuk merumuskan sebuah pola tindakan dan pendidikan multi kultural, pertama-tama perlu kesadaran untuk memandang dan memperlakukan orang lain seperti layaknya memperlakukan diri sendiri. Malahan dalam paham Advaita Vedanta (monisme) diterangkan bahwa manusia secara esensial sama, bukan secara fenomenan sama. Artinya, Advaita Vedanta sangat menyadari akan adanya perbedaan dan pluralisme. Karena itu perlu adanya kemauan bersama sebagai bagian dari komunitas multi kultural untuk mengakutualisasikannya dalam bentuk praksis dan tindakan nyata.

Paket Multi kultural
Jika kita telah memiliki kemauan, kesadaran, dan kesungguhan untuk hidup bersama sebagai bagian dari komunitas multi kultural, maka haruslah kita berpikir bahwa dengan komunitas multi kultural kita akan menggapai pembaharuan. Tulisan ini dibuat sebagai suatu refleksi terhadap pilkada di Kota Kupang dimana semua paket yang ada, saya sebut “paket multi kultural” terkenal dengan istilah2 seperti Djibel, Yonex,Jeriko,Dan-Dan,dan Alfa. Inilah suatu langkah awal pembaharuan dan ini pula menunjukan bahwa multi kurtural telah mendapat tempat yang benar dan tepat yang dipandang secara positif. Dalam era digitalization sekarang ini tindakan mono kultural sudah out of date sebab jika primordalisme dan religiouslisme masih digunakan maka bertanda tidak akan ada pembaharuan. Saya amat yakin dengan proposisi  George Homman yang menyatakan “semakin tinggi frekuensi interaksi, semakin tinggi peluang suka menyukai”. Artinya dengan semangat multi kultural dalam pilkada ini peluang suka menyukai akan semakin positif dan kuat walaupun nanti ada paket tertentu yang belum beruntung tetapi memiliki kemauan dan iteraksi secara bersama-sama untuk menuju pembaharuan. Mari kita membawa kota Kupang bukan saja dengan KASIH tapi juga PEMBAHARUAN.

Itulah tadi update singkat mengenai Contoh Makalah Pendidikan Multikultural. Terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam.