.

Humor, Cerita dan Kisah Sufi Nasrudin Hoja Bag 1

Kisah dan Humor Sufi Nasrudin Hoja Bag 1

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini. Melanjutkan publikasi bertema seputar Humor, Cerita dan Kisah Sufi. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan berbagi posting singkat tentang Kisah Nasrudin Hoja. Atau mungkin sobat ingin sekedar menengok posting sebelumnya, tentang "Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa".

Humor Cerita dan Kisah Sufi Nasrudin Hoja bag 1

Biografi Singkat Nasrudin Hoja

Nasruddin atau Nasreddin (Turki: Nasreddin Hoca, Turki Ottoman:نصر الدين خواجه, Persia:خواجه نصرالدین, Pashtun:ملا نصرالدین, Arab: نصرالدین جحا‎ , ALA-LC: Naṣraddīn Juḥā, Urdu:ملا نصرالدین, Uzbek:Nosiriddin Xo'ja, Nasreddīn Hodja, Bosnia: Nasrudin Hodža) adalah seorang sufi satirikal dari Dinasti Seljuk, dipercaya hidup dan meninggal pada abad ke-13 di Akshehir, dekat Konya, ibukota dari Kesultanan Rûm Seljuk, sekarang di Turki. Ia dianggap orang banyak sebagai filsuf dan orang bijak, dikenal akan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Ia muncul dalam ribuan cerita, terkadang jenaka dan pintar, terkadang bijak, tetapi sering juga bersikap bodoh atau menjadi bahan lelucon. Setiap kisah Nasruddin biasanya mengandung humor cerdas dan mendidik.

Berbagai masyarakat mengklaim Nasruddin ke dalam etnis mereka. Beberapa sumber menyebutkan tempat kelahirannya di Desa Hortu di Sivrihisar, Provinsi Eskişehir, sekarang Turki, pada abad ke-13. Ia kemudian tinggal di Akşehir, dan kemudian di Konya saat pemerintahan Dinasti Seljuk. Ia meninggal di tahun 1275/6 atau 1285/6 M. Makam Nasruddin dipercaya berada di Akşehir.

Nasruddin wafat saat berumur sekitar 80 tahun. Ia dimakamkan di Aksehir, Konya. Makam marmernya dinaungi sebuah kubah kecil yang disangga enam pilar. Di makamnya terdapat tulisan: "Di sini dimakamkan Nasruddin, meninggal pada tahun 386". Sebenarnya Nasruddin meninggal pada tahun 683 Hijriyah (sekitar 1284-1285 M), tulisan di makamnya dimaksudkan untuk lelucon dengan cara ditulis terbalik.

Pada pintu masuk ke dalam kubah makam (diantara dua pilar penyangga), dibangun sebuah gerbang besi yang tinggi dan digembok dengan kokoh. Tidak ada orang yang bisa sembarangan masuk melalui gerbang itu. Namun, kelima sisi makam yang lain sama sekali tidak berpagar dan dapat dimasuki dengan bebas. Dalam kematiannya, Nasruddin masih ingin mengingatkan orang untuk memiliki rasa humor dan tidak berpandangan kaku. (selengkapnya bisa sobat lihat di Wikipedia)

Daftar isi cerita (klik list untuk melompati cerita)
  1. Keadilan dan Kelaliman
  2. Keledai Membaca
  3. Itik Berkaki Satu
  4. Gelar Timur Lenk
  5. Tempat Timur Lenk di Akhirat
  6. Harga Timur Lenk di Dunia
  7. Nasrudin Pemungut Pajak
  8. Nasrudin Memanah

Keadilan dan Kelaliman

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

"Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami."

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

================================

Keledai Membaca

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."

Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"

Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."

"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"

Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"

================================

Itik Berkaki Satu

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?"

"Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam."

Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.

"Lihatlah," kata Nasrudin puas, "Di sini itik hanya berkaki satu."

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. "Subhanallah," katanya, "Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga."

================================

Gelar Timur Lenk

Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.

"Nasrudin," katanya suatu hari, "Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?"

Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Nasrudin menemukan jawabannya. "Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja."

* "Aku berlindung kepada Allah (darinya)"

================================

Tempat Timur Lenk di Akhirat

Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

"Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?"

Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan 'semudah' ini.

"Raja penakluk seperti Anda," jawab Nasrudin, "Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah."

Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. "Betulkah itu, Nasrudin ?"

"Tentu," kata Nasrudin dengan mantap. "Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir'aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan."

Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.

================================

Harga Timur Lenk di Dunia

Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

"Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?"

Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.

"Saya taksir, sekitar 100 dinar saja"

Timur Lenk membentak Nasrudin, "Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar."

"Tepat sekali," kata Nasrudin. "Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."

================================

Nasrudin Pemungut Pajak

Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan. Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.

Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.

Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.

"Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?" bentak Timur Lenk. "Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka," jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.

"Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?" Timur Lenk lebih marah lagi. Nasrudin menjawab takzim, "Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku pindahkan pada roti hangat ini."

================================

Nasrudin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

================================
sumber: Pustaka Online Media ISNET (media.isnet.org)

Itulah tadi update singkat mengenai Cerita Sufi Nasrudin Hoja. Terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam.